Selasa, 12 Mei 2026 18:16 WIB

Virus Hanta Muncul Lagi, Tikus Rumah Jadi Ancaman yang Sering Diabaikan

Tikus rumah hingga urbanisasi disebut memperbesar risiko penularan. INPhoto/Gemini
Tikus rumah hingga urbanisasi disebut memperbesar risiko penularan. INPhoto/Gemini

SURABAYA, iNFONews.ID - Kasus Virus Hanta kembali menarik perhatian setelah virus tersebut terdeteksi di kapal pesiar MV Hondius dan menyebabkan tiga orang meninggal dunia. Ancaman serupa juga berpotensi terjadi di Indonesia karena sejumlah jenis tikus di permukiman warga diketahui dapat membawa virus tersebut.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya (FK Ubaya), dr. Risma Ikawaty, Ph.D., mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap sepele keberadaan tikus rumah. 

Menurutnya, Virus Hanta memiliki pola penularan yang erat dengan lingkungan padat penduduk, sanitasi buruk, hingga meningkatnya populasi hewan pengerat akibat urbanisasi dan perubahan iklim.

“Semakin banyak tikus dan semakin sering kontak dengan manusia, peluang penyebaran virus juga meningkat,” kata Risma.

Virus Hanta atau Hantavirus merupakan penyakit zoonosis, yakni infeksi yang menular dari hewan ke manusia. Penularannya umumnya terjadi melalui udara yang terkontaminasi urine, kotoran, atau air liur tikus pembawa virus.

Partikel kering dari sisa ekskresi tikus dapat beterbangan lalu terhirup manusia. Karena itu, seseorang bisa terinfeksi tanpa harus digigit tikus secara langsung.

Risma menjelaskan, sebagian besar varian Virus Hanta masih terbatas menular dari hewan ke manusia. Namun terdapat satu varian yang memiliki kemampuan berbeda.

“Penularan antar manusia sejauh ini ditemukan pada varian Andes karena virus mampu bereplikasi di saluran pernapasan manusia,” ujarnya.

Sementara itu, varian lain seperti Seoul, Hantaan, dan Sin Nombre masih dominan ditularkan melalui tikus pembawa virus.

Di Indonesia, varian Seoul diketahui banyak ditemukan pada tikus rumah jenis Rattus rattus dan Rattus norvegicus. Kedua spesies tersebut sangat dekat dengan kehidupan manusia dan mudah ditemukan di kawasan permukiman maupun perkotaan.

Data Kementerian Kesehatan RI bahkan mencatat sedikitnya 15 spesies tikus di Indonesia telah terkonfirmasi menjadi reservoir Virus Hanta.

Menurut Risma, meningkatnya aktivitas pembangunan kota ikut memengaruhi lonjakan populasi tikus. Perubahan lingkungan membuat hewan pengerat lebih mudah berkembang biak dan berpindah ke area tempat tinggal manusia.

Selain urbanisasi, faktor suhu dan kelembapan juga memengaruhi tingkat penyebaran virus. Lingkungan lembap, saluran air kotor, tumpukan sampah, hingga rumah yang jarang dibersihkan dapat menjadi tempat ideal bagi tikus berkembang biak. Kondisi tersebut membuat risiko paparan Virus Hanta semakin tinggi, terutama di wilayah padat penduduk.

Infeksi Virus Hanta sering diawali gejala umum sehingga kerap dianggap penyakit biasa. Padahal dalam kondisi berat, virus dapat menyerang paru-paru maupun ginjal.

Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain, demam tinggi, nyeri otot, mual dan muntah, sesak napas, tubuh lemas, dan gangguan ginjal

Risma meminta masyarakat segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala tersebut setelah kontak dengan tikus atau berada di lingkungan berisiko tinggi.

Cara Mencegah Virus Hanta

Pencegahan Virus Hanta paling efektif dilakukan dengan mengurangi populasi tikus dan memperbaiki kebersihan lingkungan.

Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan antara lain menutup akses masuk tikus ke dalam rumah, rutin membersihkan sisa makanan dan sampah agar tidak mengundang hewan pengerat, serta menggunakan sarung tangan dan masker saat membersihkan area kotor yang berpotensi terkontaminasi. 

Masyarakat juga dianjurkan menghindari kontak langsung dengan tikus liar dan menjaga ventilasi rumah tetap baik untuk mengurangi risiko penyebaran Virus Hanta.

Selain itu, fasilitas kesehatan juga diminta meningkatkan kemampuan diagnosis agar kasus Virus Hanta tidak terlambat dikenali.

 

Editor : Alim Kusuma