Jumat, 30 Jan 2026 17:41 WIB

Karapan Sapeh Sakak, Harmoni Budaya dan Sportivitas Khas Probolinggo

  • Joki memacu sapinya saat gelaran Karapan Sapeh Sakak di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Sabtu (27/12/2025). INPhoto/Ainul Yakin

    Joki memacu sapinya saat gelaran Karapan Sapeh Sakak di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Sabtu (27/12/2025). INPhoto/Ainul Yakin

  • Joki memacu kecang sapinya dalam gelaran Karapan Sapeh Sakak areal persawahan Desa Jangur, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, pada Sabtu (27/12/2025). INPhoto/Ainul Yakin

    Joki memacu kecang sapinya dalam gelaran Karapan Sapeh Sakak areal persawahan Desa Jangur, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, pada Sabtu (27/12/2025). INPhoto/Ainul Yakin

  • Gelaran Karapan Sapeh Sakak areal persawahan Desa Jangur, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, pada Sabtu (27/12/2025). INPhoto/Ainul Yakin

    Gelaran Karapan Sapeh Sakak areal persawahan Desa Jangur, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, pada Sabtu (27/12/2025). INPhoto/Ainul Yakin

  • Sorak penonton dan derap kaki sapi berpacu mewarnai Karapan Sapeh Sakak di areal persawahan Desa Jangur, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, pada Sabtu (27/12/2025).INPhoto/Ainul Yakin

    Sorak penonton dan derap kaki sapi berpacu mewarnai Karapan Sapeh Sakak di areal persawahan Desa Jangur, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, pada Sabtu (27/12/2025).INPhoto/Ainul Yakin

  • Peserta Karapan Sapeh Sakak melaju kencang di areal persawahan Desa Jangur, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, pada Sabtu (27/12/2025).INPhoto/Ainul Yakin

    Peserta Karapan Sapeh Sakak melaju kencang di areal persawahan Desa Jangur, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, pada Sabtu (27/12/2025).INPhoto/Ainul Yakin

  • Tradisi balap sapi ini bukan sekadar adu kecepatan, melainkan ruang hidup bagi nilai budaya, sportivitas, dan identitas masyarakat Madura yang diwariskan lintas generasi. INPhoto/Ainul Yakin

    Tradisi balap sapi ini bukan sekadar adu kecepatan, melainkan ruang hidup bagi nilai budaya, sportivitas, dan identitas masyarakat Madura yang diwariskan lintas generasi. INPhoto/Ainul Yakin

  • Bupati Probolinggo, dr. Muhammad Haris Damanhuri Romli atau yang akrab disapa Gus Haris, mendokumentasikan Karapan Sapeh Sakak areal persawahan Desa Jangur, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, pada Sabtu (27/12/2025). INPhoto/Ainul Yakin

    Bupati Probolinggo, dr. Muhammad Haris Damanhuri Romli atau yang akrab disapa Gus Haris, mendokumentasikan Karapan Sapeh Sakak areal persawahan Desa Jangur, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, pada Sabtu (27/12/2025). INPhoto/Ainul Yakin

PROBOLINGGO, iNFONews.ID – Dentuman sorak penonton dan derap kaki sapi berpacu mewarnai areal persawahan Desa Jangur, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, pada Sabtu (27/12/2025). Itulah gelaran Karapan Sapeh Sakak. 

Tradisi balap sapi ini bukan sekadar adu kecepatan, melainkan ruang hidup bagi nilai budaya, sportivitas, dan identitas masyarakat Madura yang diwariskan lintas generasi.

Sejak pagi hari, ratusan warga memadati arena karapan. Pasangan sapi unggulan melaju kencang di lintasan tanah, dikendalikan joki berpengalaman yang mengandalkan kekompakan dan strategi. 

Setiap pacuan disambut sorak sorai, menciptakan suasana meriah yang mencerminkan kuatnya ikatan sosial dalam tradisi ini.

Karapan Sapeh Sakak dikenal sebagai kelas bergengsi. Sapi-sapi yang berlaga merupakan hasil perawatan intensif pemiliknya, mulai dari pola pakan hingga latihan rutin. 

Di balik kecepatan, tersimpan filosofi kerja keras, kedisiplinan, dan kebersamaan antara pemilik, joki, dan hewan pacuan.

Lebih dari sekadar hiburan rakyat, Karapan Sapeh Sakak menjadi sarana pelestarian warisan budaya tak benda. Tradisi ini juga memberi kontribusi nyata bagi pariwisata daerah, menarik pengunjung dari berbagai wilayah dan menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.

Di tengah arus modernisasi, Karapan Sapeh Sakak yang dihelat Pemkab Probolinggo ini tetap bertahan sebagai bukti bahwa kearifan lokal mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Tradisi ini diharapkan terus bergema di tingkat nasional hingga mancanegara.

Editor : Alim Kusuma