Senin, 27 Jul 2026 01:11 WIB

Kenapa Mall di Surabaya Ramai-Ramai Pasang Pagar Tinggi? Ini Kata Dosen Arsitektur UK Petra

Pakar arsitektur UK Petra soroti tren pagar tinggi di mall Surabaya yang dinilai ciptakan kesan eksklusif dan tawarkan konsep soft border sebagai solusi. INPhoto/UK Petra
Pakar arsitektur UK Petra soroti tren pagar tinggi di mall Surabaya yang dinilai ciptakan kesan eksklusif dan tawarkan konsep soft border sebagai solusi. INPhoto/UK Petra

SURABAYA, INFONEWS.ID - Pagar besi tinggi kini jadi pemandangan baru di beberapa mall Surabaya. Bukan cuma soal keamanan, fenomena ini ternyata menyimpan sisi lain yang jarang disorot, dampaknya terhadap wajah kota.

Dosen Arsitektur Universitas Kristen (UK) Petra, Rully Damayanti, angkat bicara soal tren ini. Menurutnya, pemasangan pagar di area luar mall memang lumrah dilakukan. Alasannya beragam, mulai dari keamanan, pengaturan alur pengunjung, sampai menyesuaikan pengembangan jalan di sekitar gedung.

Tapi ada satu hal yang sering luput dari perhatian: keselarasan desain. "Dalam arsitektur, biasanya ada pengulangan elemen visual seperti material, warna, atau pola bentuk dari bangunan utama ke rancangan pagar agar menciptakan kesatuan desain," ujar Rully.

Tanpa benang merah itu, kata dia, pagar bisa merusak estetika gedung secara keseluruhan. Bangunan jadi terlihat tidak proporsional, seolah pagar dan mall adalah dua elemen yang berdiri sendiri-sendiri.

Rully, yang juga menjabat Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UK Petra, menegaskan bahwa persoalan ini tidak berhenti di estetika saja. Pagar yang terlalu tinggi, jelasnya, bisa membatasi pandangan warga dari luar. Efeknya, bangunan publik seperti mall justru terkesan eksklusif dan tertutup.

Padahal, tegasnya, mall punya fungsi sosial. Ruang ini seharusnya tetap terasa terbuka dan bisa diakses semua kalangan.

Fenomena ini, menurut Rully, masuk dalam kategori yang di dunia arsitektur disebut arsitektur defensif. Konsep ini menitikberatkan pada pencegahan kejahatan dan vandalisme lewat desain ruang. Elemennya bisa berupa pagar, dinding, pengaturan pencahayaan, sampai jalur akses dan sirkulasi yang dibuat seketat mungkin.

Rully lantas memberi gambaran lebih detail soal bagaimana strategi defensif ini biasa diterapkan.

"Implementasinya dapat berupa elemen fisik pada ruang publik, misalnya pagar tinggi dengan bilah horizontal atau ujung tajam yang mengarah ke luar untuk menghambat intrusi," rincinya.

Tak cuma pagar, strategi ini juga bisa muncul lewat penataan ruang di sekitar bangunan. Salah satu contohnya, kolam air yang sengaja dibuat mengelilingi gedung sebagai penghalang alami.

"Dalam konteks sejarah, beberapa bangunan pertahanan bahkan dilengkapi dengan parit berair yang diisi hewan berbahaya untuk meningkatkan fungsi perlindungannya," urai Rully.

Lalu, adakah jalan tengah antara keamanan dan keterbukaan ruang publik?

Rully menawarkan konsep bernama soft border, atau pembatas halus. Konsepnya sederhana: memakai elemen yang lebih ramah seperti pagar tanaman, struktur transparan, atau perpaduan vegetasi sebagai pembatas.

"Pilihan soft border atau pagar dengan batas ketinggian yang terukur, misal sekitar 80 cm tetap dapat memenuhi fungsi pembatas area tanpa memutus koneksi visual warga," pungkasnya.

Dengan begitu, kata dia, fungsi keamanan tetap jalan. Tapi kesan terbuka dari fasilitas publik tidak ikut hilang.

Terlepas dari itu, Rully menyebut pandangannya ini sebagai wawasan komparatif dari sudut pandang arsitektur dan tata kota. Pilihan akhir soal bentuk pagar mall Surabaya, tegasnya, tetap kembali ke kebutuhan dan kebijakan masing-masing pengelola kawasan.

Editor : Alim Kusuma