Minggu, 04 Okt 2026 11:08 WIB

Gubernur Khofifah Ajak Santri Pramuka Jadi Pagar Betis NKRI dan Gerakan Tanam Pohon

Pembukaan PPSN VI yang bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober (IN/PHOTO: HUMAS)
Pembukaan PPSN VI yang bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober (IN/PHOTO: HUMAS)

MALANG, INFONews.ID – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendampingi Menteri Agama (Menag) RI Nasaruddin Umar membuka Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI Tahun 2026 di Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo, Kabupaten Malang, Kamis (1/10/2026) malam.

Acara yang diikuti 4.500 santri—3.000 dari Jawa Timur dan 1.500 dari 33 provinsi lainnya—menjadi ajang penguatan persatuan dan kepedulian lingkungan.

Khofifah mengajak para santri pramuka menjadi pagar betis penjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Santri pramuka harus menjadi pagar betis untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegasnya.

Menurut dia, peran itu penting karena santri pramuka dibekali pendidikan keagamaan sekaligus nilai-nilai kepramukaan seperti persaudaraan, gotong royong, kedisiplinan, dan kepedulian.

“Santri pramuka harus menjadi bagian yang ikut menjaga persatuan dan memperkuat persaudaraan. Jangan sampai perbedaan membuat kita terpecah belah,” katanya.

Ia menekankan semangat persaudaraan di tengah keberagaman suku, budaya, bahasa, dan keyakinan di Indonesia. Perbedaan, kata dia, harus menjadi kekuatan yang mempererat kehidupan berbangsa.

Khofifah kemudian mengajak peserta menengok sejarah Majapahit sebagai contoh harmoni di tengah keberagaman.

“Ini adalah Bumi Majapahit. Majapahit ini sangat kuat dalam arti harmoni di antara intern dan antarumat beragama dibangun luar biasa,” ujarnya.

Ia menambahkan, semboyan Bhinneka Tunggal Ika lahir di era Majapahit dengan pusat di Mojokerto dan inisiator dari Singosari, Malang. Semangat itu, tegasnya, perlu terus dirawat dan diikat dengan Pancasila.

Pembukaan PPSN VI yang bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober, diharapkan semakin menguatkan komitmen para santri.

Selain isu kebangsaan, Khofifah mendorong santri tidak membatasi cita-cita. Mereka bisa menjadi ulama, intelektual, profesional, pengusaha, atau berkarier di bidang pertahanan dan keamanan.

“Insya Allah semua santri yang hadir malam ini akan jadi ulama-ulama yang mendunia, jadi pebisnis-pebisnis yang luar biasa, dan insya Allah jadi intelektual yang juga bisa memberikan dedikasi terbaik untuk masyarakat, bangsa, dan negara,” katanya.

Khofifah juga mengajak peserta membangun kepedulian terhadap lingkungan sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Ia berkomitmen menyediakan pohon sesuai jumlah peserta untuk ditanam bersama.

“Kalau pesertanya 7.000, insya Allah saya menyiapkan 7.000 pohon. Kalau pesertanya 10.000, kita siapkan 10.000 pohon,” ujarnya.

Gerakan menanam pohon itu, menurutnya, menjadi bagian dari pendidikan karakter sekaligus sedekah oksigen bagi lingkungan.

Menutup sambutan, Khofifah berharap PPSN VI memperkuat persaudaraan antarsantri dari berbagai daerah.

“Manfaatkan waktu dengan baik, apalagi di Bumi Majapahit Jawa Timur. Insya Allah manfaat dan efeknya akan luar biasa. Selamat berkemah, mudah-mudahan akan menjadi bagian dari peneguh Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pungkasnya.

Sementara itu, Menag Nasaruddin Umar menilai PPSN VI sebagai momentum membentuk santri yang tangguh, terampil, berkarakter, dan berakhlak kuat.

“Banyak keterampilan yang dipelajari di Pramuka. Kader Pramuka itu harus berakhlakul karimah, itulah karakter Pramuka, itulah karakter santri. Kalau ikut kepramukaan, santri pasti jadi pembaharu,” katanya.

Ia menambahkan, nilai-nilai kepramukaan sejalan dengan keteladanan Rasulullah SAW, termasuk kedisiplinan, menjaga kesehatan, dan semangat berolahraga.

Pembukaan PPSN VI ditandai dengan peluncuran Saka Amal Bakti oleh Menag Nasaruddin Umar. Rangkaian seremoni dilanjutkan dengan penyiraman tunas kelapa menggunakan kendi oleh Menag, didampingi Gubernur Khofifah, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Phil. H. Kamaruddin Amin, M.A., Direktur Jenderal Kementerian Agama Basnang Said, dan Wakil Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Asrorun Niam Sholeh.

Editor : Tudji Martudji