Jumat, 21 Agu 2026 15:29 WIB

Hilirisasi Nilam, UNAIR Bantu Petani Trenggalek Tingkatkan Nilai Jual

UNAIR mendampingi petani Desa Siki, Trenggalek, mengolah minyak nilam menjadi produk aromaterapi untuk meningkatkan nilai tambah dan pendapatan. INPhoto/Unair
UNAIR mendampingi petani Desa Siki, Trenggalek, mengolah minyak nilam menjadi produk aromaterapi untuk meningkatkan nilai tambah dan pendapatan. INPhoto/Unair

TRENGGALEK, INFONEWS.ID - Petani nilam di Desa Siki, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, mulai didorong keluar dari ketergantungan pada penjualan bahan mentah. Universitas Airlangga (UNAIR) mendampingi kelompok tani mengolah minyak nilam menjadi produk aromaterapi yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Pendampingan itu dilakukan melalui program pengabdian masyarakat bertajuk Pemberdayaan Kelompok Tani Desa Siki melalui Inovasi Produk Aromaterapi Berbasis Minyak Atsiri Nilam pada 21–22 Agustus 2026.

Program yang didanai DPPM Kemendiktisaintek skema Pemberdayaan Skema Masyarakat tahun 2026 itu diarahkan untuk memperkuat hilirisasi komoditas lokal. Petani tidak hanya didorong meningkatkan produksi, tetapi juga menguasai proses pengolahan sehingga nilai tambah tidak berhenti di tingkat rantai pasok bahan baku.

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat UNAIR, Dr. apt. Neny Purwitasari, S.Farm., M.Sc., mengatakan peningkatan kesejahteraan petani tidak cukup hanya melalui peningkatan volume panen.

Menurut dia, kemampuan mengolah hasil pertanian menjadi produk siap jual menjadi salah satu cara agar manfaat ekonomi bisa lebih banyak dirasakan masyarakat desa.

“Pengembangan produk berbasis potensi lokal membuat margin ekonomi yang selama ini diambil pihak luar dapat dinikmati langsung oleh masyarakat. Kami mengintegrasikan pemahaman farmasi mengenai formulasi dan keamanan produk dengan strategi bisnis yang realistis,” ujar Neny.

Dalam pelatihan, puluhan anggota Kelompok Tani Sri Rejeki 1 dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Kecamatan Dongko mendapat materi mulai dari pengendalian mutu minyak atsiri, keamanan produk olahan, hingga formulasi aromaterapi.

Pendampingan juga tidak berhenti pada aspek produksi. Prof. Dr. Wiwied Ekasari, M.Si., Apt., memberikan penguatan dari sisi farmasi, sedangkan pakar Ekonomi dan Bisnis UNAIR, Dr. Fatin Fadhilah Hasib, S.E., M.Si., membekali peserta dengan pengetahuan mengenai manajemen usaha dan strategi branding.

Pendekatan lintas disiplin itu ditujukan agar produk aromaterapi yang dihasilkan tidak sekadar menjadi purwarupa, tetapi memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai produk usaha yang dapat masuk ke pasar.

Ketua Poktan Sri Rejeki 1, Karni, mengatakan pendampingan UNAIR mengubah cara pandang petani terhadap komoditas nilam.

Selama ini, minyak nilam lebih banyak dipandang sebagai hasil untuk kebutuhan penyulingan dan dijual sebagai bahan mentah. Padahal, komoditas itu memiliki peluang dikembangkan menjadi berbagai produk turunan, termasuk untuk sektor kosmetik dan kesehatan.

“Edukasi ini memberi wawasan baru. Kami jadi paham bahwa minyak nilam yang kami hasilkan bisa diolah sendiri menjadi produk bernilai jual lebih tinggi, bukan cuma dijual mentah ke tengkulak,” kata Karni.

Kepala Desa Siki, Panijo, menyambut positif kolaborasi perguruan tinggi dengan kelompok tani. Ia berharap pendampingan tidak berhenti pada pelatihan produksi, tetapi berlanjut pada penguatan kelembagaan dan pemasaran.

Menurut Panijo, keberlanjutan pendampingan penting agar masyarakat mampu mengembangkan usaha olahan nilam secara mandiri dan Desa Siki dapat tumbuh sebagai salah satu sentra produk olahan nilam di Trenggalek.

Editor : Alim Kusuma