Jumat, 31 Jul 2026 15:39 WIB

Mayoritas Sampah Kali Tebu Ternyata Popok Bekas, Ini Temuan MOZAIK

Replika bayi raksasa menjadi simbol protes terhadap pencemaran Kali Tebu oleh limbah popok sekali pakai saat kegiatan diskusi pengelolaan sampah di Surabaya, Jumat (31/7). INPhoto/Ecoton
Replika bayi raksasa menjadi simbol protes terhadap pencemaran Kali Tebu oleh limbah popok sekali pakai saat kegiatan diskusi pengelolaan sampah di Surabaya, Jumat (31/7). INPhoto/Ecoton

SURABAYA, INFONEWS.ID - Persoalan sampah di Kali Tebu, Surabaya, ternyata tidak lagi didominasi botol atau kemasan plastik. Hasil pemantauan Program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK) justru menemukan limbah popok sekali pakai menjadi penyumbang terbesar pencemaran di aliran sungai tersebut.

Temuan itu menjadi sorotan karena menunjukkan masih banyak limbah rumah tangga yang dibuang langsung ke sungai. Padahal, popok bekas termasuk jenis sampah residu yang sulit diolah kembali dan berpotensi mencemari lingkungan dalam jangka panjang.

Berdasarkan pemantauan yang dilakukan pada 11–30 Mei 2026, tim MOZAIK mengangkat 13.433,77 kilogram sampah dari Kali Tebu. Rata-rata sampah yang dievakuasi mencapai 895,8 kilogram per hari, atau setara sekitar 89 karung setiap harinya.

Dari hasil pemilahan, 80,1 persen sampah yang terkumpul merupakan sampah residu. Di kelompok residu itu, popok sekali pakai dan pembalut mencapai sekitar 74,6 persen, jauh melampaui jenis sampah lainnya. Adapun sampah organik tercatat 16,8 persen, sedangkan sampah yang masih memiliki nilai daur ulang hanya sekitar 3 persen.

Manajer Program MOZAIK, Amiruddin Muttaqin, mengatakan hasil tersebut mengindikasikan bahwa pencemaran sungai di kawasan perkotaan lebih banyak dipicu limbah domestik dibandingkan sampah plastik kemasan.

Menurutnya, dominasi popok bekas menunjukkan sungai masih dijadikan tempat pembuangan limbah rumah tangga. Kondisi itu perlu menjadi perhatian serius karena popok sekali pakai sulit didaur ulang, mencemari kualitas air, sekaligus berpotensi melepaskan mikroplastik yang berdampak terhadap kesehatan masyarakat.

"Dominasi popok sekali pakai menunjukkan sungai masih menjadi jalur pembuangan limbah rumah tangga. Kondisi ini harus menjadi perhatian pemerintah karena popok bekas sulit didaur ulang, mencemari air, serta berpotensi menjadi sumber mikroplastik yang mengancam kesehatan masyarakat," kata Amiruddin, Jumat (31/7).

Ia menilai penanganan pencemaran sungai tidak cukup hanya mengandalkan pengangkutan sampah di hilir. Yang lebih penting adalah memperkuat pengurangan sampah dari sumber, termasuk menyediakan sistem pengelolaan khusus limbah popok dan meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak membuang sampah ke saluran air.

Sementara itu, Manajer Data dan Informasi MOZAIK, Alaika Rahamatullah, mengatakan karakteristik sampah di Kali Tebu berbeda dengan hasil berbagai penelitian global mengenai sampah di kawasan pesisir.

Jika secara global sampah laut didominasi kemasan makanan dan minuman berbahan plastik, kondisi di Kali Tebu justru memperlihatkan limbah domestik sebagai sumber pencemaran utama.

"Ini menunjukkan setiap wilayah memiliki sumber pencemaran yang berbeda sehingga kebijakan pengelolaannya harus berbasis data lapangan," ujarnya.

Alaika menambahkan, besarnya porsi sampah residu hingga mencapai 80,1 persen menjadi sinyal bahwa sistem pengurangan sampah dari rumah tangga masih belum berjalan efektif. Sebagian besar sampah yang masuk ke sungai tidak memiliki nilai ekonomi sehingga sulit dimanfaatkan kembali.

Melalui data tersebut, MOZAIK berharap pemerintah dapat menyusun kebijakan yang lebih tepat sasaran, mulai dari pengelolaan limbah popok, peningkatan layanan persampahan, hingga upaya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Selain melakukan pemantauan berkala, program ini juga menjalankan pemasangan trash boom, pemilahan sampah, dan edukasi masyarakat sebagai bagian dari upaya menekan kebocoran sampah ke sungai sekaligus menjaga kualitas lingkungan dan kesehatan warga.

Editor : Alim Kusuma