JOMBANG, INFONEWS.ID - Penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang semakin luas mendorong kalangan pesantren untuk memperkuat tradisi berpikir kritis. Santri dan generasi muda diingatkan agar tidak menjadikan jawaban AI sebagai rujukan kebenaran tanpa proses verifikasi.
Pesan itu mengemuka dalam Multaqo Ulama Muda 2026 yang digelar Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur melalui Ansor Universiti Jatim di Auditorium Nyai Azzah As’ad, Universitas Pesantren Darul Ulum (Unipdu) Jombang, Jumat (28/8/2026).
Mengangkat tema “Santri, Artificial Intelligence, dan Masa Depan Otoritas Keilmuan”, forum tersebut membahas perubahan pola pencarian ilmu di tengah kemudahan teknologi. Salah satu perhatian utama ialah potensi budaya instan mengurangi kedalaman proses berpikir dan riset.
Lima narasumber dari berbagai latar belakang hadir dalam forum itu, yakni Gus Rifqil Muslim Suyuti, Habib Syauqi Al Mundhor, Ning Imaz Fatimatuz Zahra, Ainun Najib, serta Ibnu Harjo Al Jawi.
Gus Rifqil Muslim Suyuti menilai penggunaan AI sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern. Karena itu, menurut dia, perdebatan mengenai boleh atau tidaknya menggunakan AI tidak lagi menjadi persoalan utama.
“Saya ingin bertanya, siapa yang hari ini belum menggunakan AI? Rata-rata semua sudah pakai AI,” katanya.
Pengasuh Pesantren Mambaul Hikmah Kaliwungu itu mengatakan tantangan sebenarnya terletak pada bagaimana teknologi dimanfaatkan secara tepat dan bertanggung jawab.
“Pertanyaannya bukan ‘boleh tidak sih kita menggunakan AI?’, tidak, tapi bagaimana kita menggunakan AI ini dengan bijak,” tegasnya.
Menurut Gus Rifqil, AI semestinya ditempatkan sebagai perangkat yang membantu manusia bekerja lebih efisien, bukan mengambil alih seluruh proses berpikir. Pengguna tetap perlu menguji informasi dan menelusuri sumber sebelum menjadikannya sebagai pengetahuan.
“Jadi gunakan misalkan AI ini untuk membantu kita, bukan kemudian untuk langsung mencari jawaban. Mempermudah iya, silakan tools-nya, tapi jangan kemudian AI ini menjadi satu-satunya standar untuk kita menggapai apa yang kita cari,” ujarnya.
Ia mencontohkan penggunaan AI untuk meringkas artikel panjang sebagai salah satu bentuk pemanfaatan yang membantu. Namun, ringkasan yang dihasilkan mesin tidak semestinya menggantikan proses membaca literatur secara langsung, terlebih ketika informasi itu hendak digunakan sebagai rujukan keilmuan.
Proses verifikasi atau tabayyun tetap diperlukan untuk memastikan informasi yang diperoleh sesuai dengan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Melalui Multaqo Ulama Muda 2026, Ansor Jatim mendorong generasi pesantren tidak sekadar menjadi pengguna teknologi. Di tengah kemudahan memperoleh jawaban dalam hitungan detik, kemampuan menilai informasi, menelusuri sumber, dan mempertahankan kemandirian berpikir dinilai semakin penting.
Editor : Alim Kusuma