SURABAYA, INFONEWS.ID - Orang tua di era Generasi Alpha dituntut mengubah pendekatan dalam mengasuh anak. Tantangannya bukan lagi sekadar membatasi penggunaan gawai, tetapi membangun hubungan yang hangat, terbuka, dan mampu membimbing anak menghadapi dunia digital.
Pesan itu disampaikan Dosen Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Primatia Yogi Wulandari, SPsi, MSi, Psikolog, menjelang peringatan Hari Anak Nasional. Menurutnya, kualitas relasi antara orang tua dan anak menjadi fondasi penting bagi perkembangan kecerdasan emosional, empati, hingga kemampuan bersosialisasi.
Primatia menilai pola asuh di Indonesia masih menghadapi tantangan karena sebagian orang tua menganggap bentakan maupun hukuman fisik sebagai cara mendidik anak. Padahal, tujuan pengasuhan bukan sekadar menciptakan kepatuhan, melainkan membentuk anak yang mandiri, tangguh, dan sehat secara mental.
"Berbagai penelitian menunjukkan pengasuhan yang responsif, penuh kehangatan, tetapi tetap memiliki batasan yang jelas lebih efektif membentuk kemampuan mengelola emosi, rasa percaya diri, serta keterampilan menyelesaikan masalah," ujarnya.
Ia menjelaskan, komunikasi dua arah menjadi salah satu kunci menciptakan hubungan yang sehat dalam keluarga. Anak akan lebih terbuka menyampaikan persoalan ketika merasa didengarkan dan tidak dihakimi.
Orang tua dapat memulai dengan menerapkan active listening, yakni memberi kesempatan anak menyampaikan cerita hingga tuntas sebelum memberikan tanggapan atau nasihat. Selain itu, memvalidasi emosi anak dinilai penting agar mereka merasa dihargai.
Primatia mengingatkan budaya komunikasi yang masih cenderung hierarkis sering membuat anak enggan menyampaikan pendapat karena khawatir dianggap melawan.
"Memberikan ruang kepada anak untuk berpendapat tidak mengurangi kewibawaan orang tua. Justru akan memperkuat kelekatan sehingga anak menjadikan orang tua sebagai tempat pertama saat menghadapi masalah," katanya.
Di tengah perkembangan teknologi, Primatia menilai peran orang tua juga harus bergeser. Menurutnya, membatasi waktu bermain gawai saja tidak cukup untuk melindungi anak dari berbagai risiko di dunia digital, seperti kecanduan maupun perundungan siber.
Ia mendorong orang tua berperan sebagai digital mentor, bukan sekadar digital police. Dengan cara itu, anak tidak hanya diawasi, tetapi juga dibimbing memahami cara menggunakan teknologi secara sehat, aman, dan bertanggung jawab.
Selain tantangan penggunaan teknologi, media sosial juga memunculkan fenomena parental burnout akibat tekanan untuk memenuhi standar pengasuhan yang tidak realistis. Primatia menilai kondisi itu perlu diimbangi dengan peningkatan literasi digital orang tua, termasuk saat membagikan konten anak di media sosial.
"Sebelum mengunggah konten tentang anak, orang tua perlu mempertimbangkan kepentingan terbaik anak, hak privasinya, serta jejak digital yang akan tetap melekat hingga mereka dewasa," ujarnya.
Memperingati Hari Anak Nasional, Primatia mengingatkan bahwa investasi terbesar bagi masa depan bangsa bukanlah fasilitas yang serba mahal, melainkan kualitas hubungan dalam keluarga.
"Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, tetapi orang tua yang hadir. Luangkan waktu tanpa gangguan gawai untuk mendengarkan dan mendampingi mereka, karena keluarga yang aman menjadi fondasi lahirnya generasi yang cerdas dan sehat secara mental," tutupnya.
Editor : Alim Kusuma