Banyak Teman di Media Sosial, Mengapa Masih Merasa Kesepian?

Reporter : Ali Masduki
Di balik ramainya interaksi digital, banyak orang justru mengalami kesepian dan kehilangan kedalaman hubungan sosial. INPhoto: Ilustrasi/AI

SURABAYA, iNFONews.ID - Memiliki ratusan bahkan ribuan teman di media sosial tidak selalu membuat seseorang merasa dekat dengan orang lain. Di balik ramainya interaksi digital, banyak orang justru mengalami kesepian dan kehilangan kedalaman hubungan sosial.

Fenomena tersebut menjadi sorotan dalam peringatan Hari Persahabatan Nasional yang diperingati setiap 8 Juni. Pakar Sosiologi Universitas Airlangga (Unair), Nur Syamsiyah, menilai perkembangan teknologi komunikasi telah mengubah cara masyarakat membangun dan memelihara pertemanan.

Baca juga: Faktual, Aktual, Sepadankah?

Menurutnya, hubungan yang dahulu dibangun melalui komunikasi intens dan kedekatan emosional kini semakin banyak bergeser ke ruang digital yang serba instan.

"Jika sebelumnya pertemanan dibangun melalui komunikasi yang dekat dan memiliki ikatan emosional timbal balik, sekarang sering kali hanya sebatas melihat unggahan, memberikan tanda suka, atau hadir secara visual di media sosial," ujarnya, Senin (8/6/2026).

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair tersebut menilai kondisi itu melahirkan paradoks baru. Jaringan sosial seseorang memang semakin luas, tetapi kualitas hubungan yang dimiliki justru menurun.

Akibatnya, tidak sedikit orang yang terlihat aktif berinteraksi di dunia maya namun merasa sendiri dalam kehidupan nyata.

"Banyak orang memiliki ratusan teman di media sosial, tetapi tetap merasa kesepian. Jaringan pertemanannya luas, namun hubungan yang terjalin cenderung dangkal karena tidak dibangun secara mendalam," katanya.

Syamsiyah juga menyoroti peran algoritma media sosial yang dinilai ikut mengubah pola komunikasi antarindividu. Berbagai notifikasi otomatis yang mendorong pengguna berinteraksi membuat hubungan sosial sering berlangsung secara mekanis, bukan karena inisiatif pribadi.

"Kita sering mendapat notifikasi untuk mengucapkan selamat kepada teman atau merespons aktivitas tertentu. Interaksi seperti itu menunjukkan bahwa ruang komunikasi organik semakin berkurang karena ada sistem yang mengatur pola interaksi pengguna," jelasnya.

Fenomena Ghosting

Selain perubahan pola komunikasi, Syamsiyah menilai fenomena ghosting atau memutus komunikasi secara sepihak semakin sering terjadi, terutama di kalangan generasi muda.

Baca juga: UNAIR Jadi Penutup Roadshow Creative Workshop JNE 2026, Mahasiswa Diajak Ubah Ide Jadi Karya Bernilai

Menurutnya, kondisi tersebut tidak selalu disebabkan konflik. Perubahan lingkungan, pergaulan, hingga cara pandang hidup sering membuat seseorang menjauh dari lingkaran pertemanan lama.

"Saat seseorang memasuki fase kehidupan yang berbeda, tidak lagi memiliki frekuensi yang sama dengan teman-temannya, rasa canggung bisa muncul. Itu merupakan bagian dari dinamika sosial yang wajar," ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kebiasaan menghilang tanpa penjelasan bukan cara yang sehat untuk mengakhiri hubungan.

Banyak anak muda memilih memutus komunikasi dengan alasan kelelahan sosial atau hubungan yang dianggap tidak lagi nyaman, tanpa memberikan penjelasan kepada pihak lain.

Padahal, menurut Syamsiyah, persahabatan memiliki fungsi penting sebagai modal sosial sekaligus penopang kesehatan mental.

Baca juga: Bahasa Inggris Jadi Mapel Wajib SD, Begini Kata Pengamat!

Komunikasi yang Jelas

Dalam menjaga hubungan pertemanan, Syamsiyah menilai kualitas komunikasi jauh lebih penting dibanding frekuensi komunikasi.

Ia menyebut hubungan pertemanan tidak harus selalu diwarnai percakapan setiap hari. Yang terpenting adalah adanya kejelasan mengenai harapan dan komitmen masing-masing pihak.

"Investasi terbesar dalam sebuah persahabatan adalah komunikasi yang jelas. Sampaikan kepada sahabat bahwa meski tidak selalu berkomunikasi setiap hari, kita tetap hadir ketika dibutuhkan. Dengan begitu hubungan akan tetap berfungsi secara sosial dan emosional," katanya.

Di tengah dominasi media sosial dan komunikasi serba cepat, Syamsiyah mengajak masyarakat untuk kembali membangun hubungan yang lebih bermakna. Sebab, esensi persahabatan bukan terletak pada jumlah koneksi yang dimiliki, melainkan pada kualitas hubungan yang mampu memberikan rasa saling mendukung dan memahami.

Editor : Alim Kusuma

Photo
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru