Kasus DBD Meningkat, Cuaca Ekstrem Jadi Pemicu Utama

Reporter : Ali Masduki
Pakar UNAIR menyebut cuaca ekstrem dan perubahan iklim memicu lonjakan kasus DBD. Inovasi Wolbachia dan vaksinasi dinilai menjadi solusi. INPhoto: Ilustrasi/Gemini

SURABAYA, INFONEWS.ID - Peringatan Hari Demam Berdarah Dengue (DBD) ASEAN menjadi pengingat meningkatnya ancaman penyakit yang masih membayangi negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Perubahan iklim dan cuaca ekstrem disebut menjadi faktor utama yang mempercepat penyebaran virus dengue dalam beberapa tahun terakhir.

Pakar imunologi Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Agung Dwi Wahyu Widodo, mengatakan kenaikan suhu udara, tingginya curah hujan, serta musim hujan yang berlangsung lebih panjang menciptakan kondisi ideal bagi perkembangan nyamuk Aedes aegypti sebagai pembawa virus dengue.

Baca juga: Bukan Cuma KPR, BTN Kini Bidik Literasi Keuangan Mahasiswa UNAIR

“Kondisi iklim dan cuaca ekstrem yang terjadi di kawasan ASEAN, terutama Indonesia, berdampak cukup kuat terhadap peningkatan kasus DBD. Daerah jelajah nyamuk menjadi lebih luas, usia nyamuk lebih panjang, dan mereka tidak mudah mati,” ujarnya.

Menurut Agung, perubahan pola cuaca membuat risiko penularan DBD semakin sulit diprediksi. Wilayah yang sebelumnya tidak termasuk daerah rawan kini berpotensi mengalami peningkatan kasus akibat perubahan habitat nyamuk.

Nyamuk Ber-Wolbachia Jadi Terobosan

Di tengah meningkatnya ancaman DBD, dunia kesehatan terus mengembangkan berbagai inovasi untuk mengendalikan penyebaran penyakit tersebut. Salah satu pendekatan yang dinilai menjanjikan adalah pemanfaatan nyamuk ber-Wolbachia.

Agung menjelaskan Wolbachia merupakan bakteri alami yang hidup bersimbiosis dengan serangga Aedes. Ketika nyamuk terinfeksi Wolbachia, kemampuan virus dengue untuk berkembang di dalam tubuh nyamuk menjadi sangat terbatas.

“Wolbachia mengaktifkan sistem imun nyamuk sehingga tidak mudah terinfeksi virus dengue. Kemampuan nyamuk untuk menularkan virus juga berkurang,” katanya.

Selain menghambat penularan virus, Wolbachia juga memengaruhi proses reproduksi nyamuk. Nyamuk jantan yang membawa bakteri tersebut dapat menyebabkan telur hasil perkawinan dengan betina tanpa Wolbachia gagal menetas.

Keberhasilan teknologi itu telah terlihat di Yogyakarta. Program pelepasan nyamuk ber-Wolbachia dilaporkan mampu menurunkan kasus DBD hingga 77 persen sekaligus mengurangi angka rawat inap secara signifikan.

Baca juga: Pakar UNAIR Ingatkan Teknik Kurban Minim Stres pada Hewan

Gejala DBD Kian Beragam

Agung mengingatkan bahwa dampak infeksi dengue tidak lagi terbatas pada penurunan trombosit dan gangguan pembuluh darah. Sejumlah penelitian menunjukkan virus dengue dapat menyerang organ lain dengan manifestasi yang lebih kompleks.

Menurutnya, infeksi dengue dapat memicu peningkatan enzim hati dalam jumlah tinggi. Pada kasus tertentu, terutama pada anak-anak, virus bahkan dapat menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan ensefalitis atau peradangan otak.

“Beberapa penelitian menemukan adanya kasus dengue yang langsung menginfeksi sistem saraf anak sehingga menimbulkan gejala neurologis yang serius,” ujarnya.

Vaksin dan Edukasi Harus Berjalan Bersamaan

Baca juga: Harga Tiket Domestik Melambung, Dosen UNAIR Soroti Ancaman bagi Wisata Lokal

Untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat DBD, Agung menilai strategi pengendalian tidak bisa bertumpu pada satu metode saja. Pengembangan vaksin tetap diperlukan dengan syarat mampu memberikan perlindungan tanpa memicu reaksi Antibody Dependent Enhancement (ADE).

Ia juga mendorong kombinasi antara inovasi Wolbachia, pengendalian vektor secara konvensional, serta peningkatan edukasi masyarakat.

“Edukasi tidak boleh berhenti pada 3M Plus. Masyarakat juga perlu memahami deteksi dini gejala DBD dan pentingnya tata laksana yang terintegrasi mulai dari puskesmas hingga rumah sakit rujukan,” katanya.

Agung menilai peringatan Hari DBD ASEAN harus menjadi momentum memperkuat kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, peneliti, dan masyarakat. Dengan cuaca yang semakin tidak menentu, kewaspadaan dan inovasi menjadi kunci untuk menekan penyebaran penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia.

Editor : Alim Kusuma

Photo
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru