Selasa, 09 Jun 2026 11:24 WIB

Lewat Kamera, Anak-Anak Sidoarjo Ceritakan Dunia dalam Pameran "What We See"

Pameris  dari anggota klub fotografi Sekolah Dasar Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo berdiri di depan karya fotonya di Wisma Jerman, Surabaya, Sabtu (6/6/2026). INPhoto: Kiking/Disabilitas Berkarya
Pameris  dari anggota klub fotografi Sekolah Dasar Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo berdiri di depan karya fotonya di Wisma Jerman, Surabaya, Sabtu (6/6/2026). INPhoto: Kiking/Disabilitas Berkarya

SURABAYA, iNFONews.ID - Puluhan karya fotografi hasil bidikan siswa sekolah dasar menghiasi ruang pamer Wisma Jerman Surabaya dalam ajang bertajuk "What We See". Pameran yang berlangsung pada 7-9 Juni 2026 tersebut menghadirkan perspektif unik anak-anak dalam memotret kehidupan sehari-hari.

Sebanyak 16 anggota Klub Fotografi SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo ambil bagian dalam pameran tersebut. Lewat kamera yang mereka genggam, para peserta merekam berbagai peristiwa sederhana di sekitar mereka, mulai dari ekspresi wajah teman, permainan cahaya, suasana lingkungan, hingga detail-detail kecil yang kerap luput dari perhatian orang dewasa.

Kurator pameran, Idealita Ismanto, menjelaskan seluruh karya yang dipamerkan merupakan hasil seleksi dari dokumentasi fotografi para siswa selama hampir tiga tahun mengikuti kegiatan klub fotografi.

Menurutnya, pameran tersebut menjadi bukti bahwa fotografi bukan hanya milik kalangan profesional. Dengan pendampingan yang tepat, anak-anak pun mampu menghasilkan karya visual yang memiliki cerita dan sudut pandang menarik.

Sebanyak 16 fotografer cilik yang terlibat dalam pameran itu antara lain Rafardan Abhinara Atmaja, Brian Delta Ramadhan, Muhammad Rayyan Firdaus, Celine Justopo, Nicole Arno Priyono, Nelson Arno Priyono, Muhammad Ammar Faqih, Giannino Arkananta Byan, Helsa Emunahope, Estrella Dya Kumaralalita, Leona Sarah Emyra, Jasmine Alyka Fernanda, Deandra Rahmi Davintio, Keanu Pramono Dewa, Ibrahim Maliq Parsa, dan Keanu Pramono.

Kepala SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo, Ririn Indriyanti, menyampaikan apresiasinya terhadap kreativitas para siswa yang mampu mengubah hasil pengamatan menjadi karya visual penuh makna.

Ia menilai setiap foto yang dipamerkan bukan sekadar dokumentasi, melainkan gambaran kepekaan anak-anak dalam memahami lingkungan sekitar sekaligus keberanian mereka untuk mengekspresikan diri melalui media fotografi.

"Pameran ini menunjukkan bahwa anak-anak memiliki kemampuan untuk melihat dan menceritakan dunia dengan cara yang berbeda. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus mendorong mereka terus berkarya," ujarnya.

Sementara itu, Management Advisor Wisma Jerman, Mike Neuber, menilai pameran tersebut memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk melihat berbagai hal dari sudut pandang yang jarang diperhatikan.

Menurut Mike, orang dewasa dapat belajar banyak dari cara anak-anak memahami dan memaknai lingkungan di sekitar mereka. Karena itu, kehadiran pameran semacam ini dinilai mampu membuka perspektif baru bagi pengunjung.

Beragam tema hadir dalam pameran tersebut. Mulai dari potret anak yang mengintip dari balik lubang tembok, ekspresi spontan teman sebaya, hingga eksperimen fotografi menggunakan kecepatan rana rendah yang menghasilkan efek visual abstrak.

Salah satu peserta pameran, Celine Justopo, mengaku menikmati proses belajar fotografi yang selama ini dijalaninya. Selain menjadi hobi yang menyenangkan, keterampilan tersebut juga dimanfaatkannya untuk membantu memotret produk usaha milik orang tuanya di rumah.

Tak hanya menampilkan karya foto, rangkaian kegiatan juga diisi diskusi bersama pendiri Disabilitas Berkarya, Leo Arif Budiman. Dalam sesi tersebut, peserta diajak memahami proses belajar fotografi sekaligus berbagai tantangan yang kerap dihadapi dalam perjalanan berkarya.

Melalui "What We See", para siswa tidak hanya memamerkan hasil jepretan kamera, tetapi juga menyampaikan cerita, rasa ingin tahu, serta imajinasi mereka tentang kehidupan sehari-hari. 

Pameran ini terbuka untuk masyarakat umum dan diharapkan menjadi ruang interaksi antara anak-anak, pelaku seni visual, pendidik, serta publik yang ingin menikmati dunia dari sudut pandang berbeda.

Editor : Alim Kusuma