Selasa, 22 Sep 2026 11:36 WIB

Resep Kiai Imjaz Transformasi Manajemen Pesantren di Era Modern

Workshop Pesantren Rintisan yang digelar di Hotel Aston Cirebon, Jawa Barat, Minggu (20/9/2026). INPhoto/Riadi
Workshop Pesantren Rintisan yang digelar di Hotel Aston Cirebon, Jawa Barat, Minggu (20/9/2026). INPhoto/Riadi

CIREBON, INFONEWS.ID - Pesantren rintisan didorong untuk lebih adaptif menghadapi perubahan masyarakat dan tuntutan pendidikan di era modern. Penguatan manajemen kelembagaan, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), strategi komunikasi dan branding, serta integrasi ilmu agama dan ilmu umum dinilai menjadi bagian penting dalam pengembangan pesantren.

Dorongan tersebut mengemuka dalam Workshop Pesantren Rintisan yang digelar di Hotel Aston Cirebon, Jawa Barat, Minggu (20/9/2026). Kegiatan ini diikuti para pengasuh pesantren rintisan dari Jawa Tengah dan DIY serta menghadirkan sejumlah tokoh pesantren dan ulama.

Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli, dalam pemaparannya menekankan pentingnya kemampuan pesantren membaca perubahan dan mengambil keputusan secara adaptif.

Menurut Imam Jazuli, masih terdapat ruang yang sangat besar bagi pesantren untuk memperluas akses pendidikan. Ia menyebut sekitar 54 juta anak usia sekolah, sementara jumlah anak yang mengikuti pendidikan pesantren masih berada di kisaran 2,7 juta.

Angka tersebut, menurut Imam Jazuli, menunjukkan besarnya peluang yang dapat dikembangkan pesantren melalui pembenahan kelembagaan, kualitas pendidikan, serta kemampuan beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat.

“Peluang yang bisa direbut masih sangat luas. Kuncinya ada pada langkah adaptif terhadap perubahan zaman,” ujar Imam Jazuli.

Ia juga menekankan pentingnya kepemimpinan yang mampu mengambil keputusan secara cepat dan bertanggung jawab. Dalam konteks pesantren rintisan, menurut dia, keberanian melakukan pembenahan sejak awal menjadi salah satu faktor penting dalam membangun lembaga pendidikan yang dipercaya masyarakat.

Materi workshop mencakup sejumlah aspek pengelolaan kelembagaan, pembentukan dan penguatan organisasi, peningkatan kapasitas SDM, hingga strategi branding pesantren. Penguatan aspek-aspek tersebut diarahkan untuk membangun pesantren yang memiliki tata kelola lebih baik sekaligus mampu menjawab kebutuhan pendidikan masyarakat.

Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum

Penguatan manajemen juga diikuti dorongan agar pesantren memperluas cakupan keilmuan yang diberikan kepada santri.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Anwar Iskandar, dalam kegiatan tersebut menekankan pentingnya pesantren melahirkan generasi yang memiliki wawasan keilmuan luas. 

Menurutnya, pendidikan pesantren perlu memberikan ruang yang memadai bagi penguasaan ilmu agama sekaligus ilmu-ilmu yang dibutuhkan dalam kehidupan profesional dan pembangunan masyarakat.

Pesantren, lanjutnya, dapat membekali santri dengan berbagai bidang keilmuan, antara lain hukum, teknik, pertanian, dan disiplin ilmu lainnya.

Gagasan tersebut menempatkan pesantren tidak hanya sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem pendidikan yang mempersiapkan generasi muda untuk berkiprah di berbagai sektor.

Dengan pendekatan tersebut, lulusan pesantren diharapkan memiliki fondasi keagamaan yang kuat sekaligus kompetensi yang relevan dengan perkembangan zaman.

Selain penguatan manajemen, pengembangan pesantren juga ditekankan dari sisi spiritual. Ketua PBNU KH Ahmad Fahrur Rozi (Gus Fahrur) mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara ikhtiar teknis dalam mengelola lembaga dengan penguatan spiritual para pengasuh.

Menurutnya, pembangunan pesantren membutuhkan kerja keras, konsistensi, dan ketahanan spiritual agar proses pengembangan kelembagaan tidak kehilangan fondasi nilai-nilai keislaman.

Workshop tersebut merupakan bagian dari program Imam Jazuli Foundation yang menargetkan pengembangan dan pemberdayaan pengasuh pesantren rintisan hingga mencapai 10.000 pengasuh di berbagai wilayah Indonesia.

Rangkaian kegiatan juga diisi dengan penguatan spiritual melalui pengijazahan tirakat Dalailul Khairat bagi para peserta. Tradisi tersebut ditempatkan sebagai bagian dari ikhtiar spiritual para pengasuh dalam menjalankan amanah pengembangan pesantren.

Melalui kombinasi pembenahan tata kelola, peningkatan kualitas SDM, perluasan wawasan keilmuan, strategi komunikasi, dan penguatan spiritual, pesantren rintisan didorong untuk tumbuh sebagai lembaga pendidikan Islam yang adaptif sekaligus tetap berakar pada tradisi keislaman.

Editor : Alim Kusuma