Selasa, 23 Jun 2026 17:42 WIB

Guru Besar ITS Temukan Cara Baru Hitung Biaya Proyek Software

Salah seorang mahasiswa ITS mencoba mengakses perangkat lunak NL-COCOMO. INPhoto/Humas ITS
Salah seorang mahasiswa ITS mencoba mengakses perangkat lunak NL-COCOMO. INPhoto/Humas ITS

SURABAYA, INFONEWS.ID - Kebutuhan pengembangan perangkat lunak terus meningkat seiring percepatan transformasi digital di berbagai sektor. Di tengah tingginya kebutuhan tersebut, persoalan estimasi biaya proyek software masih menjadi tantangan karena belum memiliki standar yang baku.

Menjawab persoalan itu, Guru Besar ke-239 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof Dr Sholiq ST MKom MSA, mengembangkan NL-COCOMO (Natural Language Constructive Cost Model), sebuah model estimasi biaya dan kebutuhan pengembangan perangkat lunak yang memanfaatkan teknologi pemrosesan bahasa alami atau Natural Language Processing (NLP).

Model tersebut dirancang untuk memperkirakan ukuran proyek, tingkat kompleksitas, hingga sumber daya yang dibutuhkan sebelum proses pengembangan dilakukan.

"Tujuan utamanya adalah menghadirkan acuan yang dapat digunakan dalam proyek perangkat lunak sehingga proses estimasi menjadi lebih terukur," kata Prof Sholiq, Selasa (23/6/2026).

Menurutnya, perangkat lunak kini menjadi fondasi penting dalam berbagai layanan digital dan aktivitas bisnis. Karena itu, perencanaan proyek harus dilakukan secara matang agar risiko kegagalan dapat ditekan sejak awal.

Sebelum dikembangkan lebih lanjut, NL-COCOMO hanya digunakan untuk memperkirakan kebutuhan pengembangan perangkat lunak.

Prof Sholiq kemudian melakukan rekonstruksi model dengan mengintegrasikan teknologi NLP agar kebutuhan pengguna dapat diterjemahkan secara lebih cepat dan akurat.

Teknologi NLP memungkinkan sistem memahami bahasa manusia dalam bentuk teks maupun suara, termasuk menangkap maksud yang disampaikan pengguna.

"NLP membuat kebutuhan pengguna lebih mudah dikomunikasikan dan dipahami oleh sistem," ujarnya.

Dalam proses pengembangan perangkat lunak, identifikasi kebutuhan pengguna biasanya dilakukan melalui sesi diskusi atau storytelling sebelum perhitungan biaya dimulai. Kehadiran NLP memungkinkan tahapan tersebut dipersingkat karena sistem dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan secara otomatis.

"Dengan begitu, proses estimasi biaya dapat dilakukan lebih cepat," tutur dosen Departemen Sistem Informasi ITS tersebut.

Pengembangan NL-COCOMO belum berhenti. Ke depan, Prof Sholiq berencana mengubah arsitektur model dari sistem monolithic menjadi microservices dan cloud-native systems. Pendekatan tersebut memungkinkan setiap layanan berjalan lebih fleksibel, saling terhubung, dan mendukung otomatisasi yang lebih luas.

Inovasi tersebut juga diharapkan dapat menjadi referensi bagi dunia industri, pemerintah, maupun pengembang teknologi dalam menyusun proyek digital secara lebih efektif dan akuntabel.

"Saya berharap model ini bisa memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan teknologi digital di Indonesia sekaligus mempermudah proses perancangan perangkat lunak," pungkasnya.

Editor : Alim Kusuma