Senin, 20 Apr 2026 14:32 WIB

Muslimat NU Kirim Pesan Damai ke PBB, Khofifah: Setop Perang Sekarang!

Perayaan Harlah ke-80 Muslimat NU tersebut melahirkan deklarasi sembilan poin yang lahir dari keresahan atas konflik bersenjata di berbagai belahan dunia. INPhoto/FJN
Perayaan Harlah ke-80 Muslimat NU tersebut melahirkan deklarasi sembilan poin yang lahir dari keresahan atas konflik bersenjata di berbagai belahan dunia. INPhoto/FJN

BANDUNG, iNFONews.ID - Ribuan perempuan berseragam hijau mengubah suasana Masjid Raya Al Jabbar menjadi panggung diplomasi internasional, Sabtu (18/4). Di bawah arahan Khofifah Indar Parawansa, Muslimat NU meluncurkan gerakan kemanusiaan yang menyasar langsung markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Perayaan Harlah ke-80 Muslimat NU tersebut melahirkan deklarasi sembilan poin yang lahir dari keresahan atas konflik bersenjata di berbagai belahan dunia. Khofifah menyatakan bahwa organisasi yang dipimpinnya kini bertransformasi menjadi kekuatan moral global, melampaui peran tradisional di ruang pengajian.

"Surat ini merupakan seruan kolektif agar PBB berkomitmen penuh menghentikan perang dan mewujudkan perdamaian abadi," ujar Khofifah di hadapan ribuan jemaah.

Poin utama deklarasi tersebut menuntut gencatan senjata tanpa pengecualian. Muslimat NU menilai jalur diplomasi harus segera diintensifkan guna mengakhiri pertumpahan darah. Khofifah melihat perempuan dan anak-anak selalu menanggung beban terberat dalam setiap letusan konflik.

Selain penghentian kontak senjata, dokumen tersebut mendesak jaminan keamanan bagi kelompok rentan. Lansia, perempuan, serta anak-anak wajib mendapatkan proteksi dari kekerasan fisik maupun seksual di zona perang.

Organisasi ini juga menuntut PBB menjamin keselamatan tenaga medis dan fasilitas publik. Rumah sakit serta sekolah tidak boleh lagi menjadi sasaran serangan militer yang tidak bertanggung jawab.

Libatkan Perempuan dalam Negosiasi Menariknya, naskah deklarasi tersebut mendorong pelibatan aktif perempuan dalam meja perundingan. Khofifah memandang perempuan bukan sekadar korban, melainkan aktor kunci dalam rekonsiliasi dan pembangunan kembali peradaban pascakonflik.

"Kami memiliki 136 profesor dalam asosiasi ini. Kapasitas intelektual tersebut menjadi modal besar untuk memberi dampak pada diplomasi internasional," tambah Gubernur Jawa Timur tersebut.

Khofifah memastikan surat pernyataan ini akan terkirim secara digital ke markas PBB dan dikomunikasikan melalui jaringan organisasi perempuan internasional. Ia juga mengusulkan program rehabilitasi psikososial bagi korban trauma perang sebagai prioritas badan dunia.

Meski menyuarakan isu global, akar pemberdayaan anggota tetap terjaga. Muslimat NU memperkuat kolaborasi dengan Bank Syariah Indonesia (BSI) untuk urusan perencanaan haji hingga investasi emas.

Acara yang dihadiri Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj ini ditutup dengan apresiasi Khofifah bagi keluarga anggota. Menurutnya, izin dan dukungan suami merupakan fondasi utama yang memungkinkan energi ribuan perempuan ini meluap menjadi kekuatan besar demi kemanusiaan universal.

Editor : Alim Kusuma