Selasa, 16 Jun 2026 15:02 WIB

Cacak-e Arek Suroboyo di Vivere Pericoloso

Oleh: Meimura

PADA 16 Juni 2026, suasana di Galeri Dewan Kesenian Surabaya mendadak berubah. Bukan karena listrik padam. Bukan pula karena ada pelukis yang tiba-tiba menemukan warna baru yang belum pernah dikenal dunia seni rupa.

Perubahan itu terjadi karena hadirnya seorang tamu yang akrab dijuluki masyarakat sebagai Cacak-e Arek Suroboyo.

Namanya: Cak Armuji.

Sebagai Wakil Wali Kota Surabaya, jabatan beliau memang nomor dua. Namun dalam urusan menyapa dan menjumpai warga, banyak yang berpendapat beliau kerap berada di posisi pertama. Tak sedikit masyarakat yang merasa lebih mudah bertemu Cak Armuji daripada menghubungi layanan pelanggan perusahaan telekomunikasi.

Maka ketika beliau hadir di arena pameran lukisan Vivere Pericoloso di Galeri Dewan Kesenian Surabaya, para seniman yang sehari-hari berkegiatan di DKS tidak melihat seorang pejabat sedang melakukan kunjungan resmi. Mereka melihat seorang kawan lama yang sedang mampir ke rumahnya sendiri.

Apalagi pameran kali ini diselenggarakan dalam semangat Bulan Bung Karno.

Di sinilah letak menariknya.

Bung Karno adalah tokoh yang meyakini bahwa politik tanpa kebudayaan akan menjadi kering. Sebaliknya, kebudayaan tanpa keberpihakan kepada rakyat hanya akan menjadi hiasan dinding semata.

Ketika para pelukis sedang mengolah wajah, gagasan, dan jejak pemikiran Sang Proklamator di atas kanvas, tiba-tiba hadir seorang pemimpin kota yang dikenal dekat dengan wong cilik.

Perjumpaan itu terasa simbolik.

Seakan-akan Bung Karno turun dari kanvas untuk menyapa rakyatnya.

Atau mungkin sebaliknya.

Rakyatlah yang sedang masuk ke dalam lukisan.

Para pelukis tentu menghadirkan beragam tafsir. Ada yang memandang Bung Karno sebagai negarawan. Ada yang melihatnya sebagai orator ulung. Ada pula yang mengenangnya sebagai pemikir yang mewariskan gagasan tentang bangsa yang berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Namun berbagai tafsir itu seolah menemukan konteksnya ketika Cak Armuji berdiri di tengah karya-karya tersebut.

Beliau melihat.

Beliau mengamati.

Beliau berbincang.

Lalu keluar sebuah respons sederhana yang barangkali lebih kuat daripada pidato panjang berlembar-lembar.

"Hmmmmm..."

Hanya satu kata.

Tetapi kadang-kadang sejarah memang bergerak melalui kalimat yang sederhana.

Akademisi mungkin akan menjelaskan bahwa apresiasi merupakan bentuk pengakuan simbolik terhadap kerja kebudayaan. Sosiolog akan menyebut kehadiran pejabat publik sebagai legitimasi sosial bagi ruang kesenian. Antropolog mungkin melihatnya sebagai praktik perjumpaan antara negara dan ekspresi budaya warga.

Orang Surabaya memiliki istilah yang jauh lebih sederhana:

"Senimane dirungokno."

Senimannya didengarkan.

Dan itu penting.

Sebab selama ini seniman sering diperlakukan seperti kipas angin tua: dicari ketika cuaca panas, lalu disimpan ketika musim hujan datang. Mereka diminta meramaikan kota saat perayaan, tetapi kerap dilupakan ketika arah kebudayaan kota sedang dirumuskan.

Karena itu, kehadiran seorang wakil wali kota di ruang pamer bukan sekadar bahan dokumentasi media sosial.

Ia adalah sebuah pesan.

Bahwa galeri bukan gudang lukisan.

Bahwa pelukis bukan sekadar penghias acara.

Bahwa kebudayaan bukan pelengkap pembangunan.

Sebaliknya, kebudayaan adalah jantung yang membuat sebuah kota tetap hidup.

Mungkin itulah sebabnya para seniman tampak sumringah ketika Cak Armuji datang.

Dua jempol yang terangkat seakan menjadi stempel tidak resmi dari rakyat Surabaya.

Sebab sejatinya Cak Armuji tidak datang membawa anggaran.

Tidak pula membawa proyek.

Yang beliau bawa adalah sesuatu yang sering kali lebih berharga daripada keduanya.

Perhatian.

Dalam dunia kesenian, perhatian adalah pupuk.

Tanpanya, karya bisa layu.

Dengannya, gagasan dapat tumbuh.

Dan pada sore itu, di tengah kanvas-kanvas Bung Karno yang sedang berbicara kepada zamannya, hadir pula seorang Cacak-e Arek Suroboyo yang memberi energi batin kepada para seniman.

Maka jika ada yang bertanya bagaimana suasana pameran hari itu, jawabannya sederhana:

Bung Karno hadir di dinding.

Pelukis berdiri di depan kanvas.

Rakyat hidup di dalam gagasan.

Dan Cak Armuji berada di tengah-tengah semuanya.

Sampean ancen ngene, Cak.

Jempol loro munggah.

Kuat.

Besut Jogo Regol.

 

Editor : Alim Kusuma