NGAWI, iNFONews.ID - Ironi melanda dapur warga Kabupaten Ngawi menjelang perayaan Idul Fitri 2026. Di tengah persiapan menyambut hari raya, stok LPG 3 kg justru raib dari pasaran selama dua pekan terakhir.
Kondisi ini memaksa sebagian ibu rumah tangga kembali menggunakan kayu bakar agar tungku tetap menyala untuk kebutuhan sahur dan berbuka puasa.
Kelangkaan ini bukan sekadar barang yang susah dicari, tapi juga soal harga yang mencekik leher. Di tingkat pengecer, gas melon yang seharusnya disubsidi kini dibanderol antara Rp35.000 hingga Rp40.000 per tabung. Angka ini melambung jauh melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Situasi janggal di Ngawi ini memicu reaksi keras dari Anggota DPRD Jawa Timur, Hartono. Ia mempertanyakan mengapa hanya wilayah Ngawi yang mengalami kekosongan stok, sementara daerah tetangga di sekitarnya cenderung stabil dan aman.
"Muncul pertanyaan besar bagi kita semua. Kenapa hanya di Ngawi? Apakah ada masalah di penyaluran, atau justru ada pihak-pihak nakal yang sengaja mencari keuntungan?" ujar Hartono saat memberikan keterangan, Senin (16/3/2026).
Menurutnya, disparitas ketersediaan stok antarwilayah ini menjadi sinyal kuat adanya sumbatan dalam rantai distribusi internal.
Hartono mendesak agar evaluasi tidak hanya dilakukan di balik meja, tetapi terjun langsung memantau alur dari agen hingga pangkalan.
Ia mencurigai adanya praktik penimbunan atau pengalihan jalur distribusi yang membuat gas subsidi tersebut gagal sampai ke tangan rakyat kecil.
"Barang ini disubsidi memakai uang rakyat. Jika daerah lain aman tapi Ngawi langka, berarti pengawasan kita kecolongan. Kita perlu audit total, jangan sampai laporan di atas kertas terlihat bagus padahal realitanya warga menjerit," tegasnya.
Politisi ini pun mendorong pemerintah daerah, distributor, serta aparat penegak hukum untuk segera bersinergi. Langkah konkret seperti penertiban pangkalan yang bandel dan memastikan pasokan lancar menjadi harga mati sebelum Idul Fitri tiba.
Bagi warga, ketersediaan gas melon adalah urusan hidup mati. "Tanpa gas, dapur tidak mengepul dan roda ekonomi usaha mikro pasti berhenti. Jangan biarkan oknum berpesta di atas penderitaan masyarakat yang ingin merayakan lebaran dengan tenang," pungkas Hartono.
Editor : Alim Kusuma