INGAT obrolan di grup chat mahasiswa UI yang sempat ramai beberapa waktu lalu?
Andai obrolan itu terjadi di grup chat mahasiswa putri, dan yang dijadikan objek obrolan “kurang senonoh” adalah mahasiswa pria, akankah peristiwa itu akan dianggap pelecehan?
Baca juga: Untung Juga Kagak, Ngapain Bikin Orang Marah
Dalam banyak kasus pelecehan, khususnya pelecehan seksual, pelaku biasanya memang cowok dan korbannya cewek. Jarang sekali kita dengar cewek disebut melakukan pelecehan seksual terhadap cowok.
Kalaupun peristiwa itu terjadi, cowok yang jadi korban sepertinya akan “gengsi” mengaku telah dilecehkan.
Cewek yang jadi korban pelecehan sebetulnya bukan tidak mungkin juga “malu” mengakui telah dilecehkan.
Bedanya, dalam kasus begini, orang yang tahu peristiwa tersebut sangat mungkin dengan mudah akan “memvonis” telah terjadi pelecehan.
Sebaliknya, bila korbannya cowok, orang yang melihat bisa jadi tidak menganggapnya pelecehan.
Padahal, pemilik telepon pintar yang suka nonton drama pendek Tiongkok sangat mungkin sering menemukan adegan begitu.
Seorang cewek, sengaja atau tidak, jatuh menimpa cowok dalam posisi tangan si cewek di dada si cowok.
Seperti refleks, si cewek lantas meremas dada si cowok. Bahkan, sering si cewek lantas menyentuh perut si cowok juga.
Atau, si cewek tanpa sengaja melihat seorang cowok dengan baju terbuka, memperlihatkan dada dan perut. Entah pura-pura atau betulan tersipu, si cewek bergumam tentang otot dada dan “perut delapan bungkus” si cowok.
(Dalam drama seperti ini, otot perut six pack biasa diterjemahkan menjadi perut enam bungkus. Tapi, seringnya mereka menyebut eight pact, delapan bungkus, bukan six pack).
Saya tidak tahu adegan seperti itu dimaksudkan sebagai sindiran atau memanfaatkan celah hukum. Kalau sindiran, adegan itu sepertinya hendak bilang, “Soal hasrat menyentuh, cewek dan cowok bisa jadi sebetulnya sama.”
Kalau maksudnya memanfaatkan celah hukum, bukankah cewek menyentuh dada atau perut cowok biasanya tidak dianggap melanggar hukum?
Bahkan, sepertinya tidak banyak juga yang menganggap adegan begitu tidak etis.
Baca juga: Jangan-Jangan Rakyat pun Ada yang Kandung dan Tiri
Padahal, kalau kita nonton film Disclosure, pelecehan seksual kadang bukan sekadar urusan cewek atau cowok.
Dalam film yang dibintangi Michael Douglas dan Demi Moore tersebut, karyawan cewek melaporkan rekan sekantornya yang cowok dengan tuduhan pelecehan seksual.
Namun, laporan itu kandas, Bahkan, si cewek digugat balik dalam kasus yang sama. Alasannya, si cewek adalah atasan si karyawan cowok.
Sepertinya, film ini hendak mengatakan bahwa pelecahan seksual bisa saja berkaitan dengan relasi kuasa. Pelecehan bisa terjadi karena pelakunya lebih berkuasa daripada korban, tidak peduli apa jenis kelaminnya.
Gagasan begitu, mungkin, tidak umum di telinga kita. Tapi, menganggapnya sama sekali mustahil rasanya juga terlalu gegabah.
Kalau kasus pelecehan seksual umumnya menempatkan cowok sebagai pelaku dan cewek sebagai korban, bukankah salah satu alasannya adalah karena si cowok dianggap “lebih berkuasa” daripada cewek? Paling tidak, cowok dianggap lebih berkuasa dari sisi kekuatan fisik.
Bukankah itu pula alasannya kenapa orang tidak menyebutnya pelecehan ketika cewek mencolek atau menyentuh cowok?
Baca juga: Bersuara Beda, Haruskah Dianggap Dosa?
Mereka mungkin menganggap, dengan kekuatan lebih besar, si cowok bisa dengan mudah menghindar, atau bahkan melawan si cewek.
Jadi, kalau si cewek bisa “menyentuh” si cowok, orang langsung menganggap si cowok memang mau. Dan, kalau “korban” mau, namanya tentu bukan pelecehan. Itu mau sama mau.
Tapi, bagaimana bila si cewek adalah juara taekwondo dan si cowok mahasiswa biasa? Atau, bagaimana kalau si cewek direktur sebuah perusahaan dan si cowok karyawan yang beberapa level di bawahnya?
Anda mungkin bilang, kalau si cowok karyawan rendahan dan si cewek direktur, masa iya dia tidak mau? Pemikiran begitu, tentu, bisa dimengerti.
Tapi, bagaimana bila si cowok sudah berkeluarga dan kasus tersebut merusak hubungannya dengan sang istri, anak-anak, bahkan sahabat-sahabatnya?
Akhirnya, coba searching data laki-laki korban pelecehan seksual. Anda mungkin akan terkejut melihat angka yang muncul.
Penulis: Soeparli D. Atmadji
Mantan wartawan
Pengamat dan penyuka film
Editor : Alim Kusuma