Jumat, 19 Jun 2026 15:59 WIB

Jordan di Tengah Vivere Pericoloso: Ketika Politikus Masuk Galeri, dan Lukisan Tak Meminta Proyek

Ir. Jordan M. Bataragoa, M.Sc., anggota DPRD Jawa Timur dari PDI Perjuangan, hadir di Galeri Dewan Kesenian Surabaya. INPhoto/Meimura
Ir. Jordan M. Bataragoa, M.Sc., anggota DPRD Jawa Timur dari PDI Perjuangan, hadir di Galeri Dewan Kesenian Surabaya. INPhoto/Meimura

Oleh: Meimura

ADA peristiwa yang kadang lebih menarik daripada rapat paripurna. Bukan karena rapat itu tidak penting, melainkan karena kehidupan rakyat sering berlangsung di tempat-tempat yang tak memiliki mikrofon, palu sidang, ataupun pendingin ruangan yang terlalu dingin. 

Salah satunya terjadi ketika Ir. Jordan M. Bataragoa, M.Sc., anggota DPRD Jawa Timur dari PDI Perjuangan, hadir di Galeri Dewan Kesenian Surabaya, tempat berlangsungnya pameran Vivere Pericoloso.

Tentu kehadiran itu bukan karena beliau tersesat saat mencari ruang komisi. Galeri seni bukanlah kantor pelayanan satu atap yang bisa dimasuki karena salah belok. Ada sesuatu yang membuat langkah seorang politisi bergerak menuju ruang yang dipenuhi kanvas, cat, gagasan, dan mungkin juga kegelisahan.

Pameran Vivere Pericoloso sendiri, dalam bahasa sederhana, dapat dimaknai sebagai hidup dalam keadaan yang tidak selalu nyaman. Sebuah situasi yang sesungguhnya akrab bagi rakyat kecil, seniman, pedagang kaki lima, buruh harian, dan mungkin juga anggota dewan yang tengah menghadapi jadwal reses yang padat.

Jordan dikenal sebagai sosok yang kerap hadir di tengah masyarakat. Wajahnya yang mudah tersenyum membuat banyak orang lebih dahulu mengenal ekspresinya daripada jabatan politiknya. 

Dalam ilmu komunikasi politik, hal ini disebut symbolic proximity, yakni kedekatan simbolik antara wakil rakyat dan masyarakat yang diwakilinya. Dalam bahasa warung kopi, istilahnya lebih sederhana: ora sungkan nyedaki wong.

Sebagai alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Jordan dibentuk oleh tradisi berpikir teknokratik. Namun menariknya, perjalanan hidup membawanya tidak hanya bergelut dengan angka, infrastruktur, dan regulasi, tetapi juga bersentuhan dengan ruang-ruang kebudayaan yang sering kali tidak menghasilkan laporan keuntungan tahunan.

Di sinilah letak keunikan dunia seni.

Jika proyek pembangunan memerlukan studi kelayakan, maka lukisan sering lahir dari sesuatu yang justru sulit diukur kelayakannya. Seorang perupa dapat berbulan-bulan bergulat dengan kanvas tanpa jaminan bahwa karyanya akan terjual. 

Bahkan tak jarang yang datang ke pameran lebih banyak teman sendiri daripada kolektor. Namun mereka tetap berkarya.

Dalam perspektif akademis, inilah yang disebut sebagai modal kebudayaan (cultural capital). Sebuah investasi sosial yang tidak selalu menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi melahirkan kesadaran, identitas, dan daya kritis masyarakat.

Karena itu, seniman merupakan kelompok yang unik. Mereka jarang mendatangi kantor pemerintah untuk meminta pembangunan jalan beton sepanjang dua kilometer. 

Mereka juga jarang mengusulkan lampu penerangan kampung melalui proposal berjilid-jilid. Yang mereka perjuangkan umumnya lebih abstrak: ruang berekspresi, kebebasan berkarya, penghormatan terhadap kebudayaan, serta hak untuk berbeda pendapat.

Masalahnya, hal-hal yang abstrak itulah yang sering menjadi fondasi peradaban.

Bangsa yang kehilangan ruang seni mungkin tetap memiliki gedung. Tetap memiliki jalan raya. Tetap memiliki lampu kota. Namun perlahan kehilangan kemampuan untuk bercermin.

Karena itu, ketika seorang anggota DPRD datang mengapresiasi karya sepuluh perupa di Galeri Dewan Kesenian Surabaya, yang menarik sesungguhnya bukan sekadar kunjungannya. Melainkan pesan simbolik yang dibawanya: bahwa kebudayaan masih dianggap penting untuk didengar.

Apalagi dalam berbagai perdebatan publik, kerap muncul situasi ketika kebijakan pemerintah dipersepsikan berbeda oleh sebagian masyarakat, termasuk kalangan seniman. Dalam negara demokrasi, perbedaan persepsi semacam itu bukanlah keanehan. Justru menjadi bagian dari proses dialog sosial.

Di titik inilah seni bekerja.

Lukisan tidak berteriak melalui pengeras suara. Ia hanya diam di dinding. Namun kadang, diamnya lebih nyaring daripada pidato selama dua jam.

Karena itu, kehadiran Jordan dapat dibaca sebagai bentuk penghormatan terhadap ruang dialog kebudayaan. Bukan berarti harus setuju dengan semua tafsir yang lahir dari karya-karya yang dipamerkan. Sebab tugas seni memang bukan menyenangkan semua orang. Tugas seni adalah membuat orang berpikir.

Dan berpikir, sebagaimana kita tahu, sering kali merupakan pekerjaan yang jauh lebih berat daripada sekadar menyetujui.

Mungkin itulah sebabnya sepuluh perupa dalam Vivere Pericoloso tetap berkarya. Mereka tidak sedang membangun jembatan beton. Mereka sedang membangun jembatan kesadaran.

Sedangkan Jordan, setidaknya pada hari itu, tampak memilih berjalan di atas jembatan tersebut.

Sebuah pilihan yang patut diapresiasi.

Karena di tengah dunia yang semakin ramai oleh angka-angka statistik, bangsa ini tetap memerlukan orang-orang yang bersedia berhenti sejenak di depan sebuah lukisan, lalu bertanya:

"Apa sebenarnya yang sedang dirasakan rakyat hari ini?"

Pertanyaan sederhana itu sering kali menjadi awal dari lahirnya kebijakan yang lebih manusiawi.

Editor : Alim Kusuma