Oleh: Ali Masduki
Devisi SDM PFI Surabaya
MENERIAKKAN penolakan terhadap Kecerdasan Buatan (AI) di tengah hiruk-pikuk ruang redaksi hari ini adalah sebuah kenaifan.
Kita tidak bisa menutup mata bahwa mesin ini menawarkan satu hal yang sangat menggiurkan bagi industri media modern, yakni kecepatan gila-gilaan.
Namun, menerima AI mentah-mentah juga menjadi tiket ekspres menuju kematian jurnalisme yang berkarakter.
Di sinilah garis demarkasi antara jurnalis amatir dan wartawan berkelas diuji.
Jurnalis amatir memperlakukan AI layaknya bos baru. Mereka menyodorkan transkripsi mentah, membiarkan mesin meracik narasi, lalu menayangkan artikel hambar yang seragam tanpa beban moral.
Hasilnya bisa ditebak. Laporan yang kering, penuh kalimat klise yang meliuk-liuk tak tentu arah, dan kehilangan sensitivitas kemanusiaan.
Tulisan model begini akan langsung disapu bersih dan dibuang ke tempat sampah algoritma Google Discover.
Bagi jurnalis yang memiliki jam terbang tinggi, AI diposisikan secara terhormat sebagai pembantu di dapur redaksi, bukan koki utama.
Kita membutuhkan kecepatannya untuk merapikan rekaman wawancara yang tumpang-tindih atau memilah ribuan baris data dalam hitungan detik.
Selesai di sana, matikan mesinnya. Tugas merangkai kata, memilih diksi lokal yang menggigit, dan membangun struktur kalimat aktif yang bertenaga sepenuhnya menjadi hak prerogatif otak kita.
Kekuatan visual yang menangkap detail situasi di lapangan adalah ruang gelap yang tidak akan pernah bisa dimasuki oleh kode-kode biner AI.
Mesin tidak tahu rasanya ketegangan saat berhadapan dengan narasumber yang menghindar, atau getirnya suasana di lokasi bencana. Detail emosional itulah yang kita suntikkan ke dalam setiap paragraf.
Kita padukan efisiensi kerja mesin dengan keliaran intuisi manusia untuk menghasilkan tulisan yang dinamis, kadang pendek menyentak, kadang panjang mengalir rapi.
Kita tidak perlu takut pada gempuran teknologi ini, selama kita menolak pasrah. Memanfaatkan AI untuk memotong kompas kerja teknis adalah kecerdasan, tetapi membiarkan AI merebut kedaulatan berpikir adalah pelucutan senjata secara sukarela.
Produk jurnalistik terbaik tetaplah yang lahir dari rahim pengalaman nyata di lapangan, yang ditulis dengan darah, keringat, dan ketajaman rasa seorang manusia.
Salam AI
Editor : Alim Kusuma