Oleh: Soeparli D. Atmadji
Mantan wartawan
Pengamat dan penyuka film
TIAP kali mendengar kata kritik, entah kenapa, orang sering mengaitkannya dengan sesuatu yang negatif. Karena itu, mungkin, ada yang menuntut kritik harus menyertakan solusi.
Sebaliknya, banyak yang bilang klarifikasi perlu untuk meluruskan apa yang dianggap salah atau disalahpahami. Tapi, memang sepenting itukah klarifikasi?
Mari kita telusuri. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kritik diartikan kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya.
Lihat, pertimbangan baik dan buruk, hanya kadang-kadang disertakan, tidak selalu. Karena itu, mungkin, kritik cenderung dinilai negatif.
Tapi, kalau kita lihat makna kritikus, KBBI ternyata mengartikannya sebagai orang yang ahli dalam memberikan “pertimbangan (pembahasan) tentang baik buruknya sesuatu.” Padahal, kita tentu sepakat, kritikus secara sederhana adalah orang yang ahli dalam memberikan “kritik” (sebagaimana komikus adalah orang yang ahli dalam membuat komik).
Sandingkan dua kalimat tersebut, terutama frasa dan kata yang diberi tanda kutip. Akan terlihat betapa, ketika berkaitan dengan kritikus, kritik ternyata dimaknai pertimbangan (pembahasan) tentang baik buruknya sesuatu. Tidak ada lagi kata “kadang-kadang” di sana.
Kalau ini yang dijadikan pegangan, kritik mestinya tidak bisa dibilang negatif. Sebagaimana hak yang di dalamnya melekat tanggung jawab, dalam kritik (oleh kritikus) juga melekat apresiasi. Kritikus harus menyampaikan dua-duanya, ya kelebihannya ya kekurangannya.
Harus? Menurut saya, ya. Seorang kritikus harus menyampaikan kelebihan sekaligus kekurangan sesuatu yang dikritiknya. Sebab, “bisa bahaya” bila kritikus hanya menyampaikan kelebihan atau kekurangan objek yang dikritik.
Ambil contoh ektrem. Seorang kritikus me-review buah yang baru ditemukan. Dia hanya menyebutkan segala kekurangan buah itu, entah pahitlah, keraslah, atau apa. Karena itu orang menghindarinya.
Tapi, bagaimana bila buah itu bisa mengendalikan tekanan darah atau menstabilkan kadar gula darah? Karena review sang kritikus, penderita diabetes dan hipertensi jadi kehilangan “obat” yang mungkin sangat mereka butuhkan.
Sebaliknya, bayangkan ada petambak menemukan jenis ikan baru. Seorang kritikus me-review-nya sebagai makanan lezat, bergizi tinggi, dan entah apalagi. Akibatnya, orang berbondong-bondong menyerbunya.
Tapi, bagaimana bila ikan itu bisa memicu reaksi alergi? Masih mending kalau alerginya sekadar ruam merah atau gatal-gatal. Bagaimana bila alergi yang terpicu berupa syok anafilaktik yang bisa berakibat fatal?
Pada dasarnya, kritikus yang hanya bisa menemukan kelebihan sebuah karya tidak bisa dianggap layak mengkritik karya tersebut. Sebab, itu berarti karya tersebut berada di luar daya kritis dia.
Sebaliknya, kritikus yang hanya bisa menemukan kekurangan sebuah karya juga tidak bisa dianggap layak mengkritik karya tersebut. Sebab, itu berarti karya tersebut berada di luar daya apresiatif sang kritikus.
Anda mungkin bertanya, “Bagaimana bila si kritikus tahu kelebihan sekaligus kekurangan sebuah karya, tapi dia sengaja hanya menyampaikan salah satunya? Melanggar hukumkah?” Kecuali ada niat jahat, paling-paling dia akan dibilang tidak fair.
Pengiklan dan fans kan biasanya hanya menyebutkan kelebihan sebuah karya, produk, atau apalah lainnya. Sebaliknya, hater dan oposan biasanya hanya mau menyebut kekurangan sebuah karya, produk, kebijakan atau apa pun yang lain, Toh, mereka umumnya baik-baik saja, tidak ditangkap polisi.
Kita tahu hukum melarang ujaran kebencian (hate speech), kebohongan (hoax), penghasutan, dan pencemaran nama baik. Berarti, ulasan serba negatif atau serba positif tentu tidak bisa dianggap melanggar hukum bila tidak melibatkan konten-konten terlarang tersebut.
Khusus oposan politik, mengritisi kekurangan atau kelemahan kebijakan pemerintah tidak saja sah, mungkin malah harus. Kan memang itu kerjaan oposisi.
Berarti, klarifikasi penting? Ada dialog menarik dalam film The Blood Light Rises Again. “Bagi yang (mau) mengerti, penjelasan tidak perlu. Bagi yang tidak (mau) mengerti, dijelaskan pun percuma.” Ada pihak yang tak diklarifikasi pun sudah bisa membedakan mana yang logis dan tidak. Sebaliknya, ada pihak yang diklarifikasi kian menjadi-jadi.
Akan halnya kritik anggota parlemen atau partai oposisi, tanggapan terbaik tentu tindakan nyata, bukan klarifikasi verbal.
Sebab, pihak yang berkuasa punya cukup data, sarana, dan sumber daya untuk memastikan kritik yang dilontarkan pihak oposisi memang benar atau mengada-ada. Kalau benar, pemerintah juga bisa memanfaatkan data, sarana, dan sumber daya yang dimiliki untuk membenahi kebijakan yang dikritisi.
Karena itu, aneh juga ketika ada politikus dari pihak penguasa yang menyebut kritik harus menyertakan solusi. Sebab, oposan politik menawarkan solusi , relakah pihak yang berkuasa mengadopsinya? Jangan-jangan mereka malah dianggap sok tahu. Lain soal, mungkin, bila solusi itu muncul dari oposan non-politik, misalnya aktivis.
Berarti klarifikasi tidak perlu? Bagaimana bila ada pihak yang “menyerang” dengan konten yang menyebarkan kebencian, kebohongan, penghasutan, atau pencemaran? Berdasar urgensi dan dampak merusak yang mungkin timbul, pihak yang dirugikan mungkin merasa perlu segera mengklarifikasi.
Yang perlu diperhitungan, seperti dialog film yang kita kutip di atas, bagi mereka yang tidak (mau) mengerti, dijelaskan pun percuma. Untuk mereka, klarifikasi tergesa-gesa berpotensi justru menjadi amunisi baru untuk melanjutkan serangan.
Kalau itu yang terjadi, apa pilihan Anda? Klarifikasi sekali tuntas dengan bukti, saksi, dan data solid? Mengandalkan tangan penegak hukum? Atau, dua-duanya? Alangkah indah bila semua berusaha logis dan tidak mudah terbakar.
Editor : Alim Kusuma