Senin, 24 Agu 2026 12:28 WIB

Jika Film Superhero Dilabeli 17+, Anak-Anak Dapat Tontonan Apa?

INPhoto: Ilustrasi/Gemini AI
INPhoto: Ilustrasi/Gemini AI

Oleh: Soeparli D. Atmadji
Mantan Wartawan
Pengamat dan Penyuka Film

ENTAH kenapa Amazing Spiderman merasa perlu ada penjelasan “ilmiah” tentang kenapa Peter bisa menjadi spiderman sementara orang lain tidak. Kenapa hal itu tidak dibiarkan menjadi “misteri” tak terjelaskan seperti dalam tiga sekuel Spiderman-nya Tobey Maguire? Toh, anak-anak dan remaja awal seusia Henry, yang disebut Bibi May sebagai kelompok usia yang butuh superhero,  tidak mempersoalkannya. 

Jadi, apa yang membuat kreator manusia laba-laba dalam Amazing Spiderman itu menganggap penonton akan tidak puas dengan “misteri tak terjelaskan” seperti dalam trilogi Spiderman-nya Tobey Maguire? Mungkinkah mereka menganggap penonton dongeng superhero bukan lagi anak-anak seusia Henry?

Dugaan begitu, rupanya, segera mendapatkan pembenaran ketika Deadpool (juga Deadpool2, dan Deadpool & Wolverine) beredar di bioskop dengan label “R” karena adegan kekerasannya yang menjurus ke “horor”.  Lalu, Logan menyusul dengan rating sama, R, yang berarti penonton berusia di bawah 17 tahun harus ditemani orang dewasa. 

Di Indonesia, Joker (yang juga ber-rating R) dilabeli 17+ atau D17. Artinya, untuk penonton dewasa usia 17 tahun ke atas. Logan bahkan dilabeli 17+/21+, yang berarti untuk penonton dewasa usia 17/21 tahun ke atas.

Dengan rating “R’, jelas dua film itu bukan tontonan untuk anak dan remaja awal seusia Henry. Memang, rating “R” belum sefatal “NC-17”, yang sama sekali menutup kemungkinan ditonton remaja di bawah 17 tahun (Film dengan rating “NC-17” konon bahkan tidak boleh diputar di bioskop yang barada di mall dan pusat perbelanjaan lain). Toh, dengan rating “R” pun, tetap saja remaja tidak bisa bebas menonton. 

Belakangan malah muncul The Boys di Amazone Prime Video. Ini Parodi superhero yang bahkan mendekati antihero. Muncul pertama pada 2019, The Boys telah masuk season kelima tahun ini. Banyak yang menilai serial superhero korup ini sebagai satire atau parodi hitam. Saat anak saya tanya komentar saya tentang serial ini, saya hanya bilang satu kata, “kemproh”. 

Meski tak hendak menilai, harus diakui saya sempat terkesan dengan serial ini. Bukan apa-apa. Film ini menjawab “pertanyaan tak terjawab” yang saya pendam bertahun-tahun tentang sosok salah satu superhero, Flash. Penggemar superhero tentu paham, Flash adalah superhero yang mampu berlari dengan kecepatan super.

Nah, selama ini saya bertanya-tanya, dengan kecepatan super, bagaimana Flash belok saat lari di jalanan kota. Kan jalan-jalan di kota relatif pendek. Masih soal lari di kota, bagaimana Flash menghindari orang-orang yang lalu lalang?

Pertanyaan itu terjawab dalam The Boys melalui sosok A Train, yang sepertinya memang dimaksudkan sebagai parodi Flash. Di episode awal serial tersebut, ada adegan A Train, yang disebut sebagai manusia tercepat di bumi, menabrak seorang gadis hingga hancur, menyisakan dua tangannya yang masih dalam genggaman sang kekasih.

Serial ini dilabeli TV MA/TV D. Yang dimaksud dengan MA di sini adalah mature audience atau penonton dewasa, umumnya karena unsur kekerasan ekstrem, adegan seksual, atau bahasa yang kelewat kasar. Sedangkan D biasanya berkaitan dengan dialog yang menjurus ke seksual. Pendeknya, serial parodi superhero ini juga bukan untuk penonton anak dan remaja awal.

Yang mungkin mengejutkan, film-film superhero dengan label “R” atau 17+ itu ternyata mencatat jumlah penonton luar biasa. Logan, misalnya, mencatat hasil box office terbesar dalam pemutaran perdana (domestik) dan mencatat hasil global lebih dari enam kali biaya produksi. Joker bahkan tercatat sebagai film berlabel “R” terlaris di dunia, dengan capaian box office global hampir 20 kali biaya produksi. 

Serial The Boys juga mencatat hasil tidak main-main. Musim terakhirnya awal tahun ini mencatat lebih dari 55 juta penonton per episode. Ia juga selalu memimpin dalam daftar rating streaming global sejak pertama dirilis pada 2019.

Padahal, dengan label “dewasa”, penonton film-film tersebut tentu kemungkinan besar juga orang dewasa, minimal berusaia 17 tahun ke atas. Kalau begitu, siapa sebetulnya yang butuh superhero? Masihkan kita menganggap dongeng superhero perlu untuk anak-anak? 

Mungkinkah, seperti telah kita singgung dalam tulisan sebelumnya, kita sekarang menganggap justru orang dewasa yang membutuhkan sosok pahlawan super? Buktinya, beberapa film superhero dilabeli “R” atau 17+, bahkan 21+. Itu kan berarti kreator film superhero tersebut membidik penonton dewasa, minimal 17 tahun ke atas. 

Dan, kalau film-film itu laris, bukankah itu berarti “anggapan” para kreator itu benar? Kalau begitu, kalau benar orang dewasa butuh superhero dan dongeng superhero sengaja dibuat untuk penonton dewasa, siapa dong yang menjadi pahlawan untuk anak-anak? 

Ada yang bilang, sosok yang paling diharapkan menjadi pahlawan bagi anak-anak adalah orang tua mereka. Lalu, kalau orang tua mereka masih butuh dongeng pahlawan, dan mereka memenuhi kebutuhan itu melalui superhero penuh kekerasan dan ibu dari penjahat, sosok pahlawan seperti apa yang didapat anak-anak seusia Henry? Untuk pertanyaan ini, bahkan sekadar menebak jawabannya pun saya tidak berani. 

 

 

Editor : Alim Kusuma