SURABAYA, iNFONews.ID - Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Pamekasan, H. Ismail, S.H.I., M.I.P., mendapat kejutan saat menerima penghargaan Tokoh Muda Nahdliyin Inspiratif 2026 dari Forum Komunikasi Jurnalis Nahdliyin (FJN). Penghargaan itu diberikan tanpa pemberitahuan maupun komunikasi sebelumnya kepada penerima.
Penyerahan penghargaan berlangsung di Surabaya, Kamis (29/10/2026). Ketua DPC Partai Demokrat Pamekasan tersebut menerima langsung penghargaan dari Ketua Umum FJN, Muhamad Didi Rosadi, bersama jajaran pengurus organisasi.
Ismail mengaku tidak mengetahui dirinya masuk dalam daftar penerima penghargaan tahun ini. Karena itu, penyerahan secara mendadak tersebut menjadi kejutan sekaligus bentuk apresiasi yang tidak disangka sebelumnya.
"Terima kasih banyak kepada teman-teman FJN. Ini benar-benar surprise sekali. Tanpa pemberitahuan atau komunikasi apa pun sebelumnya, tiba-tiba penghargaan ini diberikan. Makanya saya sangat berterima kasih kepada teman-teman FJN," kata Ismail.
Ketua Umum Forkom Jurnalis Nahdliyin Muhamad Didi Rosadi, yang akrab disapa Diday, menjelaskan penghargaan Tokoh Muda Nahdliyin Inspiratif 2026 diberikan kepada 22 tokoh dari berbagai latar belakang.
Penentuan penerima dilakukan melalui seleksi internal dengan mempertimbangkan kiprah, kontribusi, dan rekam jejak masing-masing tokoh. Mereka berasal dari beragam bidang, mulai dari politik, dunia usaha, kalangan kiai, hingga generasi muda Nahdliyin.
"Para penerima ini kita tidak pernah ada komunikasi sebelumnya, tanpa ada pemberitahuan," ujar Diday.
Bagi Ismail, penghargaan tersebut bukan sekadar pencapaian personal. Ia berharap apresiasi itu menjadi dorongan untuk memperluas pengabdian sekaligus memotivasi generasi muda Nahdliyin agar berani mengambil peran di berbagai bidang.
"Mudah-mudahan ini menjadi motivasi untuk saya pribadi dan juga teman-teman generasi muda Nahdliyin," tuturnya.
Berawal dari Perjuangan Membangun Kepercayaan
Perjalanan Ismail hingga dipercaya menduduki posisi pimpinan DPRD Pamekasan tidak berlangsung instan. Ia harus membangun kepercayaan masyarakat dari awal, terlebih dirinya bukan berasal dari daerah yang kini menjadi basis pengabdian politiknya.
Ismail lahir di Kalimantan. Ia kemudian datang ke Pamekasan untuk melanjutkan pendidikan tinggi di UIN Madura, yang saat itu masih bernama STAIN Pamekasan.
Latar belakang sebagai pendatang membuatnya harus bekerja lebih keras dalam membangun jejaring sosial dan memperkenalkan diri kepada masyarakat. Tidak memiliki keluarga di daerah pemilihannya, ia mengandalkan pendekatan langsung untuk mendapatkan kepercayaan warga.
"Jadi saya di Pamekasan itu tidak ada keluarga, apalagi di Dapil Satu," ungkapnya.
Pengalaman tersebut dirasakan sejak pertama kali terjun ke dunia politik dan mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. Sebagai mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ismail mengingat bagaimana dirinya harus mendatangi berbagai tempat untuk menyosialisasikan pencalonannya.
Pasar hingga desa-desa menjadi sasaran kampanye. Ia bahkan berkeliling menggunakan mobil pikap dan pengeras suara untuk menjangkau masyarakat.
"Bahkan awal-awal maju jadi caleg, saya turun berkampanye keliling ke pasar-pasar, ke desa-desa, pakai toa dan pakai pikap," kenangnya.
Upaya membangun komunikasi secara langsung itu menjadi bagian dari proses panjang perjalanan politiknya hingga akhirnya dipercaya masyarakat dan menduduki jabatan Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Pamekasan.
Turut Berkontribusi dalam Pengembangan Organisasi NU
Selain menjalankan tugas politik dan legislatif, Ismail juga terlibat dalam kegiatan organisasi Nahdlatul Ulama (NU) di Pamekasan.
Bersama sejumlah kiai dan pengurus NU Kota Pamekasan, ia turut menginisiasi pembangunan kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kota Pamekasan.
Pembangunan kantor tersebut kini telah terealisasi. Ismail menyebut capaian itu sebagai salah satu pengalaman berharga dalam perjalanan pengabdian dan kebersamaannya dengan warga Nahdliyin.
"Dan alhamdulillah sekarang sudah terwujud," katanya.
Keterlibatan dalam organisasi NU menjadi bagian lain dari kiprah Ismail di luar aktivitas politik. Pengalaman membangun komunikasi dengan masyarakat dan lingkungan organisasi turut mewarnai perjalanan pengabdiannya di Pamekasan.
Penghargaan Tokoh Muda Nahdliyin Inspiratif 2026 dari FJN menjadi apresiasi atas rekam jejak Ismail dalam kehidupan politik, organisasi, dan pembangunan daerah.
Lebih dari sekadar penghargaan, apresiasi tersebut diharapkan dapat mendorong generasi muda Nahdliyin untuk mengembangkan kapasitas, memperluas pengabdian, serta mengambil peran dalam kehidupan sosial dan pembangunan daerah.
Editor : Alim Kusuma