JAKARTA, INFONEWS.ID - Di balik megahnya panggung Indonesia Fashion Week (IFW) 2026, pameran produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menyimpan cerita mendalam tentang nilai sosial dan kepedulian lingkungan.
Lewat program pembinaan PT Pertamina Patra Niaga, belasan pelaku usaha lokal kini membuktikan bahwa karya bernilai ekonomi tinggi bisa lahir dari tangan kelompok disabilitas hingga pengolahan limbah kain.
Baca juga: Kapal Tanker Pertamina Evakuasi 17 Korban Kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2 di Laut Jawa
Salah satu yang mencuri perhatian adalah Narita Shibori. Usaha fesyen ini tidak hanya fokus pada estetika produk, tetapi juga membuka ruang kerja yang inklusif bagi anak-anak berkebutuhan khusus dari Rumah Hasanah Bandung dan SLB Negeri 4 Jakarta.
Di sudut lain, produk fesyen berkelanjutan milik Dara Baro asal Aceh unjuk gigi dengan memanfaatkan limbah perca seperti batik, tenun, dan jumputan.
Menggunakan teknik boro khas Jepang, limbah kain diproduksi ulang melalui teknik jahit tumpuk (upcycling) menjadi busana baru yang bernilai jual tinggi sekaligus ramah lingkungan.
Potensi dan dampak sosial produk-produk ini pun memikat perhatian Komisaris Independen Pertamina Patra Niaga, Siti Zahra Aghnia, saat bertandang ke gerai perusahaan pada Minggu (2/8/2026).
Ia mengapresiasi keberhasilan mitra binaan dalam membuktikan bahwa penyandang disabilitas dan prinsip keberlanjutan mampu menghasilkan produk berdaya saing.
"Produk-produk ini memiliki nilai luar biasa karena memberdayakan kelompok hebat di masyarakat. Karya saudara-saudara kita penyandang disabilitas membuktikan mereka mampu menghasilkan produk berkualitas tinggi untuk kebutuhan sehari-hari," kata Siti Zahra.
Baca juga: Pertamina Perkuat Konservasi Penyu Malang Lewat Program Ibu Kota Penyu
Guna memperluas dampak positif tersebut, Siti Zahra mendorong manajemen untuk terus memperluas jangkauan pembinaan UMKM, khususnya di kawasan operasional perusahaan. Langkah ini dinilai strategis dalam memperkuat fondasi ekonomi nasional dari tingkat daerah.
Menanggapi hal tersebut, VP Community Involvement & Development (CID) Pertamina Patra Niaga, Dian Hapsari Firasati, menegaskan komitmennya untuk tidak sekadar memberikan bantuan modal atau pelatihan teknis semata.
"Pemberdayaan UMKM adalah soal membuka ruang yang adil dan inklusif bagi siapa saja, termasuk kelompok disabilitas dan lansia, agar mampu mandiri serta berdaya saing secara berkelanjutan," ujar Dian.
Secara terpisah, VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menjelaskan bahwa program pendampingan ini merupakan wujud nyata komitmen perusahaan dalam mendukung capaian Sustainable Development Goals (SDGs) serta program Asta Cita pemerintah terkait pembukaan lapangan kerja berkualitas.
Baca juga: PHE OSES Mulai CEOR Offshore Pertama di Indonesia, Bidik Kenaikan Produksi Minyak
"Kami ingin memastikan pertumbuhan ekonomi yang didorong perusahaan mampu menciptakan dampak berganda (multiplier effect), menciptakan lapangan kerja yang layak, dan menguatkan daya saing wirausaha lokal," tutur Kitty.
Pada ajang IFW 2026, Pertamina Patra Niaga memboyong total 11 UMKM mitra binaan dari berbagai daerah operasional, mulai dari Jawa Bagian Barat, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, hingga Sumatra.
Selain Narita Shibori dan Dara Baro, jajaran UMKM unggulan lain seperti Guns Leather, Ramiza Boutique, Vite, Dimas Batik, Meeta Fauzan, UD Tenun Sumber Rejeki, Jokotole, Besolek, hingga Mahacinta Jewelry turut memamerkan karya terbaik mereka.
Editor : Alim Kusuma