Oleh: Rizal Haqiqi
(Alumni UINSA Surabaya)
PADA suatu siang di Agustus 2022, di tengah badai kasus korupsi yang menjerat Bendahara Umum PBNU, Mardani H. Maming, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menunjuk sosok yang relatif muda sebagai pelaksana tugas bendahara umum.
Baca juga: Mengenal Gus Awis, Figur Muda yang Dinilai Layak Pimpin PBNU
Namanya Gudfan Arif Ghofur, pengusaha tambang dan minyak asal Lamongan yang kala itu menjabat sebagai salah satu bendahara PBNU.
Penunjukan tersebut segera memunculkan tanda tanya di kalangan warga nahdliyin: mampukah figur muda ini memikul amanah yang selama ini identik dengan kiai sepuh dan politisi senior?
Tiga tahun kemudian, pertanyaan itu mulai bergeser. Menjelang akhir masa khidmah PBNU 2022–2027, nama Gus Gudfan, sapaan akrabnya, justru semakin sering dibicarakan dalam forum-forum strategis NU, obrolan pesantren, hingga grup WhatsApp para kiai muda. Spekulasi pun bermunculan: mungkinkah ia melangkah lebih jauh menuju kursi Ketua Umum PBNU?
Untuk memahami peluang tersebut, ada tiga aspek penting yang perlu dibaca secara utuh: garis keturunannya yang tersambung kepada dua wali besar, jalan spiritualnya sebagai pengamal tarekat, serta kapasitas manajerialnya yang teruji di dunia usaha dan organisasi. Kombinasi semacam ini bukan sesuatu yang lazim ditemukan dalam lanskap NU modern.
Dari Pesantren ke Lingkar Strategis PBNU
Gudfan Arif Ghofur lahir dan besar di lingkungan Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan, Jawa Timur. Ayahnya, KH Abdul Ghofur, dikenal sebagai ulama sekaligus penggerak ekonomi umat yang dianugerahi Bintang Mahaputera Utama oleh Presiden Joko Widodo.
Dari sang ayah, Gus Gudfan tidak hanya mewarisi darah pesantren, tetapi juga semangat kemandirian dan keberpihakan pada masyarakat kecil.
Pendidikan dasarnya ditempuh di Lamongan sebelum melanjutkan ke Pondok Pesantren Manbaul Ma’arif Denanyar, Jombang. Ia kemudian menyelesaikan studi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Darul Ulum Jombang. Perpaduan pendidikan pesantren dan pendidikan modern inilah yang membentuk fondasi intelektual sekaligus sosialnya.
Karier organisasinya di NU dimulai dari level bawah. Ia pernah menjabat Bendahara PP Pagar Nusa, Bendahara RMI PWNU Jawa Timur, hingga penasihat GP Ansor Jawa Timur.
Pada Muktamar NU 2022, ia dipercaya menjadi salah satu bendahara PBNU, sebelum akhirnya ditunjuk sebagai Plt Bendahara Umum dan kemudian dikukuhkan secara definitif.
Di luar organisasi, Gus Gudfan dikenal sebagai pengusaha dengan jaringan bisnis di sektor minyak dan gas, petrokimia, teknologi informasi, serta pertambangan batu bara. Aktivitas usahanya tersebar di berbagai kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, Bali, hingga Cilegon.
Kapasitas inilah yang membuat Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf mempercayainya mengelola tambang batu bara milik NU pasca-terbitnya PP Nomor 25 Tahun 2024 tentang izin usaha pertambangan khusus bagi ormas keagamaan.
“Gus Gudfan adalah representasi santri entrepreneur. Ia memahami kitab kuning sekaligus mengerti manajemen keuangan modern,” ujar seorang aktivis muda NU.
Warisan Sunan Drajat dan Sunan Giri
Dari jalur ayah, Gus Gudfan tercatat sebagai keturunan ke-16 Sunan Drajat, salah satu anggota Wali Songo yang dikenal dengan ajaran sosialnya. Sunan Drajat mengajarkan Islam yang hadir dalam persoalan konkret masyarakat melalui nilai-nilai kepedulian sosial dan pemberdayaan umat.
Spirit itu tampak diterjemahkan oleh KH Abdul Ghofur melalui pengembangan ekonomi pesantren. Pondok Pesantren Sunan Drajat kini tidak hanya menjadi pusat pendidikan ribuan santri, tetapi juga memiliki jaringan usaha besar mulai dari toserba, produksi garam, air minum kemasan, hingga media penyiaran lokal.
“Saya dibesarkan dalam lingkungan yang mengajarkan bahwa agama harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Gus Gudfan dalam suatu kesempatan.
Sementara dari jalur ibu, ia juga memiliki garis keturunan Sunan Giri, wali besar yang dikenal sebagai ulama, negarawan, sekaligus pendidik. Sunan Giri membangun pusat pendidikan Islam di Gresik yang menjadi rujukan kerajaan-kerajaan Nusantara. Ia juga dikenal memadukan dakwah dengan pendekatan budaya dan seni.
Baca juga: Menyongsong Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35: Membincang Peluang, Menghitung Suara
Perpaduan dua garis keturunan ini memberi simbolisme yang kuat. Sunan Drajat melambangkan Islam sosial dan kerakyatan, sedangkan Sunan Giri merepresentasikan intelektualitas dan kepemimpinan. Banyak kalangan melihat Gus Gudfan mewarisi keduanya sekaligus.
Tarekat dan Jalan Spiritual
Satu aspek lain yang memperkuat profil Gus Gudfan adalah kedekatannya dengan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Di tengah kesibukannya sebagai pengusaha dan organisatoris, ia tetap aktif menjalani amalan tarekat seperti suluk dan khalwat.
Tarekat ini dikenal menekankan dzikir khafi atau dzikir dalam hati, dengan orientasi pada pengendalian diri dan kesadaran spiritual yang mendalam. Dalam tradisi NU, keterhubungan dengan jaringan tarekat memberikan legitimasi moral sekaligus spiritual yang kuat.
Menurut sejumlah pengamat, pengamalan tarekat membentuk stabilitas emosional, keteguhan etika, dan ketenangan dalam menghadapi tekanan politik organisasi. Selain itu, jaringan tarekat juga menjadi basis sosial yang loyal di lingkungan nahdliyin.
Peluang Menuju Kursi Ketua Umum PBNU
Pertanyaan yang kini muncul adalah: apakah Gus Gudfan memiliki peluang menjadi Ketua Umum PBNU?
Secara tradisional, Ketua Umum PBNU biasanya berasal dari figur kiai dengan basis pesantren yang kuat dan otoritas keilmuan yang mapan. Nama-nama seperti KH Abdurrahman Wahid, KH Hasyim Muzadi, dan KH Said Aqil Siradj merupakan contoh figur dengan kharisma pesantren yang besar.
Gus Gudfan menawarkan model kepemimpinan yang berbeda. Ia bukan hanya tumbuh di lingkungan pesantren, tetapi juga memiliki pengalaman manajerial modern dan jejaring bisnis yang luas.
Ia mewakili generasi baru NU yang mencoba memadukan tradisi pesantren dengan profesionalisme organisasi dan kemandirian ekonomi.
Baca juga: Muktamar NU: ABUKTOR Asal Bukan Koruptor
Menurut sejumlah pengamat, NU abad kedua membutuhkan pemimpin dengan karakter “hybrid”: memiliki akar spiritual yang kuat sekaligus memahami tantangan modernitas, digitalisasi, dan ekonomi global. Dalam konteks itu, nama Gus Gudfan mulai diperhitungkan.
Namun jalannya tentu tidak mudah. Politik internal NU sangat dipengaruhi oleh konsolidasi kiai sepuh, dukungan pesantren besar, dan dinamika menjelang muktamar. Restu para ulama senior tetap menjadi faktor paling menentukan.
Penutup
Dalam sebuah kesempatan, Gus Gudfan pernah mengatakan bahwa dirinya tidak pernah bercita-cita mengejar jabatan tertentu. Ia hanya ingin melanjutkan perjuangan ayah dan leluhurnya. Pernyataan itu terdengar sederhana, tetapi sekaligus menunjukkan kesadaran akan tanggung jawab sejarah yang dipikulnya.
NU hari ini berada di persimpangan besar antara menjaga tradisi dan menghadapi modernitas. Organisasi ini membutuhkan figur yang mampu menjaga akar spiritual pesantren sekaligus membawa NU menjawab tantangan zaman.
Dengan warisan Sunan Drajat dan Sunan Giri, kedekatannya dengan tradisi tarekat, serta pengalamannya di dunia usaha dan organisasi, Gus Gudfan menjadi representasi generasi baru NU yang berusaha mencari titik temu antara tradisi dan perubahan.
Apakah ia benar-benar akan melangkah menuju pucuk pimpinan PBNU, hanya waktu dan dinamika muktamar yang akan menjawab.
Namun satu hal yang pasti, kemunculan namanya telah membuka diskusi penting tentang arah kepemimpinan NU di abad kedua: memelihara tradisi lama yang baik, sekaligus mengambil hal-hal baru yang lebih baik.
Wallahu a’lam bi al-shawab.
Editor : Alim Kusuma