Sabtu, 13 Jun 2026 18:22 WIB

Meimura Bawa Besutan ke Panggung Internasional, Suarakan Nasib Ludruk

Undangan tampil diterima pegiat budaya Meimura yang selama beberapa tahun terakhir aktif mengenalkan Besutan melalui program "Jelajah Deso Milangkori". INPhoto/Dok Pribadi
Undangan tampil diterima pegiat budaya Meimura yang selama beberapa tahun terakhir aktif mengenalkan Besutan melalui program "Jelajah Deso Milangkori". INPhoto/Dok Pribadi

SURABAYA, iNFONews.ID - Kesenian Besutan, yang dikenal sebagai cikal bakal ludruk, bakal tampil di Seminar dan Festival Internasional Tradisi Lisan (LISAN XIII) di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada 5-8 Agustus 2026. Kehadiran kesenian khas Jawa Timur tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kembali warisan budaya daerah di hadapan peserta dari berbagai wilayah dan negara.

Undangan tampil diterima pegiat budaya Meimura yang selama beberapa tahun terakhir aktif mengenalkan Besutan melalui program "Jelajah Deso Milangkori". Aktivitas tersebut rupanya menarik perhatian Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) hingga akhirnya Besutan masuk dalam agenda festival internasional tersebut.

"Bagi saya ini sebuah kehormatan. Besutan mendapat ruang tampil dalam forum yang mempertemukan pegiat tradisi lisan dari berbagai daerah bahkan mancanegara," kata Meimura.

Meski mendapat fasilitas mengikuti seminar dan festival, biaya perjalanan serta akomodasi selama berada di Jakarta masih harus ditanggung secara mandiri.

Keikutsertaan Besutan dalam LISAN XIII bukan sekadar penampilan seni pertunjukan. Ada misi yang lebih besar, yakni mengingatkan publik terhadap kondisi ludruk yang kian terpinggirkan di tengah perubahan pola hiburan masyarakat.

Sebagai bentuk pertunjukan yang lebih sederhana, Besutan dinilai memiliki peluang lebih besar menjangkau masyarakat. Pertunjukan ini tidak membutuhkan panggung besar maupun banyak pemain sehingga lebih mudah dibawa ke sekolah, kampung, komunitas hingga ruang publik lainnya.

Wakil Ketua ATL Jawa Timur, Henri Nurcahyo, menilai forum internasional tersebut menjadi momentum penting untuk memperluas perhatian terhadap masa depan ludruk.

"Besutan bisa menjadi pintu masuk untuk menjaga nyala ludruk tetap hidup. Melalui bentuk yang lebih fleksibel, nilai-nilai yang selama ini hidup dalam ludruk masih dapat diwariskan kepada generasi muda," ujarnya.

Henri juga dijadwalkan menjadi pemateri dalam seminar dengan makalah berjudul Menyalakan Api Ludruk Melalui Besutan. Tulisan tersebut membahas strategi pelestarian ludruk melalui penguatan seni Besutan sebagai media ekspresi budaya yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.

LISAN XIII merupakan agenda dua tahunan yang diselenggarakan Asosiasi Tradisi Lisan. Tahun ini, kegiatan mengusung tema Peranan Tradisi Lisan sebagai Warisan Budaya Takbenda dalam Merawat Kemanusiaan, Alam dan Kehidupan dari Masa Lalu ke Masa Depan.

Peserta yang terlibat tidak hanya berasal dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga dari sejumlah negara seperti Singapura dan India. Kehadiran Besutan di forum tersebut menjadi kesempatan memperkenalkan salah satu kekayaan budaya Jawa Timur kepada khalayak yang lebih luas.

ATL sendiri merupakan organisasi pemerhati tradisi lisan yang telah memperoleh akreditasi UNESCO sejak 2011. Sejak berdiri pada 1993, organisasi tersebut aktif melakukan penelitian, pendampingan masyarakat, pendidikan kebudayaan, hingga berbagai program pelestarian warisan budaya takbenda di Indonesia.

Bagi pegiat budaya Jawa Timur, tampilnya Besutan di Jakarta bukan sekadar memenuhi undangan festival. Momentum tersebut menjadi upaya membawa kembali perhatian publik pada kesenian rakyat yang pernah berjaya dan kini membutuhkan ruang baru untuk tetap bertahan di tengah perubahan zaman.

Editor : Alim Kusuma