Oleh: Soeparli D. Atmadji
Mantan Wartawan
Pengamat dan Penyuka Film
KETIKA film Joker beredar di bioskop, banyak kritikus mengapresiasinya. Apalagi, film ini juga menyabet sederet panjang nominasi Oscar. Meski begitu, saya tak hendak mengkritik atau mengapresiasinya.
Bagi saya, Joker hanya mewakili keruntuhan tembok yang menghalangi pandangan saya bahwa gambaran superhero sebagai penyelamat bumi sepertinya perlu didefisnisikan ulang. Seperti yang saya bahas dalam tulisan sebelumnya, film-film superhero yang dirilis setelah trilogi Spiderman ala Tobey Maguire memperlihatkan pergeseran.
Saya mendapat kesan justru para jagoan super itulah yang bertanggung jawab atas kemunculan para penjahat super yang meneror bumi. Bahkan, bisa dibilang justru para superhero itulah “ibu kandung” para penjahat super tersebut.
Hanya saja, gambaran superhero sebagai ibu kandung penjahat super yang kita bahas dalam tulisan sebelumnya cuma muncul dalam film-film superhero besutan Marvel Studio. Dari sisi inilah, bagi saya, Joker menjadi menarik.
Sebab, kalau benar Joker dalam film Joker itu adalah sosok penjahat yang dihadapi Batman dalam The Dark Knight, ia menandai betapa gambaran serupa, gambaran bahwa para superhero itulah ibu kandung para penjahat super yang meneror bumi, ternyata merembet pula ke jagoan Detective Comic (DC) Studio.
Sebelum Joker hadir di bioskop, gambaran sosok pahlawan yang lahir dari rahim Marvel itu, sepertinya, belum menular ke superhero DC Studio. Meski begitu, tanda-tanda ke arah sana mulai terlihat.
Sosok Batman dan trilogi Batman Begin, The Dark Knight, dan The Dark Knight Rises, misalnya, jauh dibandingkan sosok si Manusia Kelelawar dalam lima sekuel sebelumnya.
Dalam jilid pertama trilogi The Dark Knight, penjahat super yang dimunculkan bahkan sangat berkaitan dengan si Ksatria Malam. Bedanya, si penjahat yang melahirkan Batman, bukan sebaliknya. Tapi, seperti para jagoan Marvel, sosok Batman dalam trilogi The Dark Knight sepertinya juga “terlalu dewasa”, dan “kelewat keras” untuk tontonan anak-anak.
Sosok si Manusia Baja dalam Man of Steel pun jauh dari gambaran “pramuka besar” yang kita temukan dalam empat sekuel Superman plus Superman Returns yang muncul sebelumnya. Dalam Man of Steel, Superman sepertinya tidak lagi peduli kalaupun ada banyak korban jiwa dalam aksinya.
Padahal, dalam lima film Superman sebelumnya, “bocah Kripton” itu selalu mati-matian berusaha meniadakan korban jiwa, termasuk korban jiwa si penjahat.
Man of Steel bahkan merasa perlu meniadakan “celana dalam yang dipakai di luar celana panjang” seperti gambaran Superman yang kita kenal selama ini. Padahal, bukankah hampir semua superhero digambarkan berkostum begitu?
Dan, kebanyakan penggemar superhero tidak mempersoalkannya. Paling tidak, anak-anak tidak mempersoalkannya. Anak Indonesia bahkan sering bergurau, “Itu bedanya Superman dengan Suparman.”
Mereka yang mengalami masa kanak-kanak pada 1970-an hingga 1980-an pasti tahu bahwa para superhero lokal seperti Gundala, Godam, Aquanus, dan lain-lain berkostum serupa. Celana dalam berada di luar celana panjang. Dan, mereka tidak protes.
Ungkapan “itu bedanya Superman dan Suparman” memang bukan sekadar soal Superman atau Suparman. Itu lebih berupa kesadaran bahwa superhero (Superman) memang bukan sosok riil (Suparman).
Jadi, kalau pendongeng Man of Steel merasa perlu menanggalkan “celana dalam di luar celana panjang” dalam kostum si manusia baja, mereka sepertinya membidik penonton yang bukan anak-anak, penonton yang dikira bakal tidak terima idola mereka memakai celana dalam di luar celana panjang.
Sekuel lanjutan Man of Steel, Batman v Superman, bahkan lebih kacau lagi. Di sini, baik Batman maupun Superman jauh dari gambaran “orang berani yang rela berkorban” seperti yang digambarkan Bibi May dalam Spiderman 2.
Dalam film tersebut, dua superhero itu justru terkesan tampil sebagai sosok individualis, bahkan egois, yang hanya peduli diri sendiri dan orang-orang dekat mereka. Itu, lagi-lagi, bukan gambaran hero yang, kata Bibi May, dibutuhkan Henry dan anak-anak sebayanya.
Lalu, muncul Joker. Ia, bisa jadi, memang tidak terkait langsung dengan kancah superhero DC Studio. Namun, karena ada nama Bruce Wayne dan Wayne Enterprise dalam film itu, suka atau tidak kita akan mengaitkannya dengan Batman.
Dan, kalau benar dendam terhadap keluarga Wayne-lah yang “melahirkan” sisi jahat Joker, salahkah bila kita berasumsi bahwa gambaran superhero sebagai ibu kandung penjahat super mulai merembet pula ke jagad superhero DC Studio?
Kalau begitu, di mana kita bisa menemukan gambaran pahlawan sebagai “orang berani yang rela berkorban”, yang oleh bibi May disebut dibutuhkan anak-anak dan remaja awal seusia Henry?
Mungkinkah kita tidak lagi menganggap anak-anak membutuhkan sosok pahlawan seperti itu? Atau, mungkinkah kita sekarang menganggap orang dewasa lebih membutuhkan sosok superhero daripada anak-anak?
Editor : Alim Kusuma