SURABAYA , iNFONews.ID - Gelak tawa dan riuh nada ceria memenuhi wilayah RW 13 Kelurahan Putat Jaya, Sabtu malam (18/4). Para ibu yang tergabung dalam Kader Surabaya Hebat (KSH) serta PKK berkumpul mengenakan kebaya, bukan sekadar untuk bersolek, melainkan merayakan ketangguhan perempuan dalam balutan identitas bangsa pada peringatan Hari Kartini.
Kompetisi sambung lagu dan joget menjadi bahasa diplomasi warga untuk merekatkan persaudaraan. Di balik kain tradisional yang anggun, tersimpan pernyataan sikap tentang sosok perempuan masa kini yang aktif bergerak di tengah masyarakat.
Ketua RW 13, Ernes Tego Lelono, menyebut agenda tahunan tersebut sebagai langkah nyata merawat ingatan kolektif terhadap perjuangan Raden Ajeng Kartini. Baginya, momen ini menjadi waktu yang tepat membedah kembali esensi emansipasi.
"Kami ingin memastikan api semangat Kartini tetap menyala. Ini bukan sekadar seremoni lahirnya pahlawan, tapi perayaan atas kebebasan berpikir dan hak perempuan untuk terus maju," ujar Ernes.
Ernes memandang keterlibatan ibu-ibu KSH dan PKK dalam berbagai aksi sosial merupakan bukti bahwa perempuan adalah mesin penggerak utama pembangunan karakter di tingkat akar rumput. Dedikasi mereka menghapus sekat-sekat batasan kreativitas, baik dalam urusan domestik maupun kepemimpinan di ruang publik.
Peran setara yang ditunjukkan para ibu ini menjadi sinyal bahwa kontribusi perempuan sangat krusial bagi stabilitas lingkungan terkecil.
Ketua Panitia, Setiyowati, mengaku bangga atas antusiasme warga yang melampaui ekspektasi. Kompetisi ini berhasil menarik partisipasi aktif dari RT 01 hingga RT 08, membuktikan solidnya hubungan antarwarga di Putat Jaya.
"Meski bertajuk perlombaan, ruh utamanya adalah merayakan persaudaraan. Kami ingin kegembiraan ini dirasakan seluruh elemen masyarakat tanpa kecuali," tutur Setiyowati.
Kemeriahan di Putat Jaya menjadi pengingat bahwa kreativitas adalah bentuk perjuangan lain di era modern. Lewat harmoni lagu dan balutan kebaya, para perempuan ini membuktikan diri sebagai "Kartini Masa Kini" yang mampu menjaga keseimbangan antara tradisi dan perubahan zaman.
Editor : Alim Kusuma