SURABAYA, INFONews.ID – Jawa Timur mencatatkan kinerja pembangunan positif pada Semester I 2026. Ekonomi tumbuh 5,84 persen, tertinggi di Pulau Jawa dan di atas rata-rata nasional 5,45 persen. Angka kemiskinan turun menjadi 9,06 persen, sementara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berada di 3,42 persen, jauh di bawah angka nasional 4,65 persen.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebut capaian ini sebagai hasil sinergi pemerintah pusat, daerah, dunia usaha, industri, akademisi, dan masyarakat. “Alhamdulillah, di tengah ketidakpastian global, Jawa Timur mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi tertinggi se-Pulau Jawa sekaligus menurunkan kemiskinan dan pengangguran. Ini hasil kerja keras bersama,” ujarnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan 5,84 persen (c-to-c) pada Triwulan II 2026. Sektor penopang utama adalah industri pengolahan (kontribusi 31,27 persen), perdagangan (18,49 persen), dan pertanian (10,87 persen). Jawa Timur tetap menjadi kontributor terbesar kedua bagi perekonomian Pulau Jawa (25,40 persen) dan PDB nasional (14,34 persen).
Lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi adalah penyediaan akomodasi dan makan minum (10,76 persen), didorong meningkatnya okupansi hotel, aktivitas pariwisata, dan Program Makan Bergizi Gratis. Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah naik 19,80 persen, antara lain karena pembayaran gaji ke-13 ASN dan belanja program publik.
Pada Maret 2026, persentase penduduk miskin turun 0,24 poin persentase dari 9,30 persen (September 2025) menjadi 9,06 persen. Secara absolut, jumlah penduduk miskin berkurang 92.060 jiwa menjadi 3.712.230 jiwa. Penurunan ini lebih tajam dibanding nasional (0,18 poin). Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) turun dari 1,286 menjadi 1,214, dan Indeks Keparahan (P2) dari 0,262 menjadi 0,239. Penurunan terjadi merata di perkotaan (dari 6,93 persen menjadi 6,66 persen) dan perdesaan (dari 12,55 persen menjadi 12,38 persen).
Di bidang ketenagakerjaan, TPT turun dari 3,55 persen (Februari 2026) menjadi 3,42 persen (Mei 2026). Jumlah pengangguran berkurang sekitar 26.730 orang menjadi 866.320 orang, sementara penduduk bekerja bertambah 205.530 orang menjadi 24,46 juta. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja naik menjadi 75,14 persen. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tetap penyerap tenaga kerja terbesar (31,77 persen), diikuti perdagangan dan industri pengolahan. Proporsi pekerja formal juga meningkat menjadi 36,18 persen.
Khofifah mengakui masih ada tantangan, terutama pengangguran lulusan SMK dan perguruan tinggi. Pemprov Jatim akan memperkuat link and match pendidikan dengan dunia usaha melalui pelatihan vokasi, sertifikasi, magang, dan kemitraan industri. Penurunan kemiskinan akan terus dipercepat dengan pemanfaatan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) agar program lebih tepat sasaran.
“Kita tidak boleh cepat berpuas diri. Tantangan ke depan masih dinamis. Kita harus terus memperkuat sinergi, menjaga kondusivitas, dan memastikan pertumbuhan memberi manfaat yang adil dan merata,” tegasnya.(*)
Editor : Tudji Martudji