Minggu, 07 Jun 2026 22:51 WIB

TEDxITS 2026 Ajak Generasi Muda Melihat Kehidupan dari Beragam Perspektif

Peserta menyimak pemaparan para pembicara dalam TEDxITS 2026 di Auditorium Gedung Pusat Riset ITS, Surabaya, Minggu (7/6/2026). INPhoto/Humas ITS
Peserta menyimak pemaparan para pembicara dalam TEDxITS 2026 di Auditorium Gedung Pusat Riset ITS, Surabaya, Minggu (7/6/2026). INPhoto/Humas ITS

SURABAYA, iNFONews.ID - Perbedaan sudut pandang sering dianggap sebagai sumber perdebatan. Namun bagi penyelenggara TEDxITS 2026, keberagaman perspektif justru menjadi pintu lahirnya empati, inovasi, dan cara baru dalam memahami berbagai persoalan kehidupan.

Pesan tersebut mengemuka dalam TEDxITS 2026 yang digelar di Auditorium Gedung Pusat Riset Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Minggu (7/6/2026). Mengusung tema Point of View, forum tahunan itu menghadirkan sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang untuk berbagi pengalaman dan gagasan kepada mahasiswa serta masyarakat umum.

Kepala Unit Komunikasi Publik ITS, Ryan Adi Djauhari, mengatakan dunia tidak selalu dapat dipandang secara hitam putih. Menurutnya, perbedaan cara pandang seharusnya menjadi ruang untuk membangun pemahaman yang lebih luas.

“Cerdas tidak hanya soal akademik, tetapi juga tentang cara kita bersikap dan membuka pikiran,” ujarnya saat membuka acara.

Salah satu sesi yang menarik perhatian peserta datang dari Raihan Raqilah Setiawan atau Material Raqil. Melalui materi bertajuk Mindset Material, dosen Teknik Material ITS tersebut mengajak peserta memahami bahwa satu perspektif tidak cukup untuk menilai sesuatu secara utuh.

Ia mencontohkan sebuah material yang kualitasnya tidak hanya ditentukan oleh bentuk fisik, tetapi juga dipengaruhi struktur, proses pengolahan, hingga tujuan penggunaannya.

“Yang lebih kuat tidak selalu lebih bagus karena setiap sifat memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing,” katanya.

Menurut Raqil, prinsip tersebut juga berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang tidak dapat dinilai hanya dari satu sisi karena proses, pengalaman, dan lingkungan turut membentuk karakter maupun kualitas dirinya.

“Jangan terlalu cepat menilai karena selalu ada perspektif lain yang perlu dilihat,” pesannya.

Sementara itu, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said, membagikan pengalaman perjalanan kariernya di sektor publik, gerakan sosial, dan dunia korporasi. Ia menilai perubahan sering kali lahir ketika seseorang berani meninggalkan zona nyaman.

“Untuk bertumbuh, seseorang harus berani menerobos zona nyamannya,” tegasnya.

Selain dua pembicara tersebut, TEDxITS 2026 menghadirkan sejumlah narasumber dengan tema yang beragam. Intan Fitri Hardyanti membahas bagaimana posisi di antara dua pilihan dapat membuka pemahaman baru terhadap dunia. Ariq Naufal mengulas pentingnya merangkai gagasan agar pesan tersampaikan secara efektif dan bermakna.

Diya Afi mengajak peserta memandang kegagalan sebagai bagian dari proses belajar. Aeshnina Azzahra Aqilani menyoroti pentingnya kepekaan terhadap persoalan lingkungan dan sosial yang kerap luput dari perhatian publik.

Sementara itu, Maheswara Yogha Putra Al-Araha berbicara mengenai cara mengatasi kebuntuan dengan memulai langkah-langkah kecil. Adapun Zeta Raniry Abidin mengajak audiens memahami ekspresi, warna, dan makna yang terkadang tidak dapat dijelaskan hanya melalui kata-kata.

Melalui tema Point of View, TEDxITS 2026 tidak hanya menjadi ajang berbagi ide, tetapi juga ruang refleksi bagi generasi muda untuk memahami bahwa perubahan besar sering berawal dari keberanian melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.

Forum tersebut sekaligus mengingatkan bahwa kemampuan mendengar, memahami perspektif orang lain, dan membuka diri terhadap gagasan baru menjadi bekal penting dalam menghadapi tantangan masa depan.

Editor : Alim Kusuma