SURABAYA, iNFONews.ID - Ketimpangan struktural dalam industri tembakau nasional memicu desakan perubahan model bisnis dari hulu ke hilir.
Selama puluhan tahun, rantai pasok yang tidak sehat dituding menjadi penyebab utama rendahnya kesejahteraan petani meski nilai industri rokok terus meroket.
Baca juga: Perkuat Ekspor, Barong Grup Bidik Akuisisi Pabrik Rokok di Malaysia
Founder Barong Grup, HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy, menuturkan bahwa sistem yang ada saat ini menempatkan petani hanya sebagai pelengkap produksi tanpa kendali atas harga.
Kondisi itu, lanjut pengusaha yang akrab disapa Gus Lilur, terlihat nyata di wilayah penghasil tembakau terbesar seperti Madura, yang secara statistik kesejahteraan masih tertinggal dibandingkan daerah lain di Jawa.
"Masalahnya ada pada sistem yang membiarkan nilai tambah mengalir ke atas, sementara mereka yang di bawah hanya menerima sisa-sisa. Kondisi ini harus dibalik. Petani tidak boleh lagi menjadi objek, mereka harus menjadi bagian paling diuntungkan dalam rantai industri," ujar Gus Lilur dalam keterangannya, Senin (30/3).
Solusi konkret yang ditawarkan adalah hilirisasi melalui pembangunan ribuan pabrik rokok skala UMKM di wilayah-wilayah sentra tembakau. Strategi ini bertujuan mendekatkan pusat pengolahan dengan ladang petani.
Dengan memperpendek jarak distribusi, pabrik kecil mampu membeli bahan baku dengan harga lebih tinggi namun tetap menghasilkan produk akhir yang kompetitif secara harga.
Baca juga: Perkuat Hilirisasi, Barong Grup Siapkan Ekosistem 2.000 Pabrik Rokok UMKM
Langkah ini juga dipandang sebagai jawaban atas maraknya peredaran rokok ilegal. Menurut Gus Lilur, lonjakan rokok ilegal merupakan gejala pasar yang tidak lagi rasional akibat harga produk legal yang menjauh dari daya beli masyarakat menengah ke bawah, seperti buruh dan pekerja informal.
"Saat harga rokok legal menyentuh angka Rp20 ribu ke atas, muncul tekanan pasar. Solusinya bukan sekadar penindakan, tapi menghadirkan alternatif legal yang adil dan terjangkau bagi konsumen melalui efisiensi struktur biaya pabrik UMKM," tambahnya.
Melalui bendera Bandar Rokok Nusantara Global Grup (Barong Grup), model bisnis ini mulai diimplementasikan untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih merata.
Kehadiran pabrik-pabrik lokal diharapkan mampu mengoreksi dominasi pabrik besar yang selama ini dianggap terlalu jauh dari realitas kehidupan petani di lapangan.
Baca juga: Ekspedisi Pasar Rokok Asia–Australia, Barong Grup Siapkan Pabrik Luar Negeri
Transformasi ini tidak hanya bertujuan mengejar profitabilitas bisnis semata, melainkan menjadi alat koreksi sosial.
Gus Lilur bertekad menjadikan sektor ini sebagai industri yang mandiri dengan fondasi yang kuat pada level akar rumput.
"Industri tembakau yang mandiri harus dimulai dari ladang dan keberanian merombak sistem. Sebuah industri tidak boleh hanya diukur dari besaran keuntungan, tapi dari seberapa adil manfaatnya dirasakan oleh mereka yang menanam bahan bakunya," pungkasnya.
Editor : Alim Kusuma