Dari Film Sword of Destiny

Jangan-Jangan Rakyat pun Ada yang Kandung dan Tiri

infonews.id
Foto ilustrasi/Gemini

Oleh: Soeparli D. Atmadji
Mantan Wartawan
Pengamat dan Penyuka Film

“He, dia juga rakyatku.” Bisa membayangkan makna kalimat ini? Sulit? Yang jelas, saya teringat kalimat tersebut saat mendengar ramai-ramai tagar “Kabur aja dulu!” beberapa waktu lalu. 

Baca juga: Bersuara Beda, Haruskah Dianggap Dosa?

Lho, apa hubungannya? Jaka Sembung ya? Enggak juga sih. Meski mungkin nggak nyambung-nyambung amat, ada kok kaitannya. Mari kita lihat.

Saya menemukan kalimat tersebut dalam film Sword of Destiny. Bukan,  ini bukan Sword of Destiny sekuel Crouching Tiger Hidden Dragon yang dirilis 2016 dan dibintangi Donnie Yen serta Michelle Yeoh. 

Sekuel yang dibikin 16 tahun setelah Crouching Tiger itu masih diputar di Netflix sekarang dengan judul Crouching Tiger Hiden dragon: Sword of Destiny.

Tapi, bukan film itu yang kita omongin. Sword of Destiny yang kita omongin kali ini karya sutradara Lu Yu Xi, dirilis 2021, dan dibintangi Eric Hsiao, Yang Yi, serta Wenjie Wu. Di sana ada adagen seorang pendekar mengawal seorang pangeran kembali ke ibu kota untuk mengambil alih tahta. 

Saat mereka makan di sebuah rumah makan di sebuah desa, pemilik rumah makan itu diserang perampok dan dipaksa ikut, meninggalkan anaknya yang masih kecil. Melihat itu, sang pendekar berniat mengejar. Namun, sang pangeran mencegah. 

Dia tanya, “Mau apa?”  Si pendekar dengan gagah menjawab, “Mereka penjahat. Saya akan kejar dan bunuh mereka semua.”  Di luar dugaan, sang pangeran bilang, “He, mereka juga rakyatku.”

Dengan situasi begitu, seharusnya tidak sulit lagi memaknai kalimat di awal tulisan ini. Sang pangeran, 
sepertinya, tetap dengan nada datar mengakui para perampok itu sebagai “rakyatku” sekalipun mereka melakukan kejahatan. 

Sebaliknya, sang pendekar, yang mestinya juga diakui sebagai “rakyatku” oleh sang pangeran, dengan mudah memvonis para perampok itu jahat, bahkan siap menjatuhkan hukuman mati. 

Apakah itu berarti sang pangeran membenarkan si perampok dan tidak merasa perlu menghukum mereka? Tidak sesederhana itu, mestinya. Sang pangeran, sepertinya, hanya tidak mau orang yang dia akui sebagai “rakyatku” itu dihukum, apalagi dibunuh, tanpa proses peradilan. 

Baca juga: Beri Khalayak Apa yang Mereka Mau, Haruskah?

Film ini berlatar zaman baheula, zaman negara kerajaan, zaman pemimpin sebuah negara diwariskan, bukan dipilih. Nah, apakah karena itu, apakah karena lahir dari keluarga pemimpin dan nantinya mewarisi posisi pemimpin juga, sang pangeran lantas menganggap semua warga sebagai rakyatnya? 

Kalau begitu, apakah pemimpin sekarang tidak lagi begitu? Apakah, karena posisi pemimpin diperoleh dari pemilihan, pemimpin sekarang hanya mengakui pemilihnya sebagai “rakyatku” sementara yang tidak memilihnya tidak diakui? 

Sepertinya kok tidak juga. Paling tidak, bukankah kita sering membaca berita betapa pemimpin sebuah negara berusaha “memulangkan” warganya yang melakukan kejahatan dengan acaman hukuman mati di negara lain? 

Upaya itu, tentu, bukan berarti sang pemimpin membenarkan kejahatan warganya. Hanya saja, dia tentu tidak mau “rakyat”-nya mungkin diperlakukan tidak proporsional di negara lain. Jadi, meski dia melakukan kejahatan, sang pemimpin tetap berusaha memulangkannya. Biarlah dia diadili di negeri sendiri.

Sebaliknya, bukankah tidak pernah ada berita bahwa, dalam situasi tersebut, seorang pemimpin justru bilang, “Ya udah, hukum mati aja langsung!” 

Baca juga: Faktual, Aktual, Sepadankah?

Saya tiba-tiba teringat dialog antara sang pangeran dan pendekar yang mengawalnya dalam film Sword of Destiny tersebut saat mendengar ramai-ramai tagar “Kabur aja dulu!” beberapa waktu lalu. 

Bukan apa-apa. Saya merasa aneh aja ada seorang pemimpin menanggapi tagar “Kabur Aja Dulu” itu dengan bilang, “Ya udah, gak usah balik aja sekalian!” 

Warga yang melakukan kejahatan di negara lain aja diupayakan untuk dipulangkan agar bisa diadili di negeri sendiri. Bukankah aneh kalau warga yang tidak melakukan kejahatan dan baru “berniat” kabur sudah diminta tidak usah balik?

Ada yang bilang, pemimpin itu “bapak” bagi rakyat yang dipimpinnya. Dengan konteks ini, bukankah ungkapan “tidak usah pulang aja sekalian” itu jadi terasa aneh? Atau, jangan-jangan ada pemimpin yang menganggap sebagian rakyatnya sebagai anak kandung dan sebagian lainnya anak tiri? Kita berharap tidak, tentu saja. 

 

Editor : Alim Kusuma

Photo
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru