SURABAYA, INFONEWS.ID - Tanjung Perak Jazz 2026 bersiap tampil dengan skala yang lebih besar. Festival musik yang lahir dari komunitas jazz kawasan pelabuhan tersebut kini menargetkan posisi sebagai salah satu ikon hiburan dan pariwisata Kota Surabaya.
Mengusung tagline "Jazz'no Suroboyo", penyelenggara menghadirkan sederet musisi ternama nasional seperti Mahalini, Sal Priadi, HIVI!, Fiersa Besari, Nadin Amizah, serta sejumlah nama lain yang akan diumumkan dalam waktu dekat.
CEO Tanjung Perak Jazz, Indah Kurnia, mengatakan perjalanan festival tersebut berawal dari kegiatan sederhana para pecinta jazz yang rutin berkumpul dan bermain musik bersama di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak.
Saat pertama kali digelar, jumlah penonton bahkan dibatasi sekitar 800 orang karena keterbatasan ruang dan konsep acara yang masih bersifat komunitas.
"Nama Tanjung Perak Jazz dipilih karena sejak awal kami ingin menghadirkan acara yang dekat dengan kawasan pelabuhan. Waktu itu tujuannya hanya berkumpul dan menikmati musik bersama, belum ada orientasi komersial," kata Indah saat konferensi pers Tanjung Perak Jazz 2026 di Omah Kurasi Surabaya, Minggu (21/6/2026).
Seiring waktu, festival berkembang dan sempat digelar di atas Kapal Dewaruci milik TNI AL. Namun akses yang berada di lingkungan militer membuat masyarakat umum tidak leluasa menghadiri acara tersebut.
Penyelenggara kemudian memindahkan lokasi ke Museum Pusat TNI AL yang mampu menampung lebih banyak penonton. Selain konser musik, festival juga membawa misi edukasi dengan memperkenalkan museum kepada pelajar dan tamu mancanegara melalui konsep pertunjukan yang terjangkau.
Memasuki penyelenggaraan 2026, Surabaya Expo Center dipilih sebagai lokasi baru. Venue tersebut dinilai mampu mengakomodasi jumlah pengunjung yang lebih besar sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi berbagai sektor usaha di Kota Pahlawan.
"Kami ingin komunitas jazz Surabaya semakin dikenal masyarakat luas. Festival ini diharapkan ikut menggerakkan ekonomi daerah, mulai dari hotel, transportasi, kuliner hingga pelaku UMKM," ujarnya.
Promotor Tanjung Perak Jazz 2026, Sinyo Devara, menyebut penyelenggara tengah membangun identitas kuat agar festival tersebut memiliki ciri khas yang mudah dikenali publik, seperti halnya festival-festival besar di kota lain.
Menurut dia, Tanjung Perak Jazz tidak sekadar menjadi panggung hiburan, melainkan representasi karakter Surabaya yang terbuka, kreatif, dan dinamis.
"Tanjung Perak Jazz harus punya tempat tersendiri di hati masyarakat Surabaya. Kami ingin festival ini tumbuh menjadi ikon kota yang dikenal secara nasional," ujar Sinyo.
Karakter lokal juga terlihat melalui identitas visual festival. Logo yang mengusung simbol Suro dan Boyo diperkuat dengan kehadiran maskot buaya bernama Cak Crocs. Sosok tersebut dirancang dengan karakter ramah, jenaka, dan dekat dengan masyarakat sebagai gambaran semangat Arek Suroboyo.
Meski tampil dengan kemasan yang lebih modern dan menghadirkan artis-artis populer, penyelenggara memastikan ruh komunitas tetap menjadi fondasi utama festival.
Dari sebuah pertemuan sederhana para musisi jazz di kawasan pelabuhan, Tanjung Perak Jazz kini bertransformasi menjadi festival yang tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga diharapkan mampu memperkuat citra Surabaya sebagai salah satu destinasi festival musik terbesar di Indonesia.
Editor : Alim Kusuma