Kamis, 30 Apr 2026 19:56 WIB

Lulu dan Djati Purnamawati Sosok Peduli, Rawat Anjing dan Kucing Terlantar 

Djati Purnamawati dan Lulu Founder atau pendiri Komunitas PAW The Gank memberikan program sterilisasi gratis (IN/PHOTO: TUDJI)
Djati Purnamawati dan Lulu Founder atau pendiri Komunitas PAW The Gank memberikan program sterilisasi gratis (IN/PHOTO: TUDJI)

SURABAYA, iNFONews.ID — Lulu Founder atau pendiri Komunitas PAW The Gank dan Founder Griya Satwa Surabaya, Djati Purnamawati adalah dua sosok perempuan yang layak diacungi jempol, mereka turun langsung untuk memberikan pertolongan dan merawat anjing juga kucing yang ditemukan terlantar di sejumlah tempat di Surabaya.

Kisah mereka, disampaikan berbarengan digelarnya acara 1st Barkday di Pakuwon City Mall Surabaya. Ajang itu tak hanya sekedar perayaan, tetapi juga momentum penggugah kesadaran masyarakat untuk turut mengadopsi dan merawat hewan-hewan yang telah diselamatkan.

Lulu menceritakan, yang dilakoni tersebut berangkat dari kisanya saat mendapati anjing terlantar dan  menyelamatkan, hingga merawat. 

“Anjing ini kami temukan di jalan bersama rekan saya. Awalnya kami kira hanya sakit, ternyata setelah diperiksa di klinik hewan, diketahui sedang hamil dan harus dirawat hingga melahirkan," katanya.

Anjing yang tak diketahui jenisnya itu kemudian dibawa ke klinik, diperiksa dan diputuskan untuk tindakan operasi atau cecar karena kondisinya. Hingga kemudian berhasil melahirkan enam anak anjing, jenisnya campuran.

“Ini anjing mix, campuran antara ras dan anjing kampung. Karena ditemukan di jalan, kami tidak mengetahui asal-usul induk maupun pejantan,” katanya.

Momentum kelahiran anak-anak anjing tersebut itulah yang menjadi landasan diadakannya kegiatan perayaan sederhana yang dikemas dalam bentuk edukasi publik. 

“Kami diminta mengisi acara komunitas, kebetulan bertepatan dengan ulang tahun anjing rescue ini yang genap satu tahun. Jadi sekalian kami buat kegiatan yang bermanfaat,” ujarnya.

Di kegiatan yang dipadati pengunjung pecinta anjing itu pun menjadi moment untuk mendapatkan sterilisasi gratis untuk peliharaan mereka. 

“Sebagai bentuk kepedulian, saya memberikan donasi sterilisasi gratis untuk 50 ekor anjing dan kucing. Ini sebagai hadiah sekaligus ajakan bagi sesama pecinta hewan untuk lebih peduli,” kata Lulu.

Sementara itu, Djati Purnamawati menjelaskan bahwa shelter yang dikelolanya berfungsi sebagai rumah singgah sementara bagi hewan yang membutuhkan pertolongan. 

“Shelter itu seperti tempat singgah. Hewan yang sakit kami rawat terlebih dahulu, setelah sehat baru kami upayakan untuk diadopsi,” ujarnya.

Djati menuturkan, dirinya telah berkecimpung dalam kegiatan penyelamatan hewan sejak puluhan tahun lalu. 

“Saya sudah sekitar 40 tahun melakukan ini, sejak usia 20 tahun. Bukan sekadar hobi, tapi lebih karena rasa kasihan ketika melihat hewan terlantar di jalan,” ungkapnya.

Ia mengakui, jumlah hewan terlantar di Surabaya masih cukup tinggi. Namun, kepedulian masyarakat juga mulai tumbuh.

"Banyak komunitas maupun individu yang membantu, meskipun tidak memiliki shelter. Mereka tetap memberi makan hewan di jalan sesuai kemampuan masing-masing,” katanya.

Selain edukasi dan sterilisasi, kegiatan tersebut juga diisi dengan berbagai aktivitas interaktif. 

“Kami mengadakan permainan dan menjual perlengkapan hewan. Hasil penjualannya akan disumbangkan untuk kebutuhan shelter,” jelas Lulu.

Ditambahkan, pihaknya juga kerap mengadakan kegiatan berbagi pakan gratis di beberapa titik di Surabaya. 

“Kami bersama komunitas sering membagikan pakan gratis untuk kucing jalanan, salah satunya di kawasan Wonorejo. Ini bentuk kolaborasi agar semakin banyak yang peduli,” ujarnya.

Lanjut Djati, keberadaan shelter bukan solusi utama untuk menolong dan menampung seluruh hewan terlantar.

“Shelter kami bersifat mandiri, dengan keterbatasan biaya dan lahan. Jadi kami tidak bisa menerima semua laporan atau menampung semua hewan,” tegasnya.

Ia lebih menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat.

“Kalau menemukan hewan terlantar, kami bisa bantu dari sisi edukasi atau pakan. 

Tapi untuk penampungan, harus disesuaikan dengan kapasitas kami,” katanya.

Program sterilisasi yang diinisiasi Lulu juga menjadi bagian dari solusi jangka panjang. “Tujuannya agar populasi hewan terlantar bisa ditekan. Selain itu, kami juga terus mendorong program adopsi,” kata Djati.

Kedua sosok perempuan peduli hewab itu kemudian menyampaikan pesan moral kepada masyarakat terkait tanggung jawab memelihara hewan. Bahwa, pemilik hewan harus memiliki komitmen merawat dan tidak menelantarkan anjing juga kucing, di jalanan. 

“Kalau memelihara hewan, jangan sampai dibuang ketika bosan atau saat hewan sakit. Karena membuang hewan ke jalan hanya akan memperburuk kondisi hewan tersebut, dan itu harus dihentikan,” katanya.

Ia mengajak masyarakat untuk lebih peduli dan bertanggung jawab. “Kalau sudah memelihara, rawat dengan baik sampai akhir hayatnya. Itu bentuk komitmen kita terhadap makhluk hidup,” ujar Djati.

Sementara itu, satu diantara peserta kontes anjing yang hadir, Yulia, turut memberikan tanggapannya terkait kegiatan tersebut. Ia menilai peran komunitas sangat penting dalam membantu hewan yang terlantar.

“Bu Lulu dikenal aktif menolong anjing-anjing yang dibuang, bahkan yang dalam kondisi sakit atau terluka. Banyak kasus hewan yang ditelantarkan, seperti dikurung tanpa perawatan atau dibuang begitu saja,” ujar Yulia.

Ia juga mengaku telah lama mengenal Lulu Soegito dan Djati Purnamawati serta melihat langsung konsistensi mereka dalam kegiatan penyelamatan. 

“Komunitas ini tidak bekerja sendiri, ada banyak relawan yang ikut membantu proses rescue di lapangan,” katanya.

Salah seorang pengunjung yang juga peserta kontes di acara itu, Yulia menyoroti kondisi hewan terlantar di Surabaya yang dinilainya semakin meningkat beberapa waktu terakhir.

“Jumlah hewan yang dibuang atau diterlantarkan semakin banyak dibandingkan sebelumnya,” kata Yulia.

Menurutnya, hewan-hewan tersebut sering ditemukan di lokasi yang tidak layak.

“Banyak ditemukan di tempat pembuangan sampah, di bawah jembatan, bahkan ada yang berkeliaran di jalan raya atau kawasan yang tidak jelas pemiliknya,” katanya.

Itu menandakan masih rendahnya kesadaran sebagian masyarakat terhadap tanggung jawab memelihara hewan baik anjing atau kucing.

“Masih sering kita temui hewan yang dilepas begitu saja tanpa perawatan,” ujarnya.

Yulia dengan penuh harap juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli dan bertanggung jawab dengan nasib anjing. 

“Sebagai sesama makhluk hidup, kita harus memiliki kepedulian. Kalau memelihara hewan, harus dirawat dengan baik dan tidak ditelantarkan,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga hewan peliharaan agar tidak berkeliaran tanpa pengawasan. 

Dalam kegiatan tersebut, Yulia turut mengikuti kontes anjing bersama hewan peliharaannya. “Hari ini saya ikut kontes dengan anjing saya yang bernama Cynthia,” katanya.

Di akhir kegiatan, Lulu dan Djati kembali menegaskan pentingnya komitmen dalam memelihara hewan. “Jangan membuang hewan ketika sudah bosan atau saat sakit,” ujar Lulu.

Djati mengingatkan kepedulian masyarakat menjadi kunci utama dalam menekan jumlah hewan terlantar. Jika memelihara hewan layaknya harus dirawat sampai akhir hayat.

Melalui kolaborasi antara komunitas dan partisipasi masyarakat, mereka berharap kesadaran terhadap kesejahteraan hewan di Surabaya terus meningkat dan terjamin. (*)

Editor : Tudji Martudji