Guru Besar ITS Gagas AI Adaptif untuk Hadapi Perubahan Data dan Ancaman Siber

Reporter : Ali Masduki
Prof Ir Ary Mazharuddin Shiddiqi SKom MCompSc PhD saat menyampaikan orasi ilmiahnya pada upacara pengukuhannya sebagai Guru Besar ke-238 ITS. INPhoto/Humas ITS

SURABAYA, INFONEWS.ID - Perubahan data yang berlangsung cepat, dinamika perilaku manusia, hingga meningkatnya ancaman siber menuntut kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) mampu beradaptasi secara berkelanjutan. Menjawab tantangan tersebut, Guru Besar Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof Ary Mazharuddin Shiddiqi, mengembangkan konsep AI adaptif melalui pendekatan continual learning.

Gagasan itu disampaikan dalam orasi ilmiah berjudul Kecerdasan Artifisial Adaptif sebagai Fondasi Sistem Cerdas Masa Depan. Menurut Ary, sistem AI tidak lagi cukup hanya mengandalkan data yang telah dipelajari sebelumnya.

Baca juga: Lulus SMA, Puluhan Siswa Santo Carolus Surabaya Raih Kampus Impian

“AI akan menjadi ketinggalan zaman jika tidak beradaptasi,” ujar Guru Besar ke-238 ITS tersebut.

Ary menjelaskan, continual learning mengadopsi cara manusia belajar sepanjang hidup. Melalui pendekatan tersebut, AI dirancang untuk terus menyerap pengetahuan baru tanpa kehilangan kemampuan memahami informasi yang telah dipelajari sebelumnya.

Namun, pengembangan teknologi itu masih menghadapi tantangan besar yang dikenal sebagai catastrophic forgetting. Kondisi tersebut terjadi ketika model AI berhasil mempelajari informasi baru, tetapi justru kehilangan kemampuan mengenali pengetahuan lama.

“Model AI bisa memahami hal-hal baru, tetapi melupakan hal-hal lama yang telah dipelajari,” kata Kepala Departemen Teknik Informatika ITS itu.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Ary memperkenalkan Adaptive Intelligence Framework for Distributed Systems. Kerangka kerja tersebut terdiri atas lima tahapan, yakni observe, learn, remember, adapt, dan act.

Melalui tahapan itu, sistem dirancang mampu mengamati data baru, mempelajarinya, menyimpan pengetahuan yang telah dimiliki, beradaptasi terhadap perubahan, lalu mengambil keputusan secara lebih tepat.

Dalam pengembangannya, Guru Besar ITS ini memfokuskan riset pada tiga bidang utama, yaitu adaptive cyber defense, adaptive AI infrastructure, dan adaptive critical infrastructure. Ketiganya mencakup berbagai aspek mulai dari deteksi intrusi siber, identifikasi anomali jaringan, pengelolaan klaster AI, hingga strategi penempatan sensor pada infrastruktur vital.

“Saya ingin membuat sistem yang secara dinamis dapat mendistribusikan beban kerja berdasarkan tingkat ketersediaan dan tren yang terjadi,” jelasnya.

Sejumlah inovasi telah lahir dari riset tersebut. Salah satunya adalah FusionNet-FR, arsitektur transformer DualNet yang menggabungkan frequency modeling dan relational learning untuk meningkatkan akurasi peramalan data jangka panjang.

Baca juga: Tambaksari hingga Semampir Surabaya Masuk Zona Risiko Tinggi DBD Menurut AERIS

Selain itu, Ary juga mengembangkan SPARC, sebuah strategi penempatan sensor yang dirancang untuk mendeteksi risiko kontaminasi pada jaringan distribusi air secara lebih efektif.

Riset tersebut diperkuat melalui DiLLeMa sebagai kerangka kerja distributed large models dan CloudX-Lab, laboratorium hidup yang menjadi pusat pengembangan infrastruktur AI adaptif.

CloudX-Lab mengintegrasikan GPU nodes, CPU nodes, dan edge nodes dalam satu platform yang dilengkapi kemampuan dynamic scheduling, load balancing, auto scaling, fault tolerance, serta efisiensi penggunaan sumber daya.

Menurut Ary, AI adaptif memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan siber nasional, mempercepat transformasi digital, memperkuat kedaulatan teknologi, serta mencetak sumber daya manusia yang kompetitif.

Ia menilai Indonesia harus mengambil peran lebih besar dalam pengembangan teknologi AI, bukan sekadar menjadi pengguna.

“Indonesia perlu mengembangkan teknologi AI yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik lokal,” tegasnya.

Baca juga: TEDxITS 2026 Ajak Generasi Muda Melihat Kehidupan dari Beragam Perspektif

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, Ary juga mengingatkan pentingnya menjaga aspek etika. Baginya, AI harus diposisikan sebagai alat bantu yang memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikannya.

“AI dapat menjadi referensi, tetapi bukan untuk menggantikan manusia dalam membangun pengetahuan,” tuturnya.

Menutup orasi ilmiahnya, Ary menyatakan komitmennya untuk terus mengembangkan riset continual learning agar memberikan manfaat bagi dunia akademik dan masyarakat luas.

“Saya ingin fokus mengembangkan riset continual learning yang dapat memberikan kebermanfaatan sebesar-besarnya bagi sivitas akademika ITS dan Indonesia,” pungkasnya.

Pengembangan AI adaptif tersebut juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin keempat tentang pendidikan berkualitas, poin kesembilan mengenai industri, inovasi, dan infrastruktur, serta poin ke-17 terkait kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan.

Editor : Alim Kusuma

Photo
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru