Jumat, 06 Mar 2026 02:46 WIB

Warisan Dunia Bulu Sipong 4 Terjaga, Flora dan Fauna Bertambah

Karyawan PT Semen Tonasa melakukan monitoring lukisan seni cadas tertua di dunia berusia sekitar 44.000 tahun bergambar hewan pada dinding Leang (Gua) Bulu Sipong 4. INPhoto/SIG
Karyawan PT Semen Tonasa melakukan monitoring lukisan seni cadas tertua di dunia berusia sekitar 44.000 tahun bergambar hewan pada dinding Leang (Gua) Bulu Sipong 4. INPhoto/SIG

JAKARTA, iNFONews.ID – Indeks keanekaragaman hayati di kawasan Bulu Sipong, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Kawasan yang menaungi situs prasejarah Bulu Sipong 4 tersebut dikelola sebagai area konservasi oleh PT Semen Tonasa bersama induk usahanya, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG).

Bulu Sipong 4 dikenal sebagai lokasi seni cadas tertua di dunia. Lukisan prasejarah berusia sekitar 44.000 tahun menggambarkan adegan perburuan oleh manusia purba. 

Situs tersebut berada di Bukit Bulu Sipong, wilayah tambang tanah liat PT Semen Tonasa di Kelurahan Bontoa, Kecamatan Minasatene, Pangkep.

Untuk menjaga warisan arkeologi tersebut, perusahaan menetapkan kawasan Bulu Sipong seluas 31,64 hektare sebagai area konservasi. Area tersebut mencakup sekitar 11,3 persen dari total lahan tambang seluas 280 hektare.

Langkah tersebut diikuti pembangunan Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) dan Geopark Bulu Sipong pada 2018. Kawasan itu kini menjadi ruang perlindungan bagi situs purbakala sekaligus habitat alami berbagai flora dan fauna.

Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, mengatakan pengelolaan kawasan konservasi tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara aktivitas industri, lingkungan, dan nilai budaya.

“Penetapan kawasan Bulu Sipong sebagai area konservasi menunjukkan komitmen perusahaan menjaga keberlanjutan. Kawasan tersebut juga diharapkan menjadi sarana edukasi yang mengenalkan sejarah dan budaya peradaban kepada masyarakat luas,” kata Vita.

Perusahaan juga menggandeng Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Hasanuddin untuk menyusun Cultural Heritage Management Plan bagi situs Bulu Sipong 4.

“Dokumen itu menjadi panduan pengelolaan warisan budaya milik perusahaan agar nilai sejarahnya tetap terjaga secara berkelanjutan,” ujar Vita.

Pengelolaan kawasan dilakukan bersama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX. Pemantauan getaran dan kualitas udara dilakukan secara berkala. Jalan tambang juga disiram rutin guna menekan debu. 

Perusahaan turut membangun jalan cor sepanjang 1.800 meter, memasang pagar pengaman sepanjang 1.900 meter, serta memasang rambu pembatas akses di sekitar situs prasejarah.

Edukasi kepada karyawan dan masyarakat sekitar juga digencarkan agar keberadaan situs purbakala tetap terjaga.

Selain menjaga artefak prasejarah, kawasan tersebut berkembang menjadi habitat alami beragam spesies.

Data hingga 2025 menunjukkan terdapat 25 jenis flora dengan total 2.898 pohon. Beberapa di antaranya merupakan tanaman endemik Sulawesi seperti eboni, kayu kuku, dan bitti.

Kawasan itu juga menjadi rumah bagi 41 jenis satwa liar yang terdiri dari 37 jenis burung, dua jenis primata, satu unggas, serta satu reptil. 

Total satwa yang terpantau mencapai 869 ekor, termasuk monyet dare (Macaca maura) dan tarsius yang berstatus satwa endemik dilindungi.

Perbaikan ekosistem tercermin dari peningkatan Indeks Kehati flora menjadi 1,54 pada 2025, naik dari 1,38 pada 2020. Indeks Kehati fauna juga naik menjadi 2,85 dari sebelumnya 2,51.

“Kenaikan indeks tersebut menunjukkan kawasan Bulu Sipong semakin asri dan mampu melindungi keanekaragaman hayati sekaligus warisan arkeologi di dalamnya,” kata Vita.

Upaya konservasi tersebut juga mendapat perhatian di tingkat internasional. SIG dan PT Semen Tonasa diundang memaparkan program perlindungan Bulu Sipong dalam forum SPAFA International Conference on Southeast Asian Archaeology and Fine Arts (SPAFACON) 2024 serta Indonesia Geopark Leader Forum 2025.

Editor : Alim Kusuma