Minggu, 07 Jun 2026 22:36 WIB

Hadapi Disrupsi, Gus Yahya Minta Pesantren Perkuat Spirit dan Inovasi

Gus Yahya membuka Workshop Pengasuh Pesantren Se-Indonesia Angkatan III di Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, Sabtu (6/6/2026). INPhoto/FJN
Gus Yahya membuka Workshop Pengasuh Pesantren Se-Indonesia Angkatan III di Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, Sabtu (6/6/2026). INPhoto/FJN

CIREBON, iNFONews.ID – Gelombang perubahan yang dipicu perkembangan teknologi, pergeseran sosial, hingga tantangan ekonomi dinilai menuntut pesantren melakukan transformasi. Namun perubahan tersebut tidak boleh menghilangkan identitas utama pesantren sebagai pusat pembinaan spiritual dan penguatan umat.

Pesan itu disampaikan Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya saat membuka Workshop Pengasuh Pesantren Se-Indonesia Angkatan III di Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (6/6/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Gus Yahya mengapresiasi inisiatif Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, KH Imam Jazuli, yang menggagas program Workshop 5.000 Pengasuh Pesantren Se-Indonesia sebagai langkah menyiapkan pesantren menghadapi era disrupsi.

Sekitar 150 pengasuh pesantren dari berbagai daerah di Jawa Barat mengikuti kegiatan tersebut.

Menurut Gus Yahya, perubahan yang berlangsung sangat cepat menuntut para kiai mampu menjaga keseimbangan antara inovasi dan penguatan nilai-nilai keislaman yang menjadi fondasi pesantren.

"Di tengah perubahan saat ini, para kiai harus tetap menghidupkan quwwah ruhaniyah atau kekuatan spiritual pesantren sebagai pilar untuk melahirkan kader-kader yang menjadi kekuatan peradaban," ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa pesantren selama ini tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga pusat pembentukan karakter, penguatan moral, dan penjagaan umat.

Pesantren Harus Membaca Arah Perubahan

KH Imam Jazuli mengatakan workshop tersebut lahir dari kegelisahan melihat perubahan besar yang terjadi di hampir seluruh sektor kehidupan.

Menurutnya, banyak institusi besar gagal bertahan karena terlambat beradaptasi. Sebaliknya, lembaga yang mampu membaca arah perubahan justru berkembang lebih cepat.

"Workshop ini menjadi ruang berbagi strategi agar pesantren mampu merespons perubahan secara tepat dan proaktif," katanya.

Ia menilai persepsi bahwa minat masyarakat terhadap pesantren mengalami penurunan tidak sepenuhnya benar. Yang terjadi justru perubahan pilihan masyarakat terhadap model pendidikan pesantren yang dianggap lebih relevan dengan kebutuhan masa kini.

"Terjadi migrasi dari pesantren model lama ke pesantren model baru. Banyak pesantren yang usianya belum sepuluh tahun tetapi jumlah santrinya tumbuh sangat pesat. Artinya, kemampuan membaca kebutuhan zaman menjadi faktor penting," ujar Imam Jazuli.

Tantangan Abad Kedua NU

Dalam forum tersebut, Imam Jazuli juga mengajak warga Nahdlatul Ulama membangun semangat kolektif menghadapi tantangan abad kedua organisasi.

Menurutnya, pola pikir "ana wal akhar" atau "aku dan mereka" harus bergeser menjadi semangat "nahnu" atau "kita". Tantangan yang dihadapi NU saat ini dinilai terlalu besar jika diselesaikan secara parsial.

"Tantangan abad kedua NU tidak bisa dijawab oleh satu figur atau satu kelompok saja. Menghadapi disrupsi teknologi, tantangan ekonomi umat, dan perubahan sosial yang sangat cepat, kekuatan NU justru terletak pada kemampuan mengonsolidasikan seluruh potensi yang dimiliki," katanya.

Imam Jazuli menilai NU memiliki kekuatan besar berupa jaringan ulama, akademisi, profesional, birokrat, pengusaha hingga generasi muda yang tersebar di berbagai sektor strategis. Potensi tersebut perlu dihubungkan dalam ekosistem kolaborasi yang kuat.

"Kita harus menjadi super tim yang solid. Kelemahan satu kader ditutupi oleh kelebihan kader lainnya. Tidak ada lagi ruang untuk berjalan sendiri-sendiri atau saling meniadakan," tegasnya.

Ia juga mendorong digitalisasi data kader, integrasi informasi antar lembaga, serta penguatan tata kelola organisasi agar lebih modern dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Selain penguatan organisasi, Imam Jazuli menilai kolaborasi jaringan pesantren, kekuatan ekonomi warga NU, dan sumber daya profesional dapat menjadi fondasi kemandirian ekonomi umat yang berkelanjutan.

"Perbedaan pandangan harus menjadi kekayaan intelektual yang memperkuat organisasi. Dengan keterbukaan dan semangat tabayyun, NU akan semakin siap menghadapi tantangan masa depan," pungkasnya.

Editor : Alim Kusuma