INFONews.id | Surabaya - Seiring dengan berkembangnya dunia bisnis ketenagalistrikan, tuntutan dalam pengelolaan pembangkit juga beragam, mulai dari peningkatan kinerja pembangkit hingga biaya pokok produksi yang lebih kompetitif. Berangkat dari hal itu PJB adalah yang pertama di Indonesia untuk menjawab tantangan tersebut melalui RE-FORGE (Reliable And Efficient Powerplant Management). Yakni, sebuah konsep kustomisasi pengelolaan pembangkit untuk unit pembangkit dengan kapasitas relatif kecil.
RE-FORGE merupakan konsep kustomisasi yang dilakukan agar model bisnis pengelolaan unit pembangkit menjadi lebih terpusat dan tidak ada redundansi proses. Tidak hanya pengelolaannya yang terpusat, namun analisa juga dilakukan terpusat oleh para expertise di bidang pembangkit, sehingga analisa menjadi lebih akurat.
Baca juga: PLN Tandatangani MoU Jual Beli Listrik Proyek PLTB Tanah Laut
Untuk pengimplementasian RE-FORGE, PJB melaksanakan peresmian secara virtual untuk Go-Live RE-FORGE PLTU Tembilahan Jum’at (12/6) pagi. Acara itu dihadiri oleh Direktur Bisnis Regional Sumatera dan Kalimantan PT PLN (Persero), Wiluyo Kusdwiharto; EVP Operasi Regional Sumatera PT PLN (Persero) Supriyadi; Mukhtar selaku EVP Operasi Regional Kalimantan PT PLN (Persero), serta jajaran DireksI PT Pembangkitan Jawa-Bali.
Disebutkan, PLTU Tembilahan sebagai Pilot project dari RE-FORGE ini akan menggunakan aplikasi Maximo sebuah aplikasi Enterprise Asset Management yang telah dikostumisasi sesuai dengan BMS RE-FORGE. Aplikasi Maximo sendiri sudah umum digunakan dalam Pembangkit Listrik namun kostumisasinya berbeda dengan RE-FORGE. Merupakan unit yang pertama mengimplementasikan RE-FORGE.
"Dengan implementasi RE-FORGE akan memberikan bantuan terhadap pembangkit pembangkit berkapasitas kecil terutama dalam meningkatkan keandalannya," kata Wiluyo Kusdwiharto, Direktur Bisnis Regional Sumatera dan Kalimantan PT PLN (Persero), dalam sambutannya, Senin (15/6/2020).
Baca juga: PLN NP Siagakan 4.547 Personil Amankan Pasokan Listrik Handal
Masih kata Wiluyo Kusdwiharto, itu senada dengan rencana kedepan dimana PLTU Bangka, PLTU Belitung, PLTU Bolok, serta PLTU Ropa akan menjadi unit yang selanjutnya mengimplementasikan konsep RE-FORGE.
Dengan hadirnya RE-FORGE akan memberikan keunggulan bagi unit pembangkit PJB maupun pembangkit-pembangkit dari IPP lainnya, karena selain mengefisiensikan proses bisnis yang kompleks, RE-FORGE juga dapat mengoptimalkan kapabilitas SDM, dan menyederhanakan pola komunikasi antara PJB. PJB Services (anak perusahaan yang mengelola unit jasa operation & maintenance) dan unit pembangkit menjadi lebih sederhana.
RE-FORGE ini mengambil konsep waralaba yang berkembang di Indonesia. Pemilik pembangkit tidak perlu direpotkan untuk mengurusi perancanaan, supervise enginering, sampai mengatur supply chain yang harus dilakukan karena hal-hal tersebut secara terpusat dan terkendali akan dilaksanakan oleh PJB.
Baca juga: PT PJB Bertransformasi Menjadi PT PLN Nusantara Power
"Ini berdampak pada lebih fokusnya pemilik pembangkit pada pengoperasional pembangkit saja sehingga akan mengurangi jumlah SDM yang diperlukan dan akan berimbas kepada penghematan biaya jangka panjang," ujar Iwan Agung Firstantara, Direktur Utama PT PJB.
Menurut Iwan, RE-FORGE tidak hanya menjadi jawaban terhadap tantangan yang ada namun juga menjadi salah satu cara dalam menyelaraskan program dengan Strategic Inisiative Grand Strategy PJB yang akan diangkat selama lima tahun kedepan. Salah satunya merujuk pada rencana implementasi digitalisasi monitoring dan evaluasi untuk semua pembangkit PJB (existing dan UBJOM) dan IPP. (*)
Editor : Tudji Martudji