Kamis, 06 Agu 2026 09:32 WIB

Ratusan Siswa SD Muhammadiyah 3 Ikrom Belajar Kelola Sampah dan Energi Terbarukan

Anak-anak SD Muhammadiyah 3 Ikrom belajar kelola sampah dan energi terbarukan di Kampung Edukasi Sampah, Sekardangan, Sidoarjo (IN/PHOTO: EDI)
Anak-anak SD Muhammadiyah 3 Ikrom belajar kelola sampah dan energi terbarukan di Kampung Edukasi Sampah, Sekardangan, Sidoarjo (IN/PHOTO: EDI)

SIDOARJO, INFONews.ID – Pembelajaran tentang lingkungan akan lebih membekas ketika anak-anak tidak hanya membaca dari buku, tetapi juga melihat, menyentuh, dan mempraktikkannya secara langsung. Semangat itulah yang mewarnai kegiatan Explorer Day yang diikuti 107 siswa kelas IV SD Muhammadiyah 3 Ikrom, Sidoarjo, di Kampung Edukasi Sampah (KES) Sekardangan, Rabu (5/8/2026).

Mengusung tema “Menjadi Ilmuwan Cilik Menjelajah Perubahan Energi dan Kelola Sampah demi Bumi”, kegiatan ini menghadirkan pengalaman belajar lintas mata pelajaran (LKPD Lintas Mapel) yang mengintegrasikan IPAS, Matematika, Bahasa Indonesia, Pancasila, dan Seni Rupa dalam satu pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning). Program tersebut merupakan bagian dari kegiatan sekolah untuk mengenalkan pengelolaan sampah dan perubahan energi kepada siswa sejak usia dini. 

Selama kegiatan, para siswa belajar langsung memilah sampah sesuai jenisnya, mengolah sampah organik menjadi kompos menggunakan berbagai metode seperti komposter aerob, keranjang Takakura, hingga pembuatan pupuk organik cair. Mereka juga diajak memahami bagaimana sampah anorganik dapat diolah menjadi berbagai produk kerajinan yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.

 

Tidak berhenti pada pengelolaan sampah, siswa juga dikenalkan dengan konsep perubahan energi yang dapat dijumpai di lingkungan sekitar. Mereka melihat bagaimana sinar matahari ditangkap panel surya untuk diubah menjadi energi listrik, serta bagaimana air limbah rumah tangga diolah melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sehingga dapat dimanfaatkan kembali untuk menyiram tanaman.

 

Dalam kesempatan tersebut Pegiat Lingkungan Kampung Edukasi Sampah Sekardangan, Edi Priyanto, menjelaskan bahwa pemanfaatan energi menjadi salah satu materi penting dalam kegiatan ini karena anak-anak perlu memahami bahwa sumber energi tidak hanya berasal dari bahan bakar fosil, tetapi juga tersedia melimpah di lingkungan sekitar.

“Kami ingin anak-anak menyadari bahwa alam telah menyediakan banyak sumber energi yang bisa dimanfaatkan secara bijak dan berkelanjutan. Di sini mereka belajar bagaimana sinar matahari diubah menjadi energi listrik melalui panel surya, bagaimana air limbah rumah tangga diproses melalui IPAL hingga dapat dimanfaatkan kembali untuk menyiram tanaman, bahkan bagaimana sampah organik diolah menjadi kompos yang mengembalikan unsur hara ke tanah. Dari sini mereka belajar bahwa hampir tidak ada yang benar-benar menjadi limbah apabila dikelola dengan ilmu pengetahuan dan kreativitas,” jelas Edi.

Menurutnya, pembelajaran mengenai perubahan energi akan lebih mudah dipahami ketika anak-anak melihat langsung prosesnya.

“Kami ingin membangun cara berpikir bahwa energi ada di sekitar kita. Matahari, air, maupun sampah dapat menjadi sumber manfaat apabila dikelola dengan benar. Harapannya, anak-anak tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya peduli terhadap lingkungan, tetapi juga mampu memanfaatkan sumber daya secara efisien dan menghadirkan solusi sederhana bagi keberlanjutan bumi,” tambahnya.

Salah satu guru pendamping SD Muhammadiyah 3 Ikrom, Dian Tri Anista, mengaku kagum dengan konsep pembelajaran yang diterapkan di Kampung Edukasi Sampah Sekardangan. Menurutnya, tempat tersebut layak menjadi role model pendidikan lingkungan karena mampu menggabungkan teori, praktik, dan pembentukan karakter dalam satu kegiatan yang menyenangkan.

“Kami sangat terkesan. Kampung Edukasi Sampah ini benar-benar menjadi contoh pembelajaran pilah dan olah sampah yang lengkap, bahkan sampai pada pemanfaatan energi terbarukan. Lingkungannya sangat bersih, sampah dikelola dengan baik, sehingga terasa nyaman. Rasanya siapa pun akan betah berada di tempat ini,” ungkap Dian.

Ia menjelaskan, siswa tidak hanya mendengarkan materi, tetapi benar-benar terlibat dalam setiap proses pembelajaran. Mereka belajar memilah sampah, membuat kompos dengan berbagai metode, mengenal pupuk organik cair, hingga mengolah sampah anorganik menjadi berbagai karya kreatif yang bernilai guna.

“Yang menarik, anak-anak juga belajar bahwa energi bisa dimanfaatkan dari lingkungan sekitar. Mereka melihat bagaimana air limbah diolah melalui IPAL hingga dapat digunakan kembali untuk menyiram tanaman, serta bagaimana sinar matahari ditangkap panel surya dan diubah menjadi energi listrik. Pembelajaran seperti ini membuat konsep sains menjadi nyata dan mudah dipahami anak-anak,” jelasnya.

Menurut Dian, metode pembelajaran berbasis praktik seperti ini jauh lebih efektif dibandingkan hanya belajar di dalam kelas.

“Anak-anak belajar dengan gembira karena mereka mengalami sendiri prosesnya. Saya yakin pengalaman hari ini akan menjadi bekal yang mereka ingat dan praktikkan di rumah maupun di sekolah. Semoga semakin banyak sekolah yang memanfaatkan Kampung Edukasi Sampah sebagai laboratorium pembelajaran lingkungan,” pungkasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Edi Priyanto juga menegaskan bahwa pendidikan lingkungan harus mampu menjawab pertanyaan mendasar anak-anak, bukan hanya mengajarkan apa yang harus dilakukan, tetapi juga mengapa hal itu penting.

“Kami ingin anak-anak memahami bahwa sampah bukan sekadar sesuatu yang dibuang. Jika tidak dipilah, sampah dapat menimbulkan pencemaran, penyakit, bahkan berkontribusi terhadap perubahan iklim. Sebaliknya, jika dikelola dengan benar, sampah bisa menjadi sumber daya yang bermanfaat. Ketika anak-anak memahami prosesnya secara langsung, kepedulian akan tumbuh menjadi kebiasaan,” ujarnya.

Menurutnya, pembelajaran berbasis pengalaman merupakan cara paling efektif untuk membangun karakter peduli lingkungan sejak dini.

“Harapan kami, setelah pulang dari sini mereka tidak hanya membawa pengetahuan, tetapi juga menjadi agen perubahan di rumah. Mulai dari membiasakan memilah sampah, mengolah sampah organik, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memanfaatkan energi secara bijak, hingga mengajak keluarga menerapkan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan,” tambahnya.

Melalui kegiatan Explorer Day, para siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga membangun karakter peduli lingkungan, semangat gotong royong, kreativitas, serta memahami bahwa sampah dan energi merupakan bagian dari satu ekosistem yang harus dikelola secara bijaksana.

Di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya timbulan sampah, pendidikan lingkungan berbasis pengalaman seperti yang diterapkan di Kampung Edukasi Sampah Sekardangan menjadi bukti bahwa membangun generasi yang peduli lingkungan dan sadar energi dapat dimulai sejak usia dini. Sebab, menjaga bumi bukan hanya tentang membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga tentang mengelola sampah sebagai sumber daya, memanfaatkan energi terbarukan yang tersedia di sekitar kita, serta membiasakan gaya hidup berkelanjutan demi masa depan bumi yang lebih baik. (*)

Editor : Tudji Martudji