Kamis, 23 Jul 2026 18:56 WIB

Delapan Hari Lakukan AKSA, Kelurahan Simokerto Siapkan Strategi Selamatkan Kali Tebu Melalui Kampung MOZAIK

Keterlibatan masyarakat menjadi modal penting dalam mewujudkan kawasan yang lebih bersih (IN/PHOTO: IFFAN)
Keterlibatan masyarakat menjadi modal penting dalam mewujudkan kawasan yang lebih bersih (IN/PHOTO: IFFAN)

SURABAYA, INFONews.ID – Kegiatan Analisis Karakteristik Sampah (AKSA) yang dilaksanakan di kawasan RT 04/RW 13, Kelurahan Simokerto, Kecamatan Simokerto, Kota Surabaya resmi berakhir pada hari Kamis (23/7/2026). Selama delapan hari, sejak 16 hingga 23 Juli 2026, sebanyak 50 rumah tangga berpartisipasi dalam memilah dan mengumpulkan sampah rumah tangga untuk dianalisis komposisi dan karakteristiknya.

AKSA merupakan bagian dari Program Kampung MOZAIK (Mission for Zero Plastic Leakage) yang diinisiasi ECOTON bersama para mitra untuk mengurangi kebocoran sampah plastik ke sungai, khususnya di kawasan Kali Tebu.

Melalui kegiatan ini, setiap rumah tangga diminta memilah sampah berdasarkan jenisnya, seperti sampah organik, plastik, kertas, logam, kaca, tekstil, popok sekali pakai, serta residu. Seluruh sampah kemudian ditimbang dan dicatat setiap hari untuk memperoleh data timbulan sampah rumah tangga dan mengetahui potensi pengurangan sampah dari sumber.

Tonis Afrianto Waste Prevention Manager ECOTON mengatakan bahwa AKSA dilakukan untuk mendukung data awal pengelolaan sampah kawasan.

"Data yang diperoleh dari AKSA akan menjadi dasar dalam menyusun strategi pengelolaan sampah yang lebih efektif di tingkat kampung. Dengan mengetahui komposisi sampah yang dihasilkan masyarakat, intervensi yang dilakukan dapat lebih tepat sasaran, mulai dari pengomposan sampah organik, pemilahan daur ulang, hingga pengurangan penggunaan kemasan sekali pakai yang memicu timbulan sampah residu," terang Tonis.

Dari total 354,58 kilogram yang terkumpul, sampah organik menjadi komponen terbesar dengan persentase 45,5 persen. Sampah ini umumnya berupa sisa makanan, kulit buah, sayuran, dan material nabati lainnya. Sementara itu, sebanyak 34,5% merupakan sampah yang masih berpotensi didaur ulang, 13,2�rupa popok sekali pakai, dan 6,8% merupakan sampah residu. Temuan ini menunjukkan bahwa lebih dari tiga perempat sampah rumah tangga masih dapat dikelola melalui pemilahan, pengomposan, dan daur ulang, sehingga volume sampah yang berpotensi bocor ke Kali Tebu dapat ditekan secara signifikan apabila dikelola sejak dari sumber.

Ditemui ditempat yang sama Lurah Simokerto Arief Insani menyampaikan bahwa melalui AKSA bisa mengetahui jenis sampah yang dihasilkan oleh masyarakat dan apa yang perlu dikurangi.

“semoga tahapan menuju kampung MOZAIK seperti AKSA pilah sampah ini bisa direplikasi oleh kawasan RT/RW sekelurahan Simokerto sehingga bisa menciptakan kali tebu yang lestari dan asri sehingga layak dinikmati kembali oleh masyarakat dan bebas dari kebocoran sampah plastik ke sungai”, jelasnya.

Mujiatiningsih faskel kelurahan Simokerto yang sekaligus perwakilan ketua RW 13 mengiformasikan bahwa aksi pilah sampah di wilayahnya akan terus dilakukan.

“Setelah AKSA berakhir bukan berarti kegiatan pilah sampah berakhir tapi akan terus berlangsung salah satunya melakukan pengangkutan terpilah dan pemanfaatan sampah organic menjadi kompos melalui sumur kompos yang ada diarea RW.13, pilah sampah mempermudah masyarakat mengelolah sampah sampai tuntas sejak dari sumber untuk mewujudkan kali tebu lestari," tegasnya.

Selain menghitung timbulan dan komposisi sampah, hasil AKSA juga akan digunakan sebagai dasar pelaksanaan brand audit, yaitu identifikasi merek-merek kemasan yang paling banyak ditemukan dalam sampah rumah tangga. Informasi tersebut diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi produsen sekaligus memperkuat advokasi kebijakan pengurangan plastik sekali pakai.

Program Kampung MOZAIK tidak hanya berfokus pada pengumpulan data, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui edukasi pemilahan sampah, pengomposan, penguatan sistem daur ulang, serta pengembangan solusi guna mencegah sampah masuk ke badan air.

ECOTON menyampaikan apresiasi kepada seluruh warga Simokerto yang telah berpartisipasi aktif selama delapan hari pelaksanaan AKSA. Keterlibatan masyarakat menjadi modal penting dalam mewujudkan kawasan yang lebih bersih, sehat, dan bebas dari kebocoran sampah plastik ke kali Tebu. Selanjutnya data ini akan disampaikan dalam forum resmi yaitu konsultasi public yang melibatkan multi steak holder seperti DLH, Kelurahan, Kader KSH, RT/RW, Toko Setempat untuk tinda lanjut pengelolaan sampah ke depannya. (*)

Editor : Tudji Martudji