Oleh: Soeparli D. Atmadji
Mantan Wartawan
Pengamat dan Penyuka Film
KARENA lebih banyak di rumah, belakangan saya sering nonton drama pendek China (drachin). Saya nontonnya yang episode lengkap, tidak per episode yang hanya beberapa menit.
Yang segera menarik perhatian saya dari “drama vertikal” ini adalah duplikasinya. Satu naskah bisa dibuat dalam banyak versi. Tidak persis sama, tentu. Tapi plot-nya kurang lebih serupa.
Saya jadi bertanya-tanya, ini royaltinya gimana ya? Penasaran juga? Tapi, bukan itu yang hendak kita omongin kali ini. Soal itu biarlah kita bicarain kali lain kalau ada yang tertarik.
Di antara naskah yang dibuat banyak versi itu, ada yang bicara tentang penyesalan. Kurang lebih seperti pepatah itu, sesal kemudian tidak berguna.
Umumnya, kondisi itu diwakili ungkapan penuh sesal sang karakter utama, “Andai dulu saya tidak melakukan semua itu, mungkinkah hubungan kita baik-baik saja.” Karakter lawan biasanya menjawab, “Tidak ada seandainya dalam kehidupan ini.”
Tidak sedikit, sepertinya, orang yang suka berandai-andai ketika kehidupan tidak berjalan seperti yang diharapkan. Maklum orang awam. Hanya orang awam? Tidak, sepertinya.
Paling tidak, ada seorang doktor yang bilang “seandainya jadi presiden” dalam wawancara di sebuah kanal Youtube. Ini terjadi pada Juni 2020 setelah ramai surat terbuka seorang mantan tentara meminta presiden mundur.
Ada juga seorang mantan gubernur yang bilang “seandainya jadi presiden” di sebuah video podcast pada Juni 2026. Yang ini berkaitan dengan “usul” membubarkan BGN dan menggantinya dengan program makan gratis sistem voucher digital.
Berandai-andai tidak dilarang kan? Memang. Hanya saja, pengandaian, terutama yang kelewat tinggi, sebaiknya tidak ditanggapi serius. Sebab, yang namanya pengandaian hampir selalu meniadakan prasyarat, yang dalam kondisi riil tidak mungkin ditiadakan.
Ini sekadar ilustrasi. Seorang pekerja dengan gaji Rp 3 juta sebulan ditanya, “Andai penghasilan Anda Rp 12 miliar setahun, apa yang Anda lakukan?”
Tanpa pikir panjang, orang itu menjawab, “Saya akan sumbangkan yang 90 persen untuk warga yang lagi kesulitan.”
Matematis, kalau penghasilan dia Rp 12 miliar setahun, itu kan berarti Rp 1 miliar sebulan. Kalau 90 persen disumbangkan, berarti masih ada 10 persen. Itu berarti 100 juta sebulan.
Bagi orang dengan gaji Rp 3 juta, dapat Rp 100 juta sebulan jelas peningkatan luar biasa. Karena itu, dia bisa dengan enak bilang akan menyumbangkan 90 persen penghasilannya.
Tapi, poinnya bukan di sana. Dia bisa dengan enak bilang “Saya akan sumbangkan 90 persen” itu kan karena Rp 12 miliar setahun tersebut “tidak ada”. Andai Rp 12 miliar itu benar-benar ada, menyumbangkan 90 persen tidak akan mudah, sekalipun dia berniat melakukannya.
Sebab, keluarganya amat mungkin akan protes. Anaknya mungkin bilang, “Kita kan belum punya mobil Pa.” Istrinya mungkin akan bilang, “Rumah kita masih ngontrak lho.” Dan lain-lain, dan seterusnya.
Itu mungkin setara dengan guyonan yang sering dilontarkan anak-anak saya waktu masih kecil dulu. Andai boleh membayangkan “nemu” uang Rp 100 juta, apa yang kamu lakukan.
Si bungsu bilang, “Saya pakai Rp 1 juta aja lah, yang lain disumbangin.” Si sulung lebih ekstrem lagi. “Kalau aku sih disumbangin aja semua.”
“Masak kamu tidak ingin pakai sama sekali,” sergah si bungsu. “Gampang. Tinggal membayangkan nemu lagi Rp 1 miliar, beres kan,” timpal si sulung. Dan, keduanya tertawa.
Sepertinya, memang itu poinnya. Tertawa. Pengandaian yang hampir mustahil sebaiknya diterima sebagai guyonan semata, sekadar candaan menghibur.
Kita kembali ke pembicaraan semula. Seandainya presiden dan seandainya berpenghasilan Rp 12 miliar setahun itu mengandaikan sesuatu yang tidak atau belum terjadi. Meski begitu, masih ada kemungkinan terjadi, sekecil apa pun kemungkinan tersebut.
Yang kita omongin kali ini mengandaikan sesuatu yang telah terjadi. Artinya, pengandaian itu sudah pasti tidak kesampaian. Sesal kemudian tiada guna, rasanya, pas menggambarkan situasi tersebut. Menyesali sesuatu yang sudah terjadi, kata orang. memang tidak ada gunanya.
Karena itu, pilihan paling masuk akal adalah terima saja, relakan. Anak muda sekarang mungkin bilang move on lah.
Itu saja? Anda mungkin akrab dengan ungkapan, “Tak ada kata terlambat untuk bertobat.” Asal bersungguh-sungguh, bertobat, move on, bisa jadi solusi.
Ambil contoh ini. Seorang lulusan SMA yang tidak diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) mungkin berpikir, “Seandainya kemarin saya belajar lebih keras, mengurangi main-main, mungkin saya diterima.”
Masalahnya, dia telanjur tidak dirterima. Itu tidak bisa diubah. Karena itu, akan lebih mudah bila ia menerimanya, lalu move on.
Kalau sadar penyebabnya kurang serius belajar, lebih banyak main-main, ya bertobatlah. Jangan ulangi kesalahan yang sama. Bukankah itu makna tobat? Mengakui kesalahan, lalu bertekad tidak mengulanginya.
Bayangkan juga ini. Seorang lulusan SMA yang ogah kuliah menyesali posisinya sebagai karyawan rendahan. Dia berpikir, seandainya dulu saya mau kuliah, kondisi saya mungkin lebih baik.
Tapi, itu sudah terjadi. Bukankah akan lebih baik bila ia bertobat, move on, bekerja lebih keras? Lalu, ambil kuliah malam, misalnya. Atau, ikut program RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau). Asal bersungguh-sungguh, bukan tidak mungkin ia akan mengantongi gelar sarjana. Bukankah itu lebih baik daripada tenggelam dalam penyesalan?
Editor : Alim Kusuma