Selasa, 22 Sep 2026 01:36 WIB

CARPAK? Raut Gusar Warga Kulon Pasar Tanjung Jember

Bupati Jember, Gus Fawait, dalam pertemuannya dengan para pedagang dan warga di Pasar Tanjung. INPhoto/Mochammad Faizin
Bupati Jember, Gus Fawait, dalam pertemuannya dengan para pedagang dan warga di Pasar Tanjung. INPhoto/Mochammad Faizin

Oleh: Mochammad Faizin
Wakabid Politik DPC GMNI Jember

“CARPAK!!!” Sebuah ungkapan kultural meluncur dari mulut Bupati Jember, Gus Fawait, dalam pertemuannya dengan para pedagang dan warga di Pasar Tanjung.

Kata tersebut mestinya menjadi perenungan etimologis bagi Gus Fawait untuk mempertanggungjawabkan ucapan dan integritas moralnya sebagai pejabat publik yang juga mengklaim diri sebagai kader Presiden Prabowo Subianto. 

Fawait tampak mengadaptasi istilah "omon-omon" ala Prabowo menjadi kata "carpak" yang terasa lebih karib dan lekat dengan kultur Jawa-Madura di Jember.

"Kalau saya ngomong beres, beres, beres, tapi kenyataannya tidak... CARPAK!!!" seru Fawait di hadapan pedagang dan warga Pasar Tanjung pada Rabu, 16 September 2026.

Pernyataan menohok itu menuntut keberanian untuk bercermin: menyibak realitas yang selama ini tersembunyi di balik janji-janji manis politik.

Realitas Buram di Kulon Pasar

Permasalahan di Pasar Tanjung bukanlah isu baru; ia telah mengakar puluhan tahun. Kini, komitmen kepemimpinan Gus Fawait diuji: sejauh mana sang bupati berpihak pada nasib rakyatnya?

Kecacatan tata kelola pasar dan kesemerawutan fungsi jalan tak hanya memicu jeritan para pedagang. Di sekeliling Pasar Tanjung, terdapat ratusan jiwa yang terhimpun dalam sejumlah RW dan puluhan RT. 
Artinya, dampak buruk salah kelola ini merembet langsung ke kehidupan sehari-hari warga pemukiman, khususnya warga Kulon Pasar.

Warga mengeluhkan disfungsi jalan yang sudah pada taraf mengkhawatirkan:

Akses Darurat Terhambat: Saat situasi kritis terjadi, armada PLN maupun ambulans kerap kesulitan menembus kemacetan. Bukannya segera menangani darurat, petugas justru kebingungan mencari celah untuk parkir. Keterlambatan fatal ini jelas mengancam keselamatan warga.

Krisis Kebersihan dan Sanitaasi: Saban pagi, para pemilik toko di sepanjang Jalan Samahudi harus bersiap dengan cairan pembersih untuk membasuh bau pesing di depan lapak mereka. 

Minimnya fasilitas toilet umum yang layak di dalam bangunan pasar memicu perilaku buang air sembarangan dari oknum tak bertanggung jawab.

Konflik Ruang dan Kerugian Material: Bahu jalan yang dipenuhi lapak liar membelakangi pertokoan, mematikan akses parkir bagi calon pembeli. Kendaraan pribadi warga yang keluar-masuk lingkungan sering terserempet pikap pedagang. 

Tak jarang, ban kendaraan warga digembosi secara sepihak, bahkan kaca spion mobil warga dijadikan gantungan barang dagangan.

Aktivitas Harian Lumpuh: Kemacetan parah saban pagi membuat orang tua kesulitan saat hendak mengantarkan anak menuju sekolah, hingga tak jarang anak-anak terlambat tiba di kelas.

Menagih Janji dan Kebijaksanaan Pemimpin

Serangkaian persoalan di atas menuntun warga pada satu kesimpulan tegas: Jalan di kawasan Kulon Pasar Tanjung harus segera ditata dan dikembalikan sesuai fungsinya.

Secara teknis, rekayasa lalu lintas di Jalan Samahudi dengan mengembalikan arus dari arah Selatan ke Utara—seperti yang diterapkan sepuluh tahun lalu—diyakini mampu menghidupkan kembali denyut ekonomi pertokoan sekaligus mengurai kemacetan pemukiman.

Merespons jeritan warga dan pedagang, Bupati Fawait sempat melontarkan janji heroik:

"Kasih waktu saya seminggu, saya yang akan mengundang panjenengan ke pendopo untuk membicarakan skenario penanganan masalah pedagang yang ada di jalan." — Fawait, Pasar Tanjung, 16 September 2026

Momentum inilah yang akan menguji kebijaksanaan seorang pemimpin dalam merumuskan solusi berkeadilan bagi semua pihak: pedagang, pekerja, kuli panggul, hingga warga pemukiman.

Pasar Tanjung butuh ketertiban yang konsisten dan berkelanjutan agar warga tak lagi terus-menerus disuguhi pemandangan praktik pungli dan premanisme. 

Menata Pasar Tanjung dengan adil dan mengembalikan fungsi jalan secara tegas adalah langkah awal untuk membuktikan visi besar “Jember Baru, Jember Maju” bukan sekadar jargon carpak belaka.

Editor : Alim Kusuma