Selasa, 08 Sep 2026 14:06 WIB

LPG Sulit Didapat, ITS Sulap Limbah Papua Barat Jadi Energi

Proses pembuatan saluran kotoran ternak untuk biogas oleh masyarakat di Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat. INPhoto/Humas ITS
Proses pembuatan saluran kotoran ternak untuk biogas oleh masyarakat di Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat. INPhoto/Humas ITS

SURABAYA, INFONEWS.ID - Keterbatasan akses liquefied petroleum gas (LPG) mendorong Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mencari sumber energi dari bahan yang selama ini justru dianggap limbah.

Melalui Tim Ekspedisi Patriot (TEP), ITS mengembangkan sistem biogas komunal di Kawasan Transmigrasi Momi Waren, Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat. Kotoran ternak dan limbah pertanian diolah menjadi biogas untuk kebutuhan energi masyarakat, sementara residunya dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Persoalan yang hendak dijawab bukan sekadar pengelolaan sampah organik. Di kawasan tersebut, masyarakat juga menghadapi keterbatasan akses terhadap LPG yang menjadi salah satu sumber energi untuk kebutuhan sehari-hari.

“Jadi, kami ingin menyelesaikan permasalahan tersebut dengan mengubah limbah menjadi sumber energi dan pupuk,” kata Ketua TEP ITS, Dr Ir Arief Abdurrakhman ST MT.

Arief mengatakan Momi Waren memiliki potensi bahan baku yang relatif besar dari aktivitas peternakan dan pertanian. Selama belum dikelola, material itu berpotensi menjadi beban lingkungan sekaligus kehilangan peluang ekonomi.

ITS kemudian membangun biodigester anaerob komunal yang dilengkapi sistem distribusi biogas dan pemantauan proses. Teknologi tersebut dirancang bukan sekadar menghasilkan gas, tetapi memungkinkan produksi energi dipantau dan dikendalikan secara berkelanjutan.

Prosesnya dimulai dengan mengumpulkan kotoran ternak dan limbah pertanian. Material itu dicampur dengan air lalu dimasukkan ke dalam reaktor untuk menjalani proses anaerob.

Gas yang dihasilkan selanjutnya dialirkan melalui jaringan perpipaan untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi. Dengan skema tersebut, kebutuhan energi diharapkan bisa sebagian dipenuhi dari sumber daya yang tersedia di sekitar permukiman.

Yang menarik, hasil akhirnya tidak hanya berupa biogas.

Material sisa atau bio-slurry dapat diolah menjadi pupuk organik. Artinya, satu sistem menghubungkan dua kebutuhan sekaligus: energi untuk rumah tangga dan input bagi sektor pertanian.

“Dengan demikian, limbah yang sebelumnya menjadi beban lingkungan mampu menjadi sumber energi dan pupuk yang memiliki manfaat ekonomi,” ujar Arief.

Tak Sekadar Bangun Instalasi

Tantangan berikutnya adalah memastikan teknologi tidak berhenti setelah instalasi dibangun.

Karena itu, TEP ITS turut memberikan pendampingan kepada masyarakat dan perangkat desa. Mereka diperkenalkan dengan cara mengoperasikan sekaligus merawat fasilitas agar sistem dapat berjalan tanpa ketergantungan terus-menerus pada pihak luar.

Pendekatan tersebut menjadi penting karena keberlanjutan teknologi energi di wilayah terpencil tidak hanya bergantung pada kecanggihan peralatannya. Kemampuan masyarakat mengelola bahan baku, mengoperasikan sistem, dan melakukan pemeliharaan turut menentukan apakah fasilitas benar-benar memberi manfaat dalam jangka panjang.

Arief menegaskan masyarakat harus menjadi pengelola utama potensi yang ada di wilayahnya.

“Kami ingin program ini membuat potensi lokal dapat dimanfaatkan dengan optimal dan benar-benar dimiliki dan dikelola masyarakat,” tuturnya.

Jika berjalan konsisten, model tersebut berpotensi mengubah pola pengelolaan limbah di kawasan transmigrasi. Limbah peternakan dan pertanian tidak lagi sekadar dibuang, tetapi masuk ke dalam rantai produksi yang menghasilkan energi sekaligus pupuk.

Bagi Momi Waren, pendekatan itu membuka peluang membangun kemandirian energi berbasis sumber daya lokal. Bagi masyarakat, manfaatnya bukan hanya mengurangi limbah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi dari bahan yang sebelumnya tidak bernilai.

Program TEP ITS tersebut menjadi bagian dari kontribusi ITS terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 7 tentang energi bersih dan terjangkau serta SDG 11 mengenai kota dan permukiman yang berkelanjutan.

Editor : Alim Kusuma