Selasa, 05 Mei 2026 23:57 WIB

3 Komunitas Bersinergi Rancang Event Gombloh Bukan Hanya di Radio

Guruh Dimas Nugraha bersama tim, bertemu Lurah Dupak Lutfan Hadie Wibowo (IN/PHOTO: IST)
Guruh Dimas Nugraha bersama tim, bertemu Lurah Dupak Lutfan Hadie Wibowo (IN/PHOTO: IST)

SURABAYA, iNFONews.ID - Event Gombloh Bukan Hanya di Radio, Gombloh, Memories of Gombloh, Sanggar Seni Omah Ndhuwur Bangunrejo, JatiSwara. 

Sosok Gombloh kembali bergaung. Namanya dilestarikan oleh tiga komunitas di Surabaya. Yakni Memories of Gombloh (Mogers-kelompok fans Gombloh), Sanggar Seni Omah Ndhuwur Bangunrejo, dan JatiSwara. 

Ketiganya bersinergi. Membentuk panitia untuk merancang event bertajuk Gombloh Bukan Hanya di Radio. 

Ajang itu akan berlangsung di Balai RW 4 Dupak Bangunsari, 12 Juli 2026. 

"Di dalam acara itu terdapat pameran Memorabilia Gombloh. Akan disajikan berbagai benda yang terkait Gombloh. Baik barang peninggalannya, file artikel media lama, maupun foto-foto," ujar Esthi Susanti Hudiono, perwakilan panitia.

Pameran tersebut bertema Sasana Shanti Antropologi. Diambil dari judul lagu Gombloh dalam album Mawar Desa. 

"Lagu itu mengisahkan tentang masa depan. Tentang sebuah museum yang berisi tulang-belulang atau fosil manusia masa kini," ujar Affandy Willy Yusuf, Ketua Mogers Indonesia.

Tema tersebut cukup relevan dengan pameran memorabilia. Mengingat koleksi yang dipamerkan merupakan benda-benda lampau terkait Gombloh. 

Itu mengimajinasikan praktik manusia masa depan dalam membaca kembali jejak peradaban lampau. Yakni melalui artefak dan dokumentasi. 

Berbagai tahapan telah dilakukan. Termasuk audiensi dengan berbagai pihak. Seperti Kelurahan Dupak pada 5 Mei 2026. 

Lurah Dupak Lutfan Hadie Wibowo menyambut baik rencana tersebut. Ia mengatakan, "Agenda ini positif. Demi memperkenalkan sosok Gombloh pada masyarakat. Juga kiprahnya di kawasan Bangunrejo."

Lokasi tersebut dipilih karena Gombloh pernah meninggalkan jejak. Dulu, Bangunrejo merupakan lokasi prostitusi. Bahkan lebih dulu eksis ketimbang Dolly. 

"Gombloh pernah berkiprah di Bangunrejo. Ia menjadikan kawasan ini sebagai sumber inspirasi. Banyak lagu-lagunya yang bertema kemanusiaan. Terutama soal kisah para pekerja malam," ujar Abdul Semute, Ketua Sanggar Seni Omah Ndhuwur.

Di Bangunrejo pun lahir berbagai lagu. Tiga di antaranya Loni Pelacur dan Pelacurku, Jamilah Penghuni Lorong Hitam, dan Mulyati-Mulyati. 

Lagu-lagunya tidak bercerita tentang hal-hal tak pantas atau seksisme. Melainkan bagaimana latar belakang para pekerja malam itu terjebak dalam dunia hitam. Berikut derita dan kesulitan-kesulitan mereka.

"Apalagi Gombloh memiliki cita-cita mulia. Ia ingin mewujudkan dunia tanpa prostitusi. Memang berat. Namun, setidaknya ia mau melangkah. Sudah banyak pekerja malam yang dientaskan Gombloh. Diberi pekerjaan dan dicukupi hidupnya," ujar Guruh Dimas Nugraha, ketua panitia sekaligus penulis buku biografi Gombloh: Revolusi Cinta dari Surabaya.

Pun, kisah legendaris Gombloh bagi-bagi makanan dan pakaian dalam juga terjadi di Bangunrejo. Bukan hanya di Dolly. 

Maka, makna dari tajuk utama Gombloh Bukan Hanya di Radio cukup luas. "Ia tidak hanya dikenal melalui karya-karya populer seperti Kugadaikan Cintaku (Di Radio) atau Apel. Tapi juga melalui sensibilitas sosial yang kuat dalam merepresentasikan realitas masyarakat," ujar Esthi.

"Seperti tampak dalam karya-karya terdahulu. Mencerminkan pendekatan reflektif terhadap kehidupan sosial. Termasuk tema marjinalitas, kemanusiaan, dan kritik terhadap struktur sosial," tambahnya.

Sementara itu, Sasana Shanti Antropologi lebih pada ruang refleksi kultural. Menggabungkan dokumentasi visual, performativitas seni, serta diskursus publik. 

"Maka, artefak kultural di dalam pameran itu satu sisi dapat dilihat sebagai nostalgia. Di sisi lain, sebagai medium refleksi terhadap dinamika sosial, budaya, dan kemanusiaan," pungkasnya.

Pun, ajang itu akan menjadi ruang silaturahmi. Antara fans Gombloh, akademisi, seniman, masyarakat umum, serta eks personel Lemon Tree's anno '69, band pengiring Gombloh semasa hidup. 

Ajang itu sedianya akan diselenggarakan selama 3 hari. Yakni pada 12-14 Juli 2026. Terdapat live music, lomba menyanyi lagu-lagu Gombloh, dan talkshow seputar Gombloh dan sisi kreatifnya. (*)

Editor : Tudji Martudji