Oleh: Ulul Albab
Ketua ICMI Jawa Timur
SURABAYA, iNFONews.ID - Iran tidak runtuh. Padahal yang menyerang adalah Amerika Serikat, negara dengan kekuatan militer terbesar di dunia. Logika sederhana kita biasanya mengatakan: jika Amerika sudah turun tangan secara militer, negara yang menjadi lawannya akan segera tumbang.
Baca juga: Selat Hormuz Membara: Indonesia di Ambang Badai Ekonomi dan Krisis Energi
Namun Iran ternyata berbeda. Negara itu tetap berdiri. Sistem pemerintahannya tetap berjalan. Bahkan dalam beberapa hal, tekanan dari luar justru membuat solidaritas internal mereka semakin menguat.
Pertanyaan pun muncul: mengapa Iran bisa tetap bertahan? Jawabannya tidak sesederhana kekuatan militer. Ada faktor yang jauh lebih dalam dari sekadar jumlah pesawat tempur atau rudal yang dimiliki sebuah negara.
Salah satu faktor penting adalah struktur kekuasaan Iran yang sangat terkonsolidasi. Banyak orang mengira negara itu hanya bergantung pada satu figur pemimpin tertinggi.
Padahal sistem politik Iran ditopang oleh jaringan institusi yang cukup kuat: ulama, militer, lembaga politik, serta birokrasi negara yang saling menopang.
Di antara pilar penting sistem tersebut adalah Pengawal Revolusi Iran atau IRGC. Lembaga ini bukan sekadar militer biasa. Ia lahir dari semangat revolusi tahun 1979 dan berperan menjaga ideologi negara sekaligus stabilitas politiknya.
Karena itu, ketika tekanan eksternal datang, negara tidak serta-merta goyah. Sistemnya tetap berjalan. Struktur kekuasaannya tetap berfungsi.
Faktor kedua adalah ideologi. Sejak Revolusi Islam 1979, Iran tidak hanya membangun negara, tetapi juga membangun narasi politik yang kuat: perlawanan terhadap dominasi asing.
Dalam narasi ini, konflik dengan Amerika tidak dipandang sekadar konflik politik biasa. Ia dilihat sebagai bagian dari perjuangan mempertahankan kedaulatan nasional.
Ideologi seperti ini sering kali menjadi sumber daya politik yang besar. Ketika tekanan dari luar meningkat, masyarakat justru cenderung bersatu menghadapi ancaman bersama.
Sejarah dunia menunjukkan bahwa musuh bersama sering kali menjadi perekat nasionalisme sebuah bangsa.
Faktor berikutnya adalah kemampuan Iran beradaptasi dengan tekanan ekonomi. Selama puluhan tahun negara itu hidup di bawah sanksi internasional.
Kondisi ini memaksa Iran mengembangkan strategi yang mereka sebut sebagai resistance economy, ekonomi ketahanan.
Konsepnya sederhana: sebisa mungkin bertahan dengan kekuatan sendiri. Produksi dalam negeri diperkuat, ketergantungan terhadap impor dikurangi, dan jaringan perdagangan dialihkan ke negara-negara yang tidak mengikuti sanksi Barat.
Baca juga: SP IMPPI Desak Protokol Darurat Lindungi Pekerja Migran Indonesia di Konflik Arab
Memang ekonomi Iran menghadapi banyak kesulitan. Inflasi tinggi dan tekanan ekonomi sering terjadi. Tetapi negara itu tidak runtuh. Mereka sudah terbiasa hidup dalam kondisi tekanan.
Selain itu, Iran juga mengembangkan strategi militer yang berbeda. Mereka tidak mencoba menandingi kekuatan militer Amerika secara langsung. Hal itu hampir mustahil.
Sebaliknya, Iran mengembangkan strategi perang asimetris; perang yang tidak bergantung pada kekuatan konvensional semata.
Penggunaan drone murah, jaringan sekutu regional, serta kemampuan menyerang titik-titik strategis membuat konflik menjadi lebih kompleks bagi lawannya.
Dalam perang modern, sering kali bukan pihak yang paling kuat yang menang, tetapi pihak yang paling mampu bertahan dalam jangka panjang.
Ada pula faktor geografis yang tidak kalah penting. Iran berada di kawasan yang sangat strategis bagi sistem energi dunia.
Di dekat wilayahnya terdapat Selat Hormuz, jalur laut yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia setiap hari.
Baca juga: Bank Jatim Sabet Dua Penghargaan Sekaligus Dalam Ajang Infobank Award 2025
Artinya, setiap konflik yang melibatkan Iran hampir pasti berdampak pada stabilitas ekonomi global. Harga energi bisa melonjak dan pasar dunia bisa terguncang.
Karena itu konflik dengan Iran tidak pernah menjadi persoalan regional semata. Ia selalu memiliki implikasi global.
Dari sini kita bisa melihat bahwa kekuatan sebuah negara tidak hanya diukur dari jumlah senjata yang dimilikinya.
Ketahanan ideologi, stabilitas politik, solidaritas masyarakat, serta kemampuan beradaptasi dengan tekanan sering kali jauh lebih menentukan.
Iran mungkin bukan negara paling kuat secara militer. Namun negara itu memiliki daya tahan politik yang cukup kuat.
Dan dalam geopolitik dunia, bertahan sering kali sudah merupakan kemenangan tersendiri.
Bagaimana Indonesia?...
Editor : Alim Kusuma