Jumat, 10 Jul 2026 21:04 WIB

Mengenang Maestro Balada: Lagu-lagu Gombloh Bergema di Pameran dan Panggung Surabaya

Mengenang Gombloh, penggemar berkumpul di Galeri Merah Putih Balai Pemuda Surabaya (IN/PHOTO: IST)
Mengenang Gombloh, penggemar berkumpul di Galeri Merah Putih Balai Pemuda Surabaya (IN/PHOTO: IST)

SURABAYA, INFONews.ID – Hanya dengan mendengar sebait lirik, kenangan langsung terbang ke sosok musisi berkacamata hitam, rambut gondrong, topi Mexico, dan jaket kulit ikonik. Itulah Soedjarwoto Soemarsono alias Gombloh, sang maestro balada Indonesia yang meski telah tiada sejak 1988, karyanya tetap hidup dan membumi di hati masyarakat.

Kali ini, bukan hanya lewat radio, ribuan penggemar Gombloh berkumpul di Galeri Merah Putih Balai Pemuda Surabaya. Selama tiga hari (10–13 Juli 2026), digelar Pameran Foto Gombloh Sasana Shanti Antropologi dan Lemon Trees anno 69 Reunion. Acara ini diisi dengan penampilan musisi Surabaya yang membawakan lagu-lagu legendaris Gombloh serta berbagai apresiasi seni.

Salah satu momen paling menggugah adalah pembacaan sajak berjudul “Balada Anak Negeri” oleh Yoyok Apri. Sajak tersebut merangkum hampir seluruh karya Gombloh, dari semangat nasionalisme hingga kepedulian terhadap kaum marjinal.

“38 tahun kau telah pergi, semua karyamu tetap dikenang sepanjang hari…

Berkibarlah bendera negeriku (Merah Putih)…

Karya-karyamu sungguh sangat relevan, ingatkan kita agar tak lupa tradisi dan kebudayaan,”

demikian sebagian bait sajak Yoyok Apri yang disambut tepuk tangan meriah.

Acara juga diwarnai penampilan seniman nyentrik Seket Astakula, Sekaring Jagad, Laily & Family, Yuli Zedeng, Ludruk Luntas, Esthi Susanti Hadiono, Arul Lamandanu, dan banyak musisi lainnya.

Penggemar Sejati dari Jauh

Di antara ratusan pengunjung, sosok Cep Ocim (Abah Ocim) menjadi salah satu yang paling menyentuh. Musisi solo asal luar Surabaya ini rela datang khusus ke Surabaya hanya untuk mengenang idolanya.

“Saya sejak kelas 1 SMP sudah suka beliau. Pertama mendengarkan lagu Berita Cuaca, Ujung Kulon Baluran. Dari kecil hanya ingin ketemu Gombloh, tapi nggak sempat karena beliau meninggal tahun 1988,” ujar Cep Ocim dengan suara bergetar, Jumat (10/7/2026).

Cep Ocim mengaku Gombloh adalah sosok yang paling dikaguminya di dunia musik, bahkan di atas John Lennon. Ia sangat terkesan dengan kesederhanaan Gombloh, kepeduliannya terhadap perempuan, anak jalanan, dan upayanya mengentaskan prostitusi di kawasan Dolly.

“Gombloh bagi saya itu adalah sosok yang saya kagumi di antara semua musisi di bumi galaksi. Baru setelah itu John Lennon,” katanya sambil mengusap air mata.

Bukti cintanya yang luar biasa terlihat dari nama kedua putranya: Lazuardi Gilang Gemilang dan Deka Sekar Mayang, yang diambil langsung dari lirik lagu Gombloh.

Sejak bisa memainkan tiga chord gitar, Cep Ocim sudah membawakan lagu-lagu Gombloh. Ia pernah berziarah ke makam Gombloh di Surabaya pada 2011, 2013, 2016, dan 2020. Kali ini, ia kembali hadir bersama komunitas Memories of Gombloh (Mogers) dan Lemon Trees.

Warisan yang Abadi

Gombloh dikenal dengan gaya hidup sederhana dan lirik-lirik yang peduli pada realitas sosial. Lagu-lagunya seperti Konsumsi Cinta, Doa Seorang Pelacur, Nyanyian Seorang Anak Pencuri, Selamat Pagi Kotaku, hingga Kebyar-Kebyar dan Bendera Merah Putih tetap relevan hingga kini.

Acara di Balai Pemuda ini menjadi bukti bahwa meski Gombloh telah “damai berada di nirwana-Nya”, semangat dan karyanya terus menginspirasi generasi baru.

“Matur suwon Cak Gombloh. Kami cinta padamu,” tutup sajak Yoyok Apri yang disambut haru para hadirin.

Dengan semangat seperti ini, lagu-lagu Gombloh dipastikan akan terus bergema, bukan hanya di radio, tapi juga di panggung-panggung, galeri, dan hati anak negeri. (*)

Editor : Tudji Martudji