Sabtu, 13 Jun 2026 08:22 WIB

Bersuara Beda, Haruskah Dianggap Dosa?

Bayangkan bila penegak hukum “takut bersuara beda” dan memilih mengikuti suara massa. INPhoto/Ilustrasi Gemini
Bayangkan bila penegak hukum “takut bersuara beda” dan memilih mengikuti suara massa. INPhoto/Ilustrasi Gemini

Oleh: Soeparli D. Atmadji
Mantan wartawan, pengamat, dan penyuka film.

SAYA nonton film The Raid bersama anak perempuan saya. Saat itu dia masih sekolah. Saya ingat, dia menangis saat menonton film ini dan bilang, “Kok ada ya yang tega bikin film kayak gitu.”

Dia juga bilang, “Teman-teman saya bilang film ini bagus. Saya kok tidak bisa menikmati ya.” Dan tampak sekali dia merasa bersalah gara-gara itu.

Bersuara beda, sepertinya, kian dianggap “dosa” belakangan ini. Lihat saja di kolom komentar berbagai berita atau konten media sosial, terutama yang membahas isu-isu sensitif. Mereka yang berkomentar berbeda cenderung di-bully.

Saya tidak menemukan cukup data apakah tren seperti itu hanya terjadi di sini atau juga terjadi di negara lain. Yang saya tahu, The Raid sempat bikin “geger” di Amerika Serikat (AS). Gara-garanya, kurang lebih, ya “suara beda” itu.

Ceritanya, The Raid mencatat skor Tomatometer 93 persen di situs Rotten Tomatoes. Sekadar mengingatkan, Rotten Tomatoes adalah situs yang mengumpulkan ulasan film dan televisi oleh kritikus di AS. Sedangkan Tomatometer adalah persentase ulasan positif dari kritikus profesional. Jadi, Tomatometer 93 persen berarti 93 persen kritikus menilai positif film The Raid.

Nah, kritikus film Roger Ebert memberi The Raid satu bintang (dari empat bintang). Itu tentu jauh berbeda dibandingkan skor Tomatometer The Raid yang mencapai 93 persen. Akibatnya, Ebert di-bully habis-habisan. Padahal, Ebert ini bisa dibilang kritikus film paling top sepanjang sejarah di AS. Toh, ia di-bully hanya karena “bersuara beda”.

Umumnya, para penggemar yang mem-bully Ebert menyindir, “Ebert sudah terlalu tua. Jadi, dia tidak lagi bisa menikmati film jenis ini.” Entah terganggu dengan bully-an itu atau apa, Ebert sampai merasa perlu menjawab. Intinya, dia bilang, “Saya bisa menikmati film jenis itu. Tapi, saya menuntut lebih.”

Menuntut lebih, bagi orang yang telah menonton ratusan, mungkin malah ribuan, film seperti Ebert memang bisa berarti banyak hal. Meski begitu, pihak lain seperti tidak mau terima ketika dia bersuara beda. (Kalau di tulisan sebelumnya saya bilang menghindari bikin review, bisa dibilang ini salah satu pemicunya).

Melihat itu, tren “suara beda dianggap dosa” tampaknya menjangkiti AS juga. Karena itu, bisa jadi kita perlu angkat topi untuk Pak Ebert. Lepas dari ulasan siapa yang lebih tepat, tidak selayaknya kita menuntut semua orang harus bersuara sama, lalu menganggap perbedaan sebagai dosa.

Sebab, implikasinya bisa mengerikan bila itu terjadi. Sekadar contoh ekstrem yang mudah-mudahan tidak terjadi. Bayangkan bila penegak hukum “takut bersuara beda” dan memilih mengikuti suara massa. Tentu menyedihkan bila perkara divonis berdasarkan suara massa, bukan berdasarkan aturan perundang-undangan.

Tentu menyedihkan bila para wakil rakyat di parlemen, seperti kata Iwan Fals, hanya bisa “menyanyikan lagu setuju” karena takut di-PAW-kan bila bersuara beda. Tentu menyedihkan pula bila para aktivis, jurnalis, dan kritikus hanya bisa nge-fans karena takut akan di-Yaman-kan bila bersuara beda.

Akhirnya, saya jadi ingat bagaimana dulu saya menghibur anak saya yang tampak “tersiksa” karena tidak bisa menikmati The Raid seperti teman-temannya. Saya cerita penggalan pagelaran wayang kulit Ki Narto Sabdo. Kresna mengkritik Pandawa karena memenuhi undangan Kurawa untuk sesukan dhadhu (berjudi dadu).

Saat itu, Werkudara (saudara kedua Pandawa) bilang, “Saya sebetulnya juga tidak setuju. Tapi empat saudaraku yang lain setuju. Jadi saya kalah suara. Empat banding satu. Sekarang, kalau suara Kresna dihitung, kita tetap kalah suara. Empat banding dua.”

Dan tanggapan Kresna di luar dugaan, “Yen kowe kabeh arep dha edan ya kana. Aku tak waras dhewe.” (Kalau kalian mau pada gila ya silakan. Aku pilih tetap waras).

Jadi, haruskah suara beda selalu dianggap dosa?

 

Editor : Alim Kusuma