Harta Karun 108 Cekungan Migas RI Menanti Sentuhan Teknologi Global

Oki Muraza, bersama Wilson Pariangan dalam sesi panel “Indonesia Untapped and Frontier Resources” pada Offshore Technology Conference (OTC) Houston. INPhoto/Pertamina
Oki Muraza, bersama Wilson Pariangan dalam sesi panel “Indonesia Untapped and Frontier Resources” pada Offshore Technology Conference (OTC) Houston. INPhoto/Pertamina

HOUSTON, iNFONews.ID - Pemerintah Indonesia menebar jaring investasi hulu migas di panggung dunia lewat ajang Offshore Technology Conference (OTC) 2026. 

Dalam forum bertajuk “Indonesia Untapped and Frontier Resources” di Houston, Amerika Serikat (5/5), delegasi Indonesia menyodorkan peluang eksplorasi pada ratusan blok migas yang belum tersentuh demi memperkuat ketahanan energi nasional.

Langkah agresif ini diambil saat Indonesia memiliki 128 cekungan migas, namun baru 20 cekungan yang masuk tahap produksi. Artinya, terdapat sekitar 84% area potensial yang masih menunggu suntikan modal dan teknologi mutakhir dari pemain global.

Menanti Eksekusi di 108 CekunganSenior Manager Oilfield Development SKK Migas, Wilson Pariangan, membeberkan angka yang cukup menggiurkan bagi para pemodal. Indonesia saat ini menyimpan cadangan minyak mencapai 2,7 miliar barel dan gas sebesar 39,35 TCF.

"Tersedia 158 blok migas yang siap dikelola. Kami menawarkan sistem yang lebih ramah bagi pelaku usaha serta tingkat kompetisi yang sehat," ujar Wilson di hadapan investor global.

Senada dengan hal itu, Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, menyatakan bahwa momentum saat ini merupakan waktu paling tepat bagi investor untuk masuk ke pasar Indonesia. Ia menjamin bahwa Indonesia bukan lagi sekadar bicara soal angka di atas kertas, melainkan pembuktian di lapangan.

"Kami adalah wajah peluang energi yang belum tergarap maksimal (frontier energy opportunity). Pertamina sudah menunjukkan hasil nyata, bukan sekadar janji," tegas Oki.

Bukti Keberhasilan EksplorasiSepanjang tahun 2025, Pertamina mencatatkan performa impresif dengan mengebor 20 sumur eksplorasi. Delapan di antaranya sukses menemukan cadangan baru. 

Angka keberhasilan ini didukung oleh penggunaan data seismik 2D sepanjang 2.931 km dan 3D seluas 855 $km^2$.Oki menjelaskan, selain area baru, investor bisa masuk ke proyek minim risiko (low risk) melalui optimalisasi lapangan eksisting. 

Penggunaan teknologi seperti Chemical EOR dan Thermal EOR di Blok Rokan terbukti mampu menahan laju penurunan produksi alami.

"Aset yang sudah ada masih punya nilai tinggi jika dipadukan dengan solusi teknologi tepat guna. Kami mengundang penyedia teknologi dari Amerika Serikat untuk tumbuh bersama di sini," tambahnya.

Diversifikasi ke Gas dan Carbon CaptureSelain minyak mentah, Indonesia tengah membangun interkoneksi infrastruktur gas yang menghubungkan Sumatera dan Jawa. Fokus lainnya adalah menjadikan Indonesia Timur sebagai lumbung pasokan gas nasional.

Di sisi lain, Indonesia juga menjual potensi energi bersih. Program Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) diproyeksikan bakal menjadi pusat layanan regional di Asia Tenggara. 

Ditambah lagi dengan potensi panas bumi (geotermal) raksasa sebesar 24 GW, Indonesia memposisikan diri sebagai pemimpin transisi energi di kawasan.

Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Susilo, memastikan pemerintah bakal mengawal investasi ini melalui kepastian hukum dan perbaikan regulasi secara berkelanjutan. 

Kolaborasi strategis seperti pada proyek Abadi Masela menjadi bukti nyata bahwa Indonesia kian terbuka bagi kemitraan internasional yang transparan dan saling menguntungkan.

Editor : Alim Kusuma