Jumat, 30 Jan 2026 16:28 WIB

Arus Kecil yang Menyalakan Desa

  • Warga mencoba aliran listrik hasil dari PLTPh untuk mengisi daya baterai ponsel di Desa Betek Taman, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo. INPhoto/Ainul Yakin

    Warga mencoba aliran listrik hasil dari PLTPh untuk mengisi daya baterai ponsel di Desa Betek Taman, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo. INPhoto/Ainul Yakin

  • PLTPh merupakan pembangkit listrik berskala sangat kecil dengan mekanisme yang sederhana. Keberadaannya bahkan telah dikenal warga jauh sebelum listrik PLN masuk ke desa ini.

    PLTPh merupakan pembangkit listrik berskala sangat kecil dengan mekanisme yang sederhana. Keberadaannya bahkan telah dikenal warga jauh sebelum listrik PLN masuk ke desa ini.

  • Tak sedikit pula PLTPh yang mampu menghasilkan daya lebih besar, bahkan mencapai di atas 400 watt. Daya sebesar itu memungkinkan penggunaan peralatan rumah tangga seperti penanak nasi elektrik.

    Tak sedikit pula PLTPh yang mampu menghasilkan daya lebih besar, bahkan mencapai di atas 400 watt. Daya sebesar itu memungkinkan penggunaan peralatan rumah tangga seperti penanak nasi elektrik.

PROBOLINGGO, iNFONews.ID - Aliran sungai kecil yang deras meliuk di sepanjang perbukitan Desa Betek Taman, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo. Sungai ini terbentuk dari percabangan aliran-aliran yang lebih kecil di kawasan perbukitan di atasnya. Dari derasnya arus inilah sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Pikohidro (PLTPh) berdiri dan dimanfaatkan warga.

PLTPh merupakan pembangkit listrik berskala sangat kecil dengan mekanisme yang sederhana. Keberadaannya bahkan telah dikenal warga jauh sebelum listrik PLN masuk ke desa ini. PLTPh, yang oleh masyarakat setempat lebih akrab disebut kincir, menjadi salah satu cara awal warga menikmati aliran listrik.

Meski kini jaringan listrik PLN telah menjangkau Desa Betek Taman, pemanfaatan PLTPh belum sepenuhnya ditinggalkan. Sejumlah warga, terutama yang berprofesi sebagai petani nira, masih mengandalkan listrik dari kincir air dengan daya sekitar 200 watt untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti penerangan dan menyalakan televisi.

Tak sedikit pula PLTPh yang mampu menghasilkan daya lebih besar, bahkan mencapai di atas 400 watt. Daya sebesar itu memungkinkan penggunaan peralatan rumah tangga seperti penanak nasi elektrik. Beberapa di antaranya telah digunakan selama lebih dari sepuluh tahun.

Namun, menelusuri sejarah awal penggunaan PLTPh di Desa Betek Taman bukan perkara mudah. Informasi yang beredar lebih banyak berupa cerita tutur yang diwariskan dari mulut ke mulut, tanpa catatan tertulis atau dokumentasi yang memadai.

Salah satu warga mengungkapkan, ia menggunakan PLTPh sejak 2005 hingga 2012 sebelum akhirnya beralih ke listrik PLN. Peralihan itu dilakukan karena daya listrik dari kincir kerap tidak mencukupi kebutuhan rumah tangga.

“Saat memakai PLTPh, penggunaannya sangat terbatas, hanya untuk dua lampu neon dan satu televisi,” tuturnya. Pada masa itu, peralatan seperti setrika dan penanak nasi elektrik belum bisa digunakan karena keterbatasan daya.

Kini, warga setempat berencana kembali memasang PLTPh yang sempat ditinggalkan selama dua tahun terakhir. Bukan untuk kebutuhan rumah tangga, melainkan sebagai sumber penerangan jalan di kawasan Wanarata. Hingga kini, jalan tanah berbatu yang sempit di kawasan tersebut masih belum tersentuh lampu penerangan.

Editor : Alim Kusuma