GSNI Blitar Raya Gembleng Gen Z Jadi Pelajar Berkarakter Pancasila

Pembekalan dilakukan melalui Diklat Dasar (Diksar) yang digelar di Pendopo Sasana Adhi Praja, Kabupaten Blitar, Minggu (4/10/2026). INPhoto/Bintang Putra
Pembekalan dilakukan melalui Diklat Dasar (Diksar) yang digelar di Pendopo Sasana Adhi Praja, Kabupaten Blitar, Minggu (4/10/2026). INPhoto/Bintang Putra

BLITAR - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI) Blitar Raya membekali generasi Z (Gen Z) dengan nilai nasionalisme, karakter Pancasila, hingga keterampilan menghadapi tantangan era digital.

Pembekalan dilakukan melalui Diklat Dasar (Diksar) yang digelar di Pendopo Sasana Adhi Praja, Kabupaten Blitar, Minggu (4/10/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 07.00 WIB itu mengusung tema “Membentuk Pelajar Nasionalis dan Berkarakter Pancasila”.

Diksar dirancang sebagai ruang kaderisasi sekaligus pembinaan pelajar. Peserta tidak hanya mendapatkan materi mengenai sejarah perjuangan bangsa dan organisasi, tetapi juga diajak memahami persoalan yang dekat dengan kehidupan Gen Z, seperti kesehatan mental, perundungan, dinamika ekonomi digital, hingga penggunaan media sosial.

Materi organisasi menjadi pembuka kegiatan. Aryo Bimo Soebagio menjelaskan sejarah GSNI yang berdiri pada 2 Januari 1959 melalui fusi Gerakan Siswa Nasional dan Ikatan Pelajar Nasional Indonesia.

Sebagai organisasi perjuangan pelajar yang independen, GSNI berlandaskan Pancasila 1 Juni, Marhaenisme, dan Sosio-Nasionalisme. Peserta juga diperkenalkan dengan empat pilar perjuangan organisasi, yakni mengawal Pancasila dan UUD 1945, membangun kesadaran nasional, memperjuangkan kesetaraan akses pendidikan, serta membentuk pelajar yang kritis dan kreatif.

Persoalan kesehatan mental dan perundungan turut menjadi perhatian. Putri Cinta Mei, S.Sos., M.A.P., mengaitkan pemikiran Bung Karno dalam buku Sarinah (1947) dengan tantangan psikologis yang dihadapi remaja saat ini.

Materi disampaikan secara interaktif melalui permainan, kegiatan writing healing bertajuk “Surat untuk Sarinah”, hingga tantangan tujuh hari anti-perundungan.

Putri menekankan pentingnya menghentikan kebiasaan menghambat potensi diri maupun orang lain. Menurut dia, menjaga kesehatan mental juga merupakan bentuk perjuangan generasi muda pada masa kini.

Pembahasan kemudian bergeser pada relevansi Marhaenisme di tengah perubahan ekonomi digital. Rangga Bisma Aditya, S.Sosio., M.H., menjelaskan bahwa gagasan Marhaenisme tetap dapat digunakan untuk membaca persoalan sosial yang dihadapi Gen Z.

Sosok “Marhaen” pada era digital, kata dia, dapat tercermin dari pekerja gig economy, kurir digital, hingga kreator muda yang memiliki perangkat kerja sendiri, tetapi tetap menghadapi kerentanan dalam sistem ekonomi.

Karena itu, kader GSNI didorong membangun solidaritas, semangat kooperatif, sekaligus kemandirian dalam berkarya.

Materi nasionalisme dan patriotisme disampaikan Joko Pramono, S.Pd. Ia mengingatkan peserta agar membedakan nasionalisme yang sehat dari chauvinisme maupun sektarianisme.

Joko juga memperkenalkan konsep RODINDA (Roda Induk Dinamika Batin) serta tiga pilar rohani pejuang, yakni soul, logic, dan heart. Nilai tersebut dipadukan dengan falsafah Jawa “Sedumuk batuk, senyari bumi” sebagai gambaran komitmen menjaga kehormatan tanah air dan nilai kemanusiaan.

Sementara itu, M. Abdur Roziqin mengajak peserta memahami perjalanan sejarah Pancasila hingga pengesahannya pada 18 Agustus 1945. Ia menekankan bahwa kekuatan Pancasila terletak pada kemampuannya menjadi perekat masyarakat yang beragam.

Bagi pelajar, pengamalan Pancasila tidak berhenti pada pemahaman teori. Nilai tersebut dapat diterapkan melalui tindakan sederhana di ruang digital, mulai dari melawan cyberbullying, tidak menyebarkan hoaks, hingga membangun budaya gotong royong.

Diksar juga membekali peserta dengan keterampilan menghadapi perubahan. Sonya Setia Negara menyoroti pentingnya penguasaan empat keterampilan utama atau 4C, yakni communication, collaboration, critical thinking, dan creativity.

Kemampuan mengelola media sosial secara bijak juga dinilai penting agar generasi muda mampu mengambil peran dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

Haikal Sabil Amarah kemudian membedah strategi gerakan siswa menggunakan prinsip POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling). Kerangka tersebut diharapkan membuat aktivitas organisasi lebih terarah dan menghasilkan dampak konkret bagi masyarakat.

Bagi peserta, rangkaian Diksar tidak hanya menjadi forum pembelajaran organisasi, tetapi juga proses membangun perspektif dan keberanian untuk terlibat dalam persoalan sosial.

Salah satu peserta, Putri Perwitasari, menilai materi yang diberikan membantunya melihat isu sosial dan kebangsaan secara lebih kritis sekaligus empatik.

“Bagi saya, Diksar ini bukan hanya kegiatan seremonial atau formalitas belaka, melainkan ruang nyata untuk membentuk kesadaran, keberanian, serta karakter kader. Melalui pembedahan materi dari para pemateri, kami diajarkan untuk tidak hanya aktif berorganisasi, tetapi juga memiliki intelektual, solidaritas, dan kepedulian pada sesama serta kepentingan rakyat,” ujar Putri.

Peserta lainnya, Dhaul Dhani, menilai Diksar memperluas pemahamannya mengenai makna patriotisme bagi Gen Z. Menurut dia, patriotisme pada masa kini tidak selalu diwujudkan melalui perjuangan fisik.

“Di zaman sekarang, patriotisme tidak selalu tentang mengangkat senjata, tetapi tentang berani peduli, berani menyuarakan kebenaran, menghargai perbedaan, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” kata Dhaul.

Ia berharap pengalaman selama Diksar dapat menjadi titik awal bagi peserta untuk tumbuh sebagai generasi muda yang matang, kritis, berkarakter, dan siap mengambil peran di tengah masyarakat.

“Seperti Gatotkaca yang keluar dari Kawah Candradimuka, kami berharap melalui Diksar ini kami bisa tumbuh menjadi pemuda yang lebih matang, kritis, berkarakter, dan siap mengambil peran nyata untuk bangsa,” ujarnya.

Editor : Alim Kusuma