SURABAYA, INFONEWS.ID - Perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dinilai bukan sekadar mengubah cara belajar di perguruan tinggi, tetapi berpotensi mengubah hakikat universitas. Karena itu, kampus di Indonesia didorong bertransformasi dengan menjadikan AI sebagai penguat kualitas pendidikan, riset, dan tata kelola tanpa mengesampingkan nilai-nilai akademik serta kemanusiaan.
Gagasan tersebut disampaikan mantan Rektor Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) periode 2007–2013, Ulul Albab, dalam tulisan bertajuk "AI dan Masa Depan Universitas", yang menjadi bagian dari rangkaian refleksi Dies Natalis ke-45 Unitomo.
Menurut Ulul, AI kini telah menjadi bagian dari aktivitas akademik sehari-hari. Mahasiswa memanfaatkannya untuk memahami materi yang kompleks, dosen menggunakannya dalam menyusun bahan ajar, peneliti mempercepat analisis data, hingga pimpinan perguruan tinggi mulai mengandalkan sistem berbasis AI dalam pengambilan keputusan.
"Universitas-universitas terbaik di dunia tidak lagi mempertanyakan apakah AI akan memengaruhi pendidikan tinggi, melainkan bagaimana mengelolanya agar memperkuat pembelajaran, penelitian, dan tata kelola tanpa mengorbankan integritas akademik," tulisnya.
Ia menilai pertanyaan yang paling penting saat ini bukan lagi soal penggunaan teknologi, melainkan apakah AI hanya mengubah metode belajar atau justru mengubah esensi universitas sebagai institusi penghasil ilmu pengetahuan.
Integrasi Teknologi dan Nilai Kemanusiaan
Ulul menguraikan sejumlah pandangan akademisi dan lembaga internasional mengenai masa depan AI. Ia mengutip pemikiran Kai-Fu Lee yang menilai daya saing bangsa di masa depan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menciptakan algoritma, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang mampu bekerja berdampingan dengan teknologi secara kreatif dan etis.
Pandangan itu sejalan dengan konsep co-intelligence yang diperkenalkan Ethan Mollick. Dalam perspektif tersebut, AI diposisikan sebagai mitra intelektual yang membantu manusia mengembangkan gagasan dan meningkatkan produktivitas, sementara keputusan akhir tetap berada di tangan manusia.
Ulul juga menggarisbawahi rekomendasi UNESCO yang menempatkan hak asasi manusia, keadilan, transparansi, akuntabilitas, perlindungan privasi, dan keberlanjutan sebagai fondasi pemanfaatan AI.
Sementara OECD menilai kompetensi seperti berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, empati, literasi digital, dan pembelajaran sepanjang hayat akan menjadi keterampilan utama di era kecerdasan artifisial.
"Dengan demikian, masa depan universitas tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologinya, tetapi oleh kemampuannya mengintegrasikan teknologi dengan nilai-nilai akademik dan kemanusiaan," ujarnya.
Konsep AI-Augmented University
Sebagai respons atas perubahan tersebut, Ulul mengusulkan konsep AI-Augmented University sebagai model baru transformasi pendidikan tinggi Indonesia.
Menurutnya, evolusi universitas selama ini berkembang dari Teaching University yang berfokus pada pengajaran, menjadi Research University yang menitikberatkan riset, lalu Entrepreneurial University yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan inovasi dan industri.
Memasuki era AI, ketiga model itu dinilai perlu dilengkapi dengan generasi baru, yakni AI-Augmented University.
Dalam model tersebut, AI berfungsi memperkuat kapasitas manusia, bukan menggantikannya. Teknologi membantu dosen mengajar lebih efektif, memberi mahasiswa pengalaman belajar yang lebih personal, mempercepat proses penelitian, serta mendukung pimpinan kampus mengambil keputusan berbasis data.
Adapun aspek yang tetap menjadi ranah manusia adalah penilaian etis, kebijaksanaan, imajinasi, kepemimpinan, dan tanggung jawab moral.
Ulul menilai konsep itu justru menjadikan universitas lebih manusiawi karena teknologi digunakan untuk mengurangi pekerjaan rutin sehingga sivitas akademika dapat lebih fokus pada kreativitas, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Peluang bagi Indonesia dan Unitomo
Indonesia, menurut Ulul, memiliki peluang besar memanfaatkan AI untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi. Jumlah mahasiswa yang besar dan kondisi geografis yang luas membuat AI berpotensi mendukung personalisasi pembelajaran, memperluas akses pendidikan berkualitas, meningkatkan efisiensi layanan akademik, hingga mempercepat kolaborasi riset.
Namun, peluang itu hanya dapat diwujudkan apabila dibarengi kesiapan sumber daya manusia, infrastruktur digital yang memadai, tata kelola yang adaptif, serta komitmen terhadap etika akademik.
Ia mengingatkan perguruan tinggi agar tidak terjebak pada dua sikap ekstrem, yakni menolak AI karena dianggap mengancam pendidikan atau menerimanya tanpa membangun literasi kritis dan etika penggunaan. Menurutnya, yang dibutuhkan adalah transformasi budaya akademik, bukan sekadar adopsi teknologi.
Bagi Unitomo yang memasuki usia ke-45, Ulul melihat momentum tersebut sebagai kesempatan untuk menjadi pelopor transformasi pendidikan tinggi berbasis AI di Indonesia.
Langkah awal, kata dia, tidak harus diawali investasi teknologi berskala besar, melainkan membangun budaya belajar yang baru.
Dosen didorong memanfaatkan AI secara bertanggung jawab sebagai fasilitator pembelajaran, mahasiswa diarahkan menggunakan AI untuk memperdalam analisis tanpa mengabaikan integritas akademik, sementara penelitian dan tata kelola kampus diperkuat melalui pemanfaatan analitik data.
"AI harus menjadi instrumen untuk meningkatkan kualitas institusi, bukan sekadar simbol modernisasi," pungkasnya.
Editor : Alim Kusuma